Jangan Jahilyahkan Indonesia dengan 1000 Sajen

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Carminih, S. E

 

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman suku, budaya, bahasa, adat istiadat, dan agama. Sehingga, untuk menjaga keharmonisan keanekaragaman ini hendaklah di sikapi dengan bijaksana, saling menghargai, dan tidak turut ikut campur antar agama.

Dilansir dari ketiknews.id, rabu tanggal 26 januari 2022 kegiatan doa lintas agama dan ngaji budaya 1000 sajen dan dupa di gelar di depan balai kota Malang. Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan komunitas dari berbagai kalangan budaya dan agama se-Jawa Timur. Koordinator kegiatan, Gus Hisa mengatakan ada dua tujuan utama dalam kegiatan tersebut. Pertama, doa bersama lintas agama, Kedua, memperkenalkan budaya Jawa yang selama ini di anggap miring oleh masyarakat.

Berkaca dari kegiatan tersebut, banyak point yang perlu kita telaah lagi. Seperti pelegalan sesajen dan dupa atas nama budaya, serta do’a bersama antar agama.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sesajen atau sajen adalah makanan (bunga-bungaan dan sebagainya) yang di sajikan kepada orang halus dan sebagainya. Sesajen juga berarti sajian atau hidangan yang memiliki nilai sakral yang dilakukan untuk mencari berkah di tempat-tempat tertentu yang di anggap keramat.

Sangat jelas sekali dalam Islam, bahwa hukum sesajen adalah haram, karena termasuk perbuatan syirik akbar yang dosanya tidak diampuni. Sebagimana firman Allah dalam QS. An-Nisa:8 yang artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapapun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar.”

Dupa adalah luban (kemenyan, setanggi, dan sebagainya) yang apabila di bakar asapnya berbau harum. Menggunakan dupa untuk aktivitas yang dilarang islam seperti membakarnya sebagai bagian ritual memanggil jin/makhluk halus atau penyembahan alam hukumnya haram. Sementara, jika penggunaannya untuk hal-hal yang diizinkan syara’ hukumnya mubah sebagaimana penggunaan benda lainnya.

Sementara itu, mencampuradukkan agama dengan menganggap semua agama benar yang tercermin dari do’a bersama lintas agama haram hukumnya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah:42 yang artinya:

“Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.”

Hal ini tentu sangat berbahaya, sebab pencampuradukan antara yang hak dan batil akan mengaburkan ajaran islam dan mengantarkan pada terkikisnya ajaran Islam itu sendiri hingga hilang tergantikan ritual dari agama lain.

Sungguh kegiatan doa lintas agama dan ngaji budaya 1000 sajen dan dupa telah mempertontonkan syirik akbar berbalut moderasi beragama serta pengkerdilan Islam yang dianggap harus bisa menyesuaikan dengan budaya lokal dan dipisahkan dari kehidupan bernegara yang kemudian di legalkan negara di buktikan dengan adanya penjagaan ketat oleh aparat keamanan.

Mirisnya indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim dominan tidak mampu menjadi pelindung akidah rakyatnya malah justru melestarikan dan mempertontonkan kesyirikan secara nyata.

Inilah wajah asli dari sistem kapitalis yang dianut oleh hampir seluruh negara di dunia termasuk indonesia. Sistem ini tidak mengenal halal dan haram, agama tidak menjadi prioritas yang perlu dijaga dan dilindungi, sebab tidak menghasilkan pundi-pundi cuan. Bahkan, sistem ini tidak segan-segan menodai apabila suatu agama menghalangi jalannya meraup keuntungan meski terbukti haram.

Bagaimana islam menjaga akidah dan toleransi beragama? Allah telah mengutus Rasulullah SAW bertepatan pada sebuah zaman jahiliyah dimana kesyirikan merajalela saat itu. Diutusnya Rasulullah kala itu guna mengokohkan kembali pondasi tauhid serta menghapus segala bentuk penghambaan kepada selain Allah.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW kemudian mendirikan sebuah negara islam dengan sistem Islam di dalamnya. Khalifah memiliki peran serta tanggung jawab besar dalam menjaga akidah umat.

Seorang khalifah akan menanamkan dasar akidah pada setiap umat Islam baik melalui kurikulum pendidikan ataupun dakwah dan pembinaan pada masyarakat. Sehingga dengan pembinaan ini, umat Islam akan semakin kokoh akidahnya dan jauh dari kesyirikan dan pemurtadan.

Negara khilafah juga menjamin keharmonisan hubungan antar agama dan kehidupan. Fakta dari kehidupan Rasulullah SAW di madinah dapat menjadi contoh nyata bagaimana Islam mengatur dan menjaga keharmonisan hubungannya dengan non muslim sebagaimana tertuang dalam perjanjian yang disebut piagam madinah pasal 16 berbunyi:

“Orang yahudi yang mengikuti kami dipastikan berhak atas dukungan kami dan persamaan hak yang sama seperti salah satu dari kami. Dia tidak boleh di zalimi dan tidak boleh diserang.”(Syeikh Muhammad Khudari Bek 2013, Negara Khilafah Jil. 1 hal 158, PTI)

Namun sayang, persamaan hak dan keharmonisan kehidupan antar agama tanpa merusak akidah hanya bisa terwujud dengan penerapan sistem islam, negara khilafah. Dan untuk mewujudkannya perlu diikhtiarkan dengan dakwah dan pemahaman islam secara kaffah serta tak lupa untuk senantiasa bertaqarrub kepada Allah agar indonesia terbebas dari kejahiliyahan 1000 sesajen dan dupa.

Wallahu’alam bis Showwab

 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.