Jejak Khilafah di Nusantara yang Terlupakan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Layli Hawa (Aktivis Dakwah, Pemerhati Sosial)

Riuh negatif kata khilafah masih menghinggapi masyarakat di negeri ini. Persepsi negatif bahkan menjurus deskriminasi masih membeku dalam benak masyarakat, akibat oknum tertentu yang mencegah kebenaran opini khilafah.

Siapapun yang mengusung opini khilafah, dianggap radikalis dan bertentangan dengan nilai pancasialis. Padahal khilafah adalah ajaran Islam dan terbentuk untuk menerapkan aturan Islam.

Kebenaran terkait kekhilafahan rupanya bukan sekedar sejarah yang pernah ada di negeri-negeri arab. Namun khilafah pernah tumbuh subur di beberapa wilayah di Indonesia. Diantaranya Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Tual dan Papua. Termasuk di kawasan Aceh Islam pernah hidup dibawah naungan khilafah sekitar 1000 tahun, yaitu sejak berdirinya Kesultanan Perlak sampai runtuhnya Kesultanan Aceh.

Pada saat itu, keberadaan Khilafah Islam, terutama ke-Khilafahan Islam Utsmaniyah yang berpusat di Istanbul, Turki, tidak bisa diabaikan dalam membantu Kesultanan-kesultanan Islam dalam mengusir para penjajah dari bumi Nusantara. Ini pula yang menjadikan masyarakat terpompa semangat perlawanan, jihad fii sabilillah, dan berhasil mengusir kaum penjajah Portugis, VOC, Belanda, Inggris hingga Jepang.

Islam juga telah memberikan spirit kepada Nusantara dan kaum Muslim yang hidup didalamnya dalam mewarnai dan membangun karakter masyarakat Indonesia. Islampun berhasil mengeluarkan masyarakat Nusantara dari kegelapan, dari penyembahan kepada berhala dan dewa-dewa menuju penyembahan terhadap Allah SWT yang Esa, serta membebaskan dari belenggu kesukuan dan kebangsaan menuju kesatuan masyarakat yang diikat oleh akidah Islam dan Ukhuwah Islamiyah.
Islam pula mengajarkan masyarakat Indonesia tentang wajibnya bersatu dalam satu kekuasaan politik Islam, yaitu Khilafah.

Maka tidak ayal, perkembangan Islam di Indonesia tidak lepas dari andil Sembilan Wali atau yang kita sebut Wali Songo. Terutama di tanah Jawa. Yang berhasil membangun pondasi kuat masyarakat yang akhirnya terbentuk Kesultanan Demak dan Kesultanan Giri. Bahkan daerah Giri, Gresik, Jawa Timur menjadi pusat perngkaderan dakwah yang mencetak pendakwah-pendakwah untuk dikirim ke wilayah Timur Indonesia lainnya.

Keberhasilan kesultanan dan kesunanan di Nusantara seharusnya membuka mata dan hati kita, bahwa Khilafah Islam berhasil membentuk karakter ke-Islaman masyarakat yang khas. Seperti di Kesunanan Keraton Surakarta, yang masih melaksanan upacara keraton yang mencerminkan sifat Islami, yaitu ‘garebeg’ sebagai peringatan besar dalam hari-hari tertentu, contohnya Maulud Nabi, Tahun Baru Hijriyah, dan Hari Raya.

Keharmonisan pola integrasi agama Islam di pedalaman Jawa juga dapat dilihat dari pandangan masyarakat Jawa terhadap para wali dan kyai penganjur agama Islam. Mereka tidak saja dianggap sebagai penyebar agama, melainkan juga dianggap sebagai penjaga budaya. Masyarakat Jawa bahkan meyakini wayang dan gamelan merupakan puncak budaya Jawa dan karya para Wali Songo.

Hingga pada saatnya, keruntuhan Khilafah Islam Turki Utsmani oleh pengkhianatan Kemal Ataturk akibat konspirasinya dengan Inggris berhasil mengubur segala syariat dan sejarah Islam. Upaya menegakkan kembali intitusi Negara Khilafahpun terus dilakukan, bahkan Ulama-ulama Indonesia juga berpartisipasi aktif, seperti HOS Tjokroaminoto (Central Sarekat Islam) dan KH. Mas Mansur (Muhammadiyah) dan Haji Agus Salim (Sarekat Islam) melakukan berbagai Muktamar dan Kongres lokal hingga menghadiri Muktamar Khilafah Internasional di Kairo dan Mekkah pada tahun 1926-1928.

Perjuangan terus berlanjut hingga menjelang kemerdekaan. Saat itu terjadi perdebatan sengit antara pejuang Islam yang menghendaki berdirinya Negara Islam, dengan kalangan sekuler yang dipimpin para intelektual hasil didikan penjajah Belandayang menolak penyatuan agama dengan negara. Hingga akhirnya yang terjadi adalah jalan tengah (kompromi) dengan lahirnya Piagam Jakarta 22 Juni 1945.

Meski sempat mendapat penolakan dari Ki Bagus Hadikusumo, pimpinan Muhammadiyah atas isi Piagam Jakarta tersebut, namun jejak pemahaman dan aturan Islam yang pernah ada, semakin mengikis kian harinya. Terbukti dari tercampurnya budaya dan karakter Islam telah terwarnai dengan pemahaman sekulerisme yang makin menguat dibenak umat Islam Nusantara.

Inilah sekilas gambaran nyata, bukti dan jejak Khilafah pernah tumbuh subur di tanah Indonesia. Yang perlu diyakini sekarang adalah itu, Islam telah menyebar luas diseluruh penjuru hingga ke negeri kita. Namun, masyarakat justru menganggap Khilafah adalah opini radikal dan menyesatkan. Sehingga berbagai ketakutan terhadap Khilafah Islam telah menjauhkan masyarakat dari cara pikir dan cara sikap Islam. []LH

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.