Jangan Ada Dusta untuk Mencintai Rasulullah

Oleh: Maulinda Rawitra Pradanti, S.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Cinta adalah hal fitrah yang diberikan Allah pada setiap insan manusia. Fitrah ini tak dapat dipungkiri keberadaannya. Tak memandang agama, ras, suku, atau apapun. Ibu mencintai anaknya, anak mencintai ayahnya, kakak mencintai saudaranya, murid mencintai gurunya, dan guru mencintai muridnya. Begitu pula dengan Allah yang mencintai hambanya serta Rasulullah Muhammad yang mencintai umatnya.

Setiap Muslim pasti ingin selalu dicintai oleh Allah dan Rasulullah. Oleh karena itu, setiap Muslim juga harus mencintai Allah dan Rasulnya. Sebab, di dalam Islam mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah keharusan bagi setiap Muslim untuk membuktikan keimanannya. Sebab kecintaan inilah yang akan membawa seorang Muslim masuk ke surga bersama-sama dengan Rasulullah di akhirat kelak.

Anas bin Malik ra., menuturkan bahwa seorang Arab bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Kapan Hari Kiamat tiba?”, Rasulullah pun balik bertanya padanya, “Apa yang telah engkau siapkan untuk menghadapi Hari Kiamat?”, Dia berkata, “Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya”, Lalu Rasulullah bersabda, “Engkau bersama dengan yang engkau cintai.” (HR. Muslim, an-Nasai, al-Bazzar, dan Ibnu Khuzaimah)

Tentu dengan hadits ini kaum Muslim harusnya bersegera untuk menjalankan apa saja yang dikatakan dan diperintahkan oleh orang yang dicintainya. Hanya saja, cinta yang dimaksud bukanlah cinta yang sembarangan apalagi cinta dusta.

Cinta yang akan mengantarkan seorang Muslim agar bisa bersama-sama dengan Rasulullah adalah cinta yang sebenar-benar cinta yakni cinta yang nyata dan sempurna. Cinta kepada Rasulullah adalah cinta yang akan mengalahkan pada cinta kepada seluruh manusia.

Anas bin Malik ra., menuturkan bahwa Rasulullah pernah bersabda yang artinya “tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dia cintai daripada anaknya, orangtuanya dan seluruh manusia.” (HR. al-Bukhori, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, an-Nasai, al-Baihaqi, al-Hakim, dan Ibnu Hibban)

Hadits diatas menegaskan bahwasanya seorang Muslim yang mengaku mencintai Rasulullah harusnya dibuktikan dengan mencintai beliau daripada seluruh manusia. Bersegera melaksanakan apapun yang diperintahkannya. Mendahulukan seluruh aktivitas pribadi demi aktivitas yang mengarah pada kepentingan umat Rasulullah.

Namun, ekspektasi tersebut harus dijadikan sebuah realitas agar berbanding lurus antara hasil dengan usaha. Bukan hanya mencintai secara momentum atau temporal saja. Misal seperti bulan ini, yakni Rabiul Awal yang notabene bulan kelahiran Rasulullah. Kemudian barulah masyarakat berbondong-bondong untuk membuat suasana menjadi Islami. Menjalankan sunnah-sunnah beliau, bersholawat kepada beliau, dan mengadakan peringatan-peringatan untuk mengingat beliau, tabligh akbar dan ceramah misalnya.

Namun diluar momen-momen tersebut, seolah-olah sunnah-sunnah beliau, mereka tak jalankan. Sholawat kepadanya pun enggan digaungkan. Bahkan yang lebih parah adalah melakukan perkara yang tak pernah diajarkan. Apalagi sampai melakukan yang dilarang. Naudzubillah min dzalik.

Inilah yang menjadi tanda bahwa mereka mengaku cinta Rasul namun nyatanya mendustai ajarannya. Hukum Islam dijadikan prasmanan. Ambil yang disuka, meninggalkan yang tak disuka. Tentu ini adalah tindakan yang salah karena menjadikan hawa nafsu sebagai jalan pengambilan hukum.

Lantas bagaimana agar cinta kita diakui dan diterima oleh Rasulullah?

Pertama, bersungguh-sungguh berittiba’ (mengikuti) kepada ajaran Rasulullah yang berpedoman pada Al-Qur’an dan hadist. Karena akhlak beliau adalah cerminan isi Al-Qur’an yang suci dan mulia.

Kedua, seorang muslim wajib mempelajari kehidupan Rasulullah, meliputi kehidupan rumah tangga beliau, pengorbanan yang dilalui beliau sebagai pembawa risalah Allah, hingga bagaimana beliau menjadi seorang Kepala Negara yang visioner.

Ketiga, senantiasa bersholawat kepada Rasulullah Muhammad.

Keempat, mencintai apa yang menjadi kegemaran beliau, seperti menjaga sunnah puasa, sunnah sholat, dan sunnah-sunnah yang lainnya.

Kelima, mendakwahkan ajaran beliau, yakni addinul Islam. Mengajak manusia untuk menerapkan syariat Islam. Dengan begitu, seorang mukmin akan bersemangat dan senantiasa belajar mendalami ajaran Islam juga.

Oleh karena itu, setiap muslim harusnya tahu dan paham apa saja yang ingin dilakukan dan tujuan apa yang akan dicapai setelah melakukan suatu perbuatan. Cinta siapa yang ingin diraih. Ridho siapa yang ingin digapai. Semuanya pasti memiliki konsekuensi. Maka dari itu, jadikanlah hukum syariah Islam satu-satunya jalan untuk melakukan segala perbuatan. Semoga Allah selalu memberi petunjuk.

Wallahu a’lam bish showab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *