Isolasi Mandiri Mengancam Nyawa, Dimana Peran Negara?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Asha Tridayana

 

Hingga kini kasus covid-19 belum juga melandai, justru semakin luas menyebar di tengah-tengah masyarakat. Bahkan tidak sedikit anak-anak yang ikut terpapar, lantaran orang terdekatnya dinyatakan positif. Kebanyakan dari penderita melakukan isolasi mandiri karena fasilitas kesehatan tidak mampu lagi menampung korban. Dengan berbekal obat dokter dan seperangkat multivitamin diharapkan dapat menyembuhkan pasien covid-19 yang melakukan isolasi mandiri. Namun, minimnya fasilitas kesehatan dan terbatasnya pengetahuan justru menambah sederet korban meninggal. Kondisi yang seharusnya dirawat oleh tenaga medis hanya bisa dilakukan sendiri dan keluarga terdekat.

 

Dilansir dari news.detik.com (18/07/21) terungkap dalam LaporCovid-19 yang telah melaporkan ada 675 orang dinyatakan meninggal dunia per Juni lalu setelah menjalani isolasi mandiri karena virus covid-19. Tak hanya itu, ada 206 tenaga kesehatan yang juga turut gugur saat menangani pasien yang terpapar virus Corona. Laporan tersebut disampaikan oleh Koordinator LaporCovid-19, Irma Hidayana, dalam konferensi pers virtual, Minggu (18/7/2021).

 

“Data mereka yang meninggal di rumah saat isoman, tim data LaporCovid sejak Juni sampai hari ini terdapat setidaknya 675 warga yang melakukan isoman dan meninggal dunia. Beberapa di antaranya mengalami penolakan dari rumah sakit. Lalu bulan ini saja, nakes di Indonesia yang meninggal, ini belum genap sebulan, tapi ada 206 nakes yang meninggal,” ungkapnya.

 

Disamping itu, Irma berharap pemerintah dapat membatasi gerak masyarakat agar lebih mudah melacak kasus virus Corona. Hal itu dilakukan semata-mata agar jumlah pasien yang mengalami gejala parah dapat berkurang.

 

“Yang bisa dilakukan pemerintah sebagai upaya mengendalikan penularan secara signifikan dengan menekan laju mobilitas warga, gerak masyarakat harus dibatasi. Dengan gerak masyarakat yang dibatasi setidaknya 2 minggu, atau 2×2 minggu akan lebih memudahkan petugas tracing dan testing makin efektif. Jika kalau hal ini dilakukan, jumlah pasien yang sakitnya parah harus dirawat di rumah sakit akan berkurang,” ungkapnya.

 

Realita yang memilukan, semakin banyak korban covid-19 harus meregang nyawa saat isolasi mandiri. Hal ini menunjukkan kegagalan pemerintah dalam memfasilitasi dan mempersiapkan rakyat menghadapi covid-19. Buktinya sejak masuknya virus, respon pemerintah tidak cekatan dan cenderung meremehkan. Bahkan membiarkan TKA China masuk dengan mudah ke negeri ini. Padahal China menjadi tempat sumber wabah bermula. Disamping itu, pemerintah juga seolah lepas tangan karena rakyat dibiarkan mengurus kesehatannya sendiri. Negara kehilangan peran dalam menjamin dan melindungi keselamatan rakyat dari bahaya termasuk wabah covid-19.

 

Mungkin berbeda jika seluruh rakyat negeri ini merupakan kalangan kelas atas, tetapi nyatanya kebanyakan rakyat justru menengah ke bawah. Dalam mencukupi kebutuhan hidup saja sudah sulit. Sekarang ditambah beban lagi harus menyelamatkan nyawa masing-masing yang tentunya membutuhkan biaya tidak sedikit untuk membeli berbagai obat dan vitamin. Belum lagi beban pikiran yang semakin penat karena angka pengangguran meningkat yang dapat menurunkan imunitas tubuh. Padahal virus covid-19 mengharuskan imun kuat agar cepat pulih.

 

Lain halnya jika seluruh proses penyembuhan difasilitasi negara, ditambah keluarga yang ditinggalkan selama isolasi juga terjamin kehidupannya. Tentu korban meninggal dan yang positif pun tidak akan semakin bertambah. Karena benar-benar ditangani langsung oleh tenaga medis berkompeten. Penyebaran virus pun dapat dikontrol. Tidak seperti saat ini, karena terbatasnya ruang isolasi menyebabkan penderita dan yang sehat masih berbaur. Meskipun hal tersebut tetap diminimalisir. Bahkan anak-anak pun tetap bersama orang tuanya yang positif karena tidak adanya perwalian saat ditinggal isolasi.

 

Membludaknya jumlah korban positif covid-19 menyebabkan seluruh rumah sakit penuh. Bahkan telah dibuatkan tempat-tempat khusus yang beralih fungsi menjadi ruang rawat pun juga penuh. Ketersediaan oksigen dan berbagai fasilitas di rumah sakit semakin menipis. Hal ini membuat rakyat harus isolasi mandiri tanpa pemahaman dan perangkat memadai. Padahal penyediaan fasilitas kesehatan menjadi tanggung jawab negara dan kebutuhan dasar rakyat yang harus dipenuhi.

 

Tidak dapat dipungkiri berbagai kesulitan saat pandemi berlangsung menjadi akibat dari penerapan sistem yang salah. Sistem yang bukan dari Pencipta Kehidupan Allah swt. Namun, sistem buatan manusia yang terbatas dan penuh hawa nafsu sehingga sistem yang dihasilkan tidak jauh dari kepentingan mereka. Tidak lain sistem kapitalisme yang merupakan sistem kufur sumber segala kerusakan dan kekacauan negeri. Aturan yang diterapkan memberikan keuntungan bagi para kapitalis bukan rakyat yang menjadi tanggung jawab negara. Sekalipun berdampak buruk bagi kehidupan rakyat, tidak menjadi masalah. Oleh karena itu, saat wabah berlangsung sekarang banyak rakyat yang sengsara, sementara para kapitalis tetap tercukupi dan aman dari wabah.

 

Maka sudah saatnya masyarakat menggali kesadaran karena bukti kegagalan sistem sekarang ini telah nyata. Masyarakat negeri ini bahkan dunia membutuhkan perubahan. Perubahan hakiki yang mampu menghantarkan pada kemuliaan sebagai umat Islam. Satu-satunya solusi tentu saja kembali menerapkan syariat Islam di segala aspek kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Hukum Islam kembali ditegakkan sehingga berbagai kesulitan termasuk wabah covid-19 pun dapat segera tertangani. Dalam bingkai khilafah yang mampu menjamin penerapan syariat Islam diterapkan secara keseluruhan tanpa terkecuali.

Wallahu’alam bishowab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.