Istiqomah menjaga spirit Ramadhan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Ainiyatul Fatihah (Aktivis Dakwah)

 

Tak terasa ramadhan telah usai, dan hari kemenangan pun telah tiba. Ramadhan adalah bulannya umat islam, bulan yang didalamnya ada beberapa kemuliaan yang tidak ditemukan di bulan-bulan lainya.

Berbeda dengan amalan lainnya seperti sholat yang peruntukkannya untuk diri sendiri, puasa adalah amalan yang diperuntukkan langsung untuk Allah.

Bulan ramadhan adalah bulan maghfiroh, bulan pengampunan atas dosa-dosa yang telah kita lakukan. Dimana dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan terlalu banyak dan mengunung.

Sebagaimana firman Allah SWT; “Bersegeralah kalian meraih ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (TQS. Ali Imran [3]: 133)

Ramadhan adalah bulan dilipat gandakan amal-amal kebaikan yang kita lakukan. Seperti beramar maruf nahi mungkar, adalah aktivitas yang sangat disukai oleh Allah karena mengingatkan kepada kebaikan dan mencegah kepada keburukan, tentu aktivitas seperti ini tidak mudah tetapi pahala yang didapatkan juga tidak tanggung-tanggung.

Sebagaimana firman Allah SWT;
“Sungguh Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (TQS An Nahl [16]: 128).

Karena mulianya ramadhan, Allah pun menyiapkan surga khusus untuk orang-orang yang berpuasa yakni Surga Rayyan, Masyaallah.

Tentu berakhirnya bulan Ramadhan tidak membuat berakhir pula amalan” yang dilakukan selama bulan ramadhan, jadikan setiap hari adalah hari hari dibulan Ramadhan.

Kiat-kiat yang bisa kita lakukan diantaranya adalah;

Pertama, selalu mengingat tujuan kita diciptakan didunia. Yakni tidak lain dan tidak bukan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah;
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (TQS. Az-Zariyat : 56)

Kedua, selalu mengingat kematian. Harus kita sadari bersama bahwa kita adalah calon mayit, tidak ada jaminan bagi kita akan hidup lebih lama lagi, dan tidak ada jaminan juga bahwa kita akan temui Ramadhan tahun depan.

Ketiga, Beramar ma’ruf nahi mungkar. Mungkin kita merasa belum cukup ilmu, namun bermaraf ma’ruf nahi mungkar tetap menjadi keharusan, dengan mengingatkan sesama akan pentingnya bersandar pada hukum Allah justru tanpa kita sadari juga menjadi pengingat buat kita pribadi sembari belajar ilmu agama lebih dalam lagi.

Keempat, mendalami ilmu agama. “Tidak wajib bagi setiap muslim dan muslimah menuntut segala ilmu, tetapi yang diwajibkan adalah menuntut ilmu perbuatan (‘lmu al-hal) sebagaimana diungkapkan, sebaik-baik ilmu adalah ilmu perbuatan dan sebagus-bagus amal adalah penjaga perbuatan.” Artinya, setiap muslim diwajibkan untuk mempelajari ilmu agama sebelum mempelajari ilmu dunia. Ilmu agama sangatlah penting sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia bahkan di akherat kelak. Dengan ilmu agama kita mampu membedakan mana aktivitas yang diridhoi oleh Allah dan mana aktivitas yang tidak diridhoi oleh Allah SWT, maka dengan nya kita akan mampu mencapai derajat muttaqin, dengan ilmu menjadikan kita lebih mulia dan tinggi derajatnya, ilmu agama akan menjaga kita tetap istiqomah dalam ketakwaan.

Yang terakhir, berkumpul dengan orang-orang shalih. Berkumpul dengan orang-orang shalih dapat mengingatkan dan menguatkan di saat kita mulai jauh dari Allah, berkumpul dengan orang-orang yang shalih menjadikan kita selalu dekat dengan Allah kapan pun dan dimana pun.

Maka, ketika kita memahami hal tersebut. Maka kita akan tetap menjalankan aktivitas sebagaimana aktivitas pada bulan Ramadhan, tetap menjalankan amalan-amalan sunah, tadarus al-Qur’an, bersedekah dan amalan-amalan kebaikan lainnya.

Tentu istiqomah ini tidak bisa dibentuk hanya sebatas ketaqwaan individu saja, karena terkadang kita merasa takut untuk menjadi seorang muslim sejati yang taat syariah, karena kita hidup dalam lingkungan yang jauh dari islam. Maka ketaqwaan individu harus dibarengi dengan lingkungan dan negara yang bertaqwa juga. Dimana masyarakat sebagai kontrol dan negara sebagai penjaga dan pembuat kebijakan tunggal. Maka ketaqwaan ini harus diwujudkan dalam berbagai sendi kehidupan, baik individu, masyarakat, dan negara. Tetapi yang paling penting adalah terwujudnya ketaqwaan dalam sebuah negara, supaya terbentuk baldatun toyyibatun warobbun ghofur sehingga semangat Ramadham tetap menyala dan ketaqwaan kita selalu terjaga

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.