ISLAMOFOBIA JANGKITI INTELEKTUAL

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Ummu Faiha Hasna (Pena Muslimah Cilacap)

 

Intelektual ternyata tidak berbanding lurus dengan sikap baik. Seseorang yang bergelar professor, menjabat sebagai rektor salah satu kampus di Kalimantan sekaligus menjadi interviewer beasiswa LPDP dan anggota Tim kinerja evalusi perguruan tinggi swasta. Dirjen Perguruan Tinggi, membuat gaduh dengan menulis status di media sosial. Pasalnya, postingan tersebut mengandung kontroversi yang mengandung sara yang ditunjukkan dengan narasi terhadap mahasiswa yang mengucapkan kalimat dalam ajaran islam, seperti InsyaAllah, Barakallah, hingga Qadarullah. Bahkan, sosok itu tidak segan melabeli mahasiswa perempuan yang berjilbab dengan olokan ” manusia gurun”. Secara jelas, sosok itu mengapresiasi mereka yang tidak berkata- kata dengan kata- kata langit dan tidak berjilbab adalah orang – orang yang otaknya benar – benar open mind. Menurutnya, mereka mencari Tuhan ke negara- negara maju, seperti Korea, Erofa Barat dan Amerika Serikat. Bukan ke negara yang orang -orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi.

Dikutip dari www.detik.com, postingan yang sempat viral beberapa hari ini pun berujung laporan pada menteri keuangan dan Dirut LPDP. Sekalipun dikenal sebagai negeri matoritas Islam, tidak lantas umat Islam mendapat ketenangan beragama dan kenyamanan diri dalam menjalankan syariat-Nya. Nyinyiran dari orang – orang sekuler liberal baik influencer, youtuber, tokoh agama, bahkan dari kalangan intelektual terus – menerus silih berganti menistakan dan melecehkan syariat Islam. Serangan bertubi -tubi ini sebenarnya adalah refleksi dari konsep kebebasan berekspresi sistem demokrasi yang begitu dijunjung tinggi. Dengan berlindung dibalik kebebasan untuk menyatakan pendapat dan kebebasan berekspresi, kaum sekuler liberal begitu berani dan terbuka menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap Islam dan umat Islam. Dan kelancangan itu pun semakin menjadi -jadi, saat penguasa melakukan berbagai tindakan tersebut. Banyak laporan penghinaan, pelecehan dan pembelaan negatif dilaporkan ke aparat keamanan tidak mendapatkan respon memadai. Sekalipun, ada RUU KUHP pasal 156 (a) tentang penistaan agama yang dikalim untuk menjaga toleransi antar umat beragama. Nyatanya tidak cukup kuat dan tegas menindak pelaku penistaan dan penoda agama. RUU itu pun juga akan mandul ketika dihadapkan masalah baru. Alih -alih mencari dan menetapkan transaksi baru, ironinya, para penista agama setelah berbuat gaduh hanya diselesaikan pernyataan klarifikasi dan minta maaf, begitu seterusnya. Dengan demikian, sederet penista agama menunjukkan pada kaum muslimin bahwa sebuah negara yang menganut sistem demokrasi tidak akan pernah menyelesaiakan masalah hingga ke akar. Sebab, sistem demokrasi lahir dari akal manusia yang terbatas sehingga gagal menjamin perlindungan beragama bagi setiap pemeluknya

Keangkuhan intelektual mendominasi karena menilai prestasi unggul dari prestasi akademik bahkan menganggap semestinya manusia cerdas adalah para penolak ketaatan pada agama. Inilah Bukti bahwa sekularisme telah merusak mentalitas kaum intelektual.
Hanya terlahir intelektual pengidap islamofobia seperti ini dalam sistem demokrasi yg mengagungkan kebebasan.
Berkebalikan dengan sistem islam yang melahirkan intelektual/ulama sebagai orang-orang yang paling besar ketundukan dan takut pada murka Rabb nya. Padahal, secara jelas hukum Islam menyatakan siapa saja yang menghina agama Islam, hukum murtad dan kafir. Imam syafi’i menyatakan mengolok -olok Qur’an dengan maksud lelucon bisa dikategorikan kafir. Beliau merujuk surat At Taubah ayat 65 yang berbunyi :
Dan jika kamu mencintai mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
Al Maliki pun menyebutkan, ” siapa yang merendahkan al Qur’an dan sejenisnya atau mengingkari satu huruf darinya, atau mendustai Al Qur’an , atau bahkan sampai membuktikan apa yang diingkarinya, maka termasuk kafir menurut kesepakatan ulama. Dalam fatawa al Azhar juga disebutkan : ” barangsiapa yang melaknat agama Islam maka hukumnya kafir dan murtad dari agama Islam tanpa ada perbedaan pendapat .” Pun hukuman bagi penista agama dalam sistem sanksi Islam(uqubat) sudah termasuk ke dalam sanksi ta’jir yang kadarnya ditentukan oleh ijtihad qadhi (hakim). Penentuan kadar ini disesuaikan tingkat kemaksiatan yang dilakukan pelaku. Namun, untuk menetapkan hukum syariat Islam, tidak bisa dilakukan oleh individu atau kelompok. Hukum syariat ini membutuhkan negara yang menerapkan Islam kaffah. Dalam syariat Islam fikih disebut dengan Daulah Khilafah Islamiyyah. Adanya Daulah Khilafah membuat penerapakan sistem uqubat Islam, akan menimbulkan efek Jawabir atau penebus hukuman di akherat untuk pelaku. Namun, perlu diketahui,Daulah Khilafah tidak akan memberi sanksi terhadap aspirasi warganya selama diperbolehkan dari koridor syariat selanjutnya, Daulah Khilafah juga akan membangun karakter masyarakat agar senantiasa melakukan amal ma’ruf nahi munkar, menampilkan kebaikan – kebaikan ajaran Islam sehingga tidak ada celah sedikit pun untuk yang tidak menyukai Islam berbuat sesukanya. Inilah solusi yang ditawarkan untuk menindak para pelaku penista agama.
Untuk itu, jika umat Islam ingin agar tidak ada lagi kasus demikian terulang kembali , umat Islam tidak boleh diam. Umat Islam harus membangun kesadaran politik dan memahami penerapan Islam Kaffah bersama kelompok Islam ideologis selanjutnya mendakwahkan ajaran Islam dengan menggunakan thariqoh dakwah Rasulullah. InsyaAllah, langkah demikian adalah aktivitas rill yang bisa dilakukan untuk mewujudkan Daulah Khilafah sang penjaga agama Islam dan umat Islam.Wallahu a’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.