Jualan Radikalisme dan Tewasnya Abu Bakar Al-Baghdadi

Oleh: M. Azzam Al Fatih

Susunan kabinet presiden dan wakil presiden terlantik di negeri ini telah selesai. Namun sampai saat ini masih menjadi sorotan tokoh agama, politikus dan rakyat, pasalnya susunan ini dinilai tidak lazim dan terkesan ada campur tangan pihak asing. Seperti yang kita ketahui bahwa terdapat lima jendral menduduki jabatan kursi menteri. Di mana kelima jabatan ini saling keterkaitan. Menteri dalam negeri yang dijabat mantan Kapolri, menteri agama jendral Fahrurrozi, menteri pertahanan jendral Prabowo, Luhut Binsar Panjaitan yang masih menjabat sebagai menteri kemaritiman dan investasi. Juga ada muldoko yang menjabat kepala staf presiden.

Dilihat dari susunan tersebut, sangat nampak bahwa ada keterlibatan si tuannya demi kepentingan. Apalagi saat ini isu radikalisme dihembuskan diawal – awal kepemimpinanya. Dimulai dari Mahfud MD dan menteri agama fahrurrozi. Keduanya membangun narasi seolah – olah radikalisme merupakan sumber masalah di negeri ini. hal inipun dipertegas oleh pernyataan presiden yang akan memerangi radikalisme.

Anehnya, rezim menyatakan perang terhadap radikalisme, tetapi terhadap pemberontak di papua yang telah membunuh 32 warga muslim secara sadis dan tidak manusiawi, serta beberapa anggota TNI yang gugur disana. mereka diam seribu bahasa, seolah – olah tidak terjadi sesuatu. Tetapi terhadap muslim yang hanya berusaha menjalankan Islam secara kaffah agar menjadi orang yang bertakwa. Mereka memusuhi dan mencap radikal bahkan para ulama dikriminalisasi. Padahal, sedikit pun tidak melakukan kekerasan. karena memang dalam ajaran Islam tidak mengajarkan kekerasan apalagi sampai menghilangkan nyawa orang seenaknya.

Tapi namanya rezim dungu, tetap ngotot dan membabi-buta untuk terus membangun narasi radikal. Sampai dikaitkan dengan ajaran khilafah, ayat dan hadist yang sensitif hingga melarang para ustadz untuk menyampaikan kata kafir di dalam masjid. Sungguh nampak sekali bahwa rezim ini menunjukkan kebencian terhadap Islam dan pengemban dakwahnya.

Sekarang, kalian akan saya ajak terbang ke negeri lain, tempat asal muasal Genderang kebencian di awali, Amerika serikat. Yaa , Amerika yang pertama kali menggonggong ujaran kebencian dengan tujuan menghancurkan negeri – negeri muslim untuk melanggengkan penjajahanya. Masih teringat kasus WTC pada tanggal 11 september 2001, kasus pemboman gedung putih yang menurut mereka dilakukan oleh jaringan Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Walaupun tragedi tersebut merupakan sandiwara Amerika sendiri. Berawal dari kasus itulah Amerika serikat menabuh perang melawan teroris. Diawal – awal memang Irak yang dihancurkan karena memang Osama bin Laden tinggal di Irak. Yang kemudian perang melawan terorisme melebar ke Afghanistan, Syuriah dan merata ke seluruh negeri – negeri muslim, semua dengan dalih melawan terorisme.

Tabuh genderang terus mereka gaungkan sebagai langkah menghalang – halangi tegaknya daulah Khilafah Islamiyyah. Kaum kafir tau betul, tatkala khilafah tegak akan menghancurkan kekuatan adidaya mereka sekaligus mengganti sistem penjajah yang meraka terapkan, yakni demokrasi. Sehingga kaum kafir bersusah payah untuk memghalang – halanginya. Setelah Al Qaida dianggap tak laku, akhirnya mereka menciptakan ISIS, (islamic state Iraq and suriah). untuk mencitra burukkan Khilafah. Seolah – olah Khilafah identik dengan kekerasan. Namun lambat laun perang melawan terorisme dengan menggunakan isu ISIS tidak laku. Kemudian isu ISIS akan diakhiri dengan membuat cerita terbunuhnya pemimpin ISIS, Abu bakar Al Baghdadi secara mendadak.

Pertanyaannya, apakah ada kaitan antara isu kematian Abu bakar Al Baghdadi dengan digaungkannya perang melawan Radikalisme di negeri ini, mengingat isu terorisme sudah tidak laku lagi?

Bisa jadi iya, sebab kekhawatiran akan tegaknya khilafah selalu menghantui negeri kafir penjajah. Oleh karenanya, segala sesuatu dilakukan untuk menghambat laju para pejuangnya melalui antek – anteknya, termasuk rezim di negeri ini. Mulut oarang- orang munafikun pun mendadak menjadi tajam dalam sekejap. Memfitnah pejuang dakwah, menkriminalisasi ulama, sampai membuat narasi seolah – olah pengemban dakwah penyebar radikalisme. Padahal itu semua hanya untuk membungkam pejuang dakwah dalam rangka menghambat derasnya ide khilafah di tengah – tengah umat bahkan sebagian besar umat merasa sudah memilikinya. Sebagaimana Panji Al Liwa dan Ar Roya sudah menjadi milik umat.

Melihat situasi perkembangan dakwah di negeri ini, maka kafir yang dikomandoni Amerika serikat berusaha menjauhkan Khilafah dari umatnya dengan menggodok isu radikal yang dinilai lebih laku daripada isu terorisme.

Gaung inipun disambut oleh orang – orang munafikun yang tergila – gila oleh harta dan jabatan.
Apalagi menjadi sasaran proyek yang empuk diawal – awal kepemimpinanya, untuk mengemis anggaran yang fantastis. Wallahu’Alam Bhishowwab.

Olehkarena itu wahai pejuang dakwah, jangan mundur dan lawan isu radikalisme dengan menjelaskan kepada umat bahwa islam sedikitpun tidak mengajarkan tindakan kekerasan apalagi menghilangkan nyawa seseorang seenaknya. Justru Islam melindungi dan menjamin kehidupan setiap individu. Karena Islam diturunkan ke bumi untuk membawa Rahmat bagi semesta Alam. Dan hal ini terwujud manakala diterapkanya hukum Islam secara kaffah dalam institusi daulah Khilafah Islamiyyah.

Wahai pejuang dakwah, jangan mundur sebab musuh – musuh Islam akan terus membabi buta, menjadikan umat Islam sebagai santapanya karena didalam hatinya tertanam kebencian terhadap Islam. Teruslah berjuang sampai Allah memanggil kita dan semoga pertolongan Allah SWT segera datang.
Kini hanya dua pilihan bagi kita, Hidup mulia atau mati syahid. Dan sebaik – baik kematian adalah mati dalam menegakkan agama Allah SWT. Semoga kita dikumpulkan dalam jannahNYA. Aamiin. []

Wallahu’Alam Bhishowwab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *