Jawaban Tepat untuk Permasalahan dari Dampak Pandemi

Oleh : Yauma Bunga Yusyananda

Sejak 16 Maret 2020, berbagai lembaga mulai melakukan physical distancing termasuk universitas dan sekolah. Hingga 30 April 2020 sudah terhitung kurang lebih 7 pekan, orang-orang dipaksa untuk melakukan semua aktivitasnya di rumah saja. Dihimbau untuk tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak.

Walaupun, tidak semua orang mampu stay at home dengan jangka waktu yang cukup lama. Karena ada keluarga yang harus tetap dihidupi. Khususnya para tulang punggung keluarga yang pekerjaannya tidak bisa Work From Home (WFH), mereka sejatinya bertarung nyawa dengan bersikap tidak peduli dengan kondisi diluar rumah terkait Corona.

Bermodalkan semangat untuk menghidupi diri, menghidupi keluarga, dengan masker seadanya, mereka tetap keluar mencari nafkah. Walau sudah banyak info dan kabar masuk ke telinga, mereka percaya bahwa diam di rumah tidak menjamin kehidupan mereka, mereka bisa mati karena kelaparan akibat tidak terpenuhinya kebutuhan mereka.

Dan begitulah fakta yang terjadi di tengah masyarakat. Di Serang, Banten, satu keluarga dengan 4 orang anak mengalami kabar duka. Bapak yang profesinya pengangkut sampah di tengah pandemi harus mendapati kabar istrinya sempat pingsan, dan meninggal dunia dikarenakan menahan lapar selama dua hari dan hanya minum air galon saja. (banten.suara.com)

Siapapun tidak ada yang menginginkan kondisi wabah ini terus berlanjut, namun kita juga sebagai masyarakat harus menjaga kehidupan kita agar tetap sehat dan selamat. Selain wabah pandemi yang menyerang kita diluar, ada kebutuhan yang harus tetap terpenuhi di dalam rumah.

Masyarakat berpikir keras bagaimana untuk memenuhi kebutuhan pokok ditengah ancaman PHK karena perusahaan tempat mereka bekerja mulai menurun tingkat perekonomiannya. Ditambah lagi, kesehatan pun harus selalu dijaga ditengah wabah ini.

Beban masyarakat ditambah lagi dengan dibebaskannya 38.822 narapidana oleh Kemenkumham melalui program asimilasi dan integritas dengan dalih sebagai pencegahan penyebaran covid-19 ini.

Kehilangan rasa aman di tengah masyarakat pun mulai terjadi, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Yusri Yunus, mengatakan tingkat kejahatan saat PSBB Jakarta memang lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019. Menurut dia, ada pergeseran kejahatan dimana aksi pencurian minimarket jadi lebih dominan. Namun, kenyataanya tidak hanya aksi pencurian di minimarket tetapi ada juga tawuran yang terjadi padahal sedang dalam kondisi pemabatasan sosial berskala besar (PSBB), dan yang melakukan tawuran tersebut adalah usia pelajar sekitar 17 s.d 19 tahun, yang kita sama-sama ketahui jika sekolah dipindahkan ke rumah. Namun, aksi mereka tetap saja membuat orang-orang yang sudah sangat sabar dirumahkan karena PSBB seolah sia-sia. (fokus.tempo.co)

Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Reza Indragiri menyoroti program asimilasi narapidana yang dilakukan pemerintah, Reza berpendapat bahwa pemerintah melakukan tersebut karena berpikir melakukan physical distancing di rumah tahanan yang sudah sangat banyak sekali narapidana terbilang cukup beresiko dan rumit. Namun, membebaskan narapidana juga akan menimbulkan masalah yang lebih rumit lagi di masyarakat. Yaitu merajalelanya tingkat kriminalitas, hal ini dibuktikan dengan riset yang dikemukakan bahwa para bekas narapidana di amerika mendominasi tingkat kejahatan sebanyak 45%. Hal tersebut bisa dijadikan sample bahwa narapidana tidak sepenuhnya memiliki tingkat residivis rendah. (cnnindonesia.com)

Mulai dari perekonomian yang mencakup pemenuhan kebutuhan pokok dan lapangan pekerjaan, rasa aman dari kriminalitas dan layanan kesehatan. Semua itu, perlu penanganan yang komprehensif, tidak sekedar kerja keras untuk menyelesaikan permasalahan namun dibutuhkan kerja cerdas yang bukan berasal dari perdebatan antar manusia yang saling bertentangan akan sebuah solusi permasalahan. Kita harus memahami fakta secara mendetail lalu mengkaitkannya dengan hukum yang sangat memahami manusia. Yaitu hukum dari Pencipta, karena dengan hukum tersebut manusia tidak bisa merasa paling benar diatas segalanya. Krisis ekonomi, kelaparan, pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran, program-program yang meresahkan dan membingungkan masyarakat tidak akan terjadi jika kita memahami penanganan wabah sejak awal yaitu melockdown sumber wabah dan membatasi orang-orang yang berasal dari sumber wabah tersebut. Serta masyarakat yang tidak berada di sumber wabah untuk tidak pergi menuju sumber wabah tersebut. Hal ini merupakan kaidah yang diatur oleh hukum sang Pencipta melalui Rasulullah SAW sebagai uswah hasanah, serta yang diterapkah oleh Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab.

“Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka jika sedari awal kita sudah taat dengan hukum Allah, sebagai Sang Pencipta dan Pengatur alam, dan tidak meremehkan COVID-19, penyebaran wabah ini bisa jadi tidak membuat dunia merasakan krisis. Dari Covid-19 kita diminta untuk bermuhasabah, agar pasca wabah bisa menerapkan apa yang Allah inginkan bukan egois untuk berkuasa tanpa adanya pengurusan masyarakat.

Sudah seharusnya kita segera menerapkan hukum Allah agar bumi selaras dengan titah pencipta Nya bukan berdasarkan kendali kepentingan para elite global yang dengan halus ataupun langsung membuat dunia ini semakin rusak. Disamping kita meyakini, takdir dan keputusan Allah untuk menjadikan Corona ini sebagai pandemi dunia, namun kita juga perlu berjanji pada Nya jika wabah telah usai, apakah kita masih mengingat Allah dan menginginkan hukum Allah untuk diterapkan secara keseluruhan dalam segala aspek kehidupan ? Karena hanya Allah yang mengerti kita sebagai makhlukNya, yang pantas menghukumi kita dengan aturan Nya yang berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah serta hanya Allah yang mampu mengangkat wabah ini. Wallohu’alam bi ash shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *