Jadikan Ramadhan sebagai Momentum Taubat dan Taat

Oleh : Wahyu Utami,S.Pd (Guru di Yogyakarta)

Saat ini kita telah berada di penghujung Bulan Sya’ban dan sebentar lagi akan bertemu dengan Bulan Ramadhan. Ibadah Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena masih dibayang-bayangi dengan ancaman wabah virus korona.

Kita tidak bisa lagi beribadah secara bebas di masjid baik sholat jamaah taraweh, subuh maupun buka puasa bersama. Bahkan sholat Idul Fitripun juga kemungkinan besar tidak bisa kita laksanakan secara bersama-sama. Sedih dan prihatin, tapi kita tidak boleh berlama-lama dalam kesedihan. Justru banyak ibroh (pelajaran) yang bisa kita ambil dari wabah ini.

Pertama, Wabah ini kita dudukkan sebagai musibah bagi umat manusia sehingga kita harus bersabar menerimanya.

Kedua, Musibah ini tidak berdiri sendiri dan tidak datang tiba-tiba, tetapi ada faktor pemicunya. Ada hubungan sebab akibat. Contoh banjir yang melanda Jakarta beberapa bulan yang lalu adalah musibah. Salah satu sebab musibah ini terjadi karena air Sungai Ciliwung meluap. Mengapa air Sungai Ciliwung meluap? Karena ada faktor kesalahan manusia, salah satunya karena tata kelola wilayah di daerah penyangga Jakarta yang mengalihfungsikan hutan menjadi perumahan dan perkebunan. Akibatnya air tak lagi mampu ditampung oleh sungai. Sama seperti corona, virus ini muncul karena sikap hidup manusia yang abai terhadap makanan halal dan haram.

Ketiga, Musibah ini tidak bisa dilepaskan dari kemaksiatan manusia. Manusia telah melanggar apa yang diharamkan oleh Alloh. Alloh berfirman di dalam QS. Ar rum ayat 41 :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Yang artinya “Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Alloh menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan itu agar mereka kembali.”

Oleh karena itu semuanya harus bertaubat mulai dari individu, masyarakat maupun penguasa.

Sungguh, keshalihan individu tidaklah cukup mencegah hadirnya musibah. Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy bertanya kepada Nabi Saw, “Wahai Rasululloh, mungkinkah kami binasa padahal di tengah kami masih ada orang yang shalih?” Rasululloh pun menjawab, “Ya, apabila kebejatan sudah merajalela”.(HR Bukhari Muslim).

Makna taubat dibuktikan dengan kesediaan mengamalkan dan melaksanakan Syariat-Nya secara kaffah dalam semua aspek kehidupan. Individu harus melaksanakan seluruh perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya dengan sungguh-sungguh. Masyarakat harus menghidupkan lagi peran utamanya beramar ma’ruf nahi mungkar. Penguasa jangan lagi phobia terhadap syariat Islam, jangan lagi mengkriminalisasi ajaran Islam berikut para pengemban dakwahnya.

Ditambah Alloh telah menjanjikan jika Syariat Islam telah dilaksanakan secara kaffah maka keberkahan akan berlimpah memenuhi bumi. Alloh berfirman di dlm QS Al A’rof : 96 :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ ﴿٩٦﴾

“Andai penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan bukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi, akan tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat kami, maka kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan”.

Oleh karena itu, mari jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk muhasabah dan taubat nasional agar kita mampu menggapai esensi puasa yaitu meraih ketakwaan hakiki.

Wallohu alam bishshowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *