Jokowi Tak Berpikir Lockdown, Potret Penguasa Tidak Tegas dan Sigap Urus Negara

Oleh: Devi Rahma Dona-(Pegiat Opini Ideologis Lubuklinggau)

Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan tak berpikir untuk melakukan kebijakan lockdown atau menghentikan total pergerakan manusia. Beberapa negara telah menerapkan lockdown untuk mencegah penyebaran virus.

“Tidak ada kita berpikir ke arah kebijakan lockdown,” tegas Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana, Senin (16/3/2020).

Jokowi menggarisbawahi pemerintah saat ini berupaya mengurangi mobilitas orang dari satu tempat ke tempat lain, menjaga jarak dan mengurangi kerumunan orang yang membawa risiko besar penyebaran COVID-19.

Anggota Dewan Penasihat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) Tutum Rahanta, mengatakan lockdown tak bisa jadi pilihan begitu saja, karena harus mempertimbangkan solusi dari dampaknya.

“Bagaimana impact-nya, bagi saudara kita yang nggak ada kerja, terutama bagi orang yang biasa mendapat rezeki dari keramaian,” kata Tutum kepada CNBC Indonesia.

Selain itu, menurut Tutum kebijakan lockdownharus benar-benar dipersiapkan, karena konsekuensi saat banyak orang tak bisa keluar rumah maka segala kebutuhan pokok harus tetap tersedia. Ia mencontohkan kebijakanlockdown yang terjadi di Kota Wuhan, asal mula virus corona.

“Kalau di China dilakukan lockdown, setiap orang tak boleh keluar rumah, supermarket tetap tersedia hanya 2 hari sekali dijatah. Lalu pemerintah membuat dapur umum yang disediakan, lalu pemerintah harus beri subsidi bagi pemberi kerja saat lockdown terjadi. Apakah kita tak mampu? tak mampu,” kata Tutum.
17 Maret 2020 07:34 (https://www.cnbcindonesia.com/news/20200316211948-4-145360/jokowi-tak-berpikir-lockdown-pilihan-ini-memang-berat-pak)

Abainya penguasa terhadap keselamatan dan kesehatan rakyatnya terlihat dari galaunya pemerintah terhadap keputusan apakah akan melakukan lockdown atau tidak, meski saat ini lebih condong pada kta tidak. Sebab resiko yang harus diambil cuku berat di mata pemerintah. Padahal SDA kita melimpah ruah, logikanya cukuplah unyuk membiayai kebutuhan seperti sandang, pangan untuk masyarakat. Namun berhubung SDA kita dikelola oleh negara Asing maka ini menjadi masalah. Maka dari awal Islam telah sampaikan bahwasanya SDA itu milik umat, milik rakyat yang tak boleh dikuasai atau diserahkan pada individu atau swasta apalagi negara luar. Sebab rakyatlah yang akan menuai deritanya.

Terlebih lagi urusan kerja sama dan kepentingan di balik layar yang tak rakyat ketahui yang membuat pemerintah berat melakukan lockdown. Karena mesti membiarkan asing bebas masuk keluar negara kita.

Beginilah rasanya hidup dalam sistem demokrasi kapitalis sekuler, yang selalu mencari kesempatan dibalik kesusahan dan kepanikan rakyat. Alih-alih memfasilitasi secara Cuma-Cuma kebutuhan rakyat, justru yang terjadi adalah kapitalisasi besar-besaran (belajar dari kasus masker)
Untung dan rugi masih jadi standar nomor satu meski korbannya nyawa rakyat.

Solusi Islam terhadap pencegahan dan penanggulangan wabah, Agar tak terjadi penyebaran virus yang semakin meluas, maka yang harus dilakukan oleh masyarakat ialah menjaga diir untuk tak banyak melakukan aktivitas di luar rumah. Tentu ini butih kerja sama yang baik antar sesama. Terutama Pemerintah yang harus tegas dan digap ambil keputusan, Karena kalau tidak, akan masih banyak orang-orang yang keluar rumah karena kengeyelannya dalam menyikapi pandemi virus Covid-19 ini.

Patut ditegaskan, semua upaya dan ikhtiar itu dilakukan tanpa mengurangi sedikit pun keyakinan tentang qadha dan qadar Allah Swt. Juga keyakinan tidak ada satu pun yang menimpa di bumi ini kecuali dengan seizin-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ
Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah (QS al-Taghabun [64]: 11).

Sebuah tindakan yang juga diperintahkan oleh syariah. Ini juga bukan karena kita pengecut karena dianggap lebih takut kepada virus yang hanya makhluk daripada kepada Allah Swt. Sama sekali tidak. Sebab, secara sunnatullah, virus itu memang membahayakan manusia. Sebagaimana bahayanya tertabrak mobil, terjatuh ke jurang, tersetrum listrik, terkaman binatang buas, dan sebagainya. Dalam menghadapi semua bahaya itu, diperintahkan untuk menghindarinya. Syara’ juga
memerintahkan ini. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda:

« فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ »
Jauhilah penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari kejaran singa (HR Ahmad).

Perlu ditegaskan bahwa kita tidak boleh takut berlebihan, apalagi stres, sebab, itu justru bisa melemahan daya tahan tubuh kita. Namun kita juga tidak boleh meremehkan dan menganggap enteng. Yang harus kita lakukan adalah meningkatkan kehati-hatian dan kewaspadaan dan itu termasuk ikhtiar, di sisi lain tawakkal kepada Allah senantiasa dilakukan.

[Kebijakan khilafah di masa lampau dalam menangani wabah]

Dahulu saat Daulah Islam terkena wabah berbahaya, Khalifah menerapkan lockdown atas wilayah yang terkena wabah tersebut, misalnya saja pada masa Khalifah Umar bin Khattab, saat wilayah Syam terkena wabah beliau mengumpulkan para sahabat untuk dimintai pendapat. Hingga Abdurrahman bin ‘Auf mengingatkan beliau atas perintah nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)
Sehingga pada saat itu Umar memutuskan untuk mengkarantina (lockdown) wilayah Syam, dan tidak boleh ada yang memasuki wilayah tersebut. Namun, bukan berarti Umar membiarkan penduduk Syam mati ditelan wabah tanpa penanganan lebih lanjut. Umar bin Khattab tak henti-hentinya memberikan bantuan berupa penyediaan sandang dan pangan yang cukup bagi penduduk di wilayah terkena wabah. Bahkan Umar pun membatasi makanan nya karena teringat-ingat dengan rakyat yang menjadi amanah beliau dunia akhirat.
Begitupun Indonesia harusnya mampu melakukan lockdown. Diiringi dengan kepedulian dan tanggung jawab pemerintah dalam membiayai dan memastikan kebutuhan yang harus dipenuhi pada setiap wilayah, mengingat angka kemiskinan masih banyak di beberapa titik dan masih meningkat pada awal 2020. Sebab jika lockdown memang resikonya harus begitu, karena ada banyak masyarakat yang bergantung hidupnya pada pekerjaan yang tak pasti pendapatannya.

[Betapa lemahnya manusia, sehingga tak layak untuk membangkang dari syariah-Nya]. Melalui virus Covi-19 ini Allah hendak mengingatkan kita semua, bahwa kita tak bisa lari dari pengawasannya barang satu detik pun. Kepada siapa kita hendak mengadu dan bersandar kalau bukan pada Rabb Semesta Alam. Virus yang mengintai dan menakutkan, hendaknya seperti itulah kita dalam menjadikan Allah dan malaikat-Nya sebagai pengawas dalam hidup kita.

Begitu pula dalam menjalani berbagai aktivitas sehari-hari, berkehidupan dan bernegara. Kita yang telah melalaikan aturanNya dan membangkang pada syariahNya, serta berpaling dari sitem Islam yang telah Rasulullah contohkan haruslah segera menyadari lalu kemudian mencampakkan sistem saat ini yang telah mengangkangi aturan Allah, sebagai sebaik-baiknya hukum.

Pada akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah Swt agar kita semua dilindungi dari wabah ini dan semua marabahaya, sembari terus menjaga diri dan mendoakan penguasa agar kembali pada aturan Allah yang Maha Kuasa, yang memiliki solusi atas segala masalah, dan mengatur segala perkara. Inilah Islam, sebagai sebuah agama dan ideologi yang mempunyai segala tata aturan dalam semua lini kehidupan.
Masihkah kita tak percaya bahwa Islam adalah jalan hifup yang sempurna ?!

Terakhir marilah kita sama-sama berdoa:
اللهم جنبنا الوباء وارفعه عنا إنك أنت اللطيف الخبير.
“Ya Allah, jauhkanlah kami dari wabah ini dan angkatlah wabah itu dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Lembut dan Maha Teliti”

Wa Allahu ‘Alam Bishawwab”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *