Jalanan Molinese Kalo-Kalo, Tanggung Jawab Siapa?

Oleh: Siti Aminah, S. Pd (Pemerhati Masalah Sosial Lainea, Sultra)

Suatu kabupaten, kecamatan, bahkan desa dikatakan sejahtera apabila air tersedia, listrik terpenuhi dan jalur transportasi atau infrastruktur jalan layak dan nyaman digunakan oleh masyarakat. Akan tetapi, berbeda kondisinya dengan yang dirasakan oleh masyarakat khususnya empat desa yang ada di Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu Desa Molinese, Desa Polewali, Desa Kalo-Kalo, dan Desa Bangun Jaya.

Sebagaimana yang di lansir oleh Suaratenggara.com (05/03/2020) :Sejak masa Orde Baru hingga masa Reformasi, bahkan sejak Kabupaten Konawe Selatan dimekarkan jadi Kabupaten yang saat ini telah memasuki 16 tahun, jalan lintas Molinese, Polewali dan Bangun Jaya tak kunjung mendapat perhatian.

Fakta di atas menunjukan kurangnya perhatian dari pemerintah. Sudah bertahun-tahun jalan ini dilalui oleh masyarakat tanpa aspal. Pada saat musim hujan jalananya becek bahkan susah dilewati dan pada saat musim kemarau jalanya berdebu bahkan mengakibatkan rumah-rumah warga tertutupi oleh debu.

Janji-janji datang silih berganti untuk pengaspalan keempat desa ini tetapi tidak ada yang terealisasi sampai saat ini. Itupun, janji itu datangnya 5 tahun sekali yaitu pada momen pesta demokrasi. Pada momen ini para Paslon dijadikan ajang untuk berebut simpati dari masyarakat. Akan tetapi ketika sudah selesai pemilihan maka sirna pula janji yang diucapkan.

Itulah demokrasi dimana perhatian terhadap masyarakat hanya pada saat meminta suara dari rakyat. Ketika rakyat yang butuh terhadap pemerintah, maka pemerintah tidak hadir untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.

Padahal sangat jelas bahwa demokrasi adalah dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Bukankah, infrastruktur jalan merupakan kebutuhan masyarakat untuk melangsungkan kehidupannya?
Karena masyarakat dari keempat Desa ini sumber penghasilannya adalah dari perkebunan, pertanian, dan perikanan. Serta untuk memenuhi kebutuhan pokok atau pasar tradisional untuk menjual hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan mereka harus melewati jalanan yang rusak tanpa aspal. Dan hal ini sudah puluhan tahun mereka jalani.

Inilah, potret sistem kita saat ini yaitu sistem kapitalisme demokrasi yang bersumber dari manusia yang hanya memperhatikan harta atau modal saja. Ketika ada keuntungan diperoleh mau halal atau haram tetap diambil. Akan tetapi, ketika tidak ada keuntungan yang diperoleh maka kau akan diabaikan.

Sampai kapan kondisi ini dirasakan oleh masyarakat? Apakah tidak ada solusi lain selain berpegang teguh pada sistem kapitalisme demokrasi?

Jawabannya adalah ada. Kita akan merasa hidup sejahtera, aman, dan kehidupan yang betul-betul pemimpin atau pemerintah memperhatikan rakyat hanya didalam sistem Islam. Ketika sistem Islam diterapkan maka pemerintah akan senantiasa memikirkan rakyatnya. Jangankan rakyat keledai saja atau binatang saja dipikirkan. Sebagaimana sejarah telah mencatat kisah Umar bin Khattab. Ketika menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khattab RA suatu kali pernah bertutur, “Seandainya seekor keledai terperosok ke sungai di kota Baghdad, nicaya Umar akan dimintai pertanggungjawabannya dan ditanya, ‘Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya?’.”

Inilah potret kehidupan yang mengambil sistem aturan dari sang pencipta yaitu sistem Islam. Setiap tingkah laku dari pemimpin bahkan rakyat harus bersandar pada Al-Qur’an dan hadist. Karena pada dasarnya setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah ketika di akhirat kelak. Sebagaimana hadits Rasulullah Saw:

Dari Ibnu Umar RA dari Nabi SAW sesunggguhnya bersabda: sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya (HR. Muslim).

Maka, di dalam Islam setiap pemimpin takut ketika diserahkan kepemimpinan bahkan mereka menangis lantaran beratnya tanggungjawab ketika di akhirat kelak. Karena memang banyak ancaman bagi pemimpin yang menipu rakyatnya. Seperti sabda Rasulullah Saw:
Siapapun yang diangkat memegang tampuk kepimpinan atas rakyat, lalu dia menipu mereka, maka dia masuk neraka (HR Ahmad).

Jadi, ambillah Islam untuk mengatur kehidupan kita. Karena sesungguhnya Islam mampu mengatur seluruh aspek kehidupan. Dan akan terwujud semua itu ketika diterapkan secara menyeluruh aturan-aturan Islam yakni dalam naungan khilafah. Walla a’lam bi Al-Shabab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *