Islamofobia di Tengah Wabah

Oleh: Sumeilina (Mahasiswa Ideologis dan Aktivis Dakwah Lubuklinggau)

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Kelompok-kelompok sayap kanan telah mengambil keuntungan dari ketakutan orang-orang terhadap pandemi covid-19 (virus corona), melalui teori konspirasi dan disinformasi dengan menjelek-jelekkan kaum Muslim, dan menyebarkan propaganda Islamofobia. Di Inggris, polisi kontraterorisme telah menyelidiki puluhan kelompok sayap kanan yang dituduh memicu insiden anti-Muslim selama beberapa pekan terakhir.

Sementara di Amerika Serikat, situs website sayap kanan telah menyebarkan propaganda anti-Muslim secara daring. Mereka menyebarkan teori konspirasi palsu bahwa gereja-gereja di negara itu akan dipaksa untuk tutup selama pandemi, sementara masjid akan tetap terbuka untuk beribadah.(https://republika.co.id/berita/q8lxk3430/kelompok-islamofobia-manfaatkan-isu-corona-sudutkan-muslim)

Merebaknya wabah covid-19 sungguh sangat meresahkan masyarakat karena tidak hanya nyawa yang terancam namun ekonomi pun ikut terancam terutama untuk masyarakat menengah kebawah, sampai pada titik banyaknya propaganda-propaganda sampai ide-ide yang menjelekkan umat islam seolah covid-19 ini di manfaatkan untuk kembali menyudutkan islam. Tak lain semua itu berasal dari orang-orang liberal yang membenci islam yang ingin menimbulkan islamphobia di tengah-tengah masyarakat.

Masyarakat seolah dibuat pusing oleh kebijakan-kebijakan baru yang sebenarnya kebijakan tersebut justru lebih menyudutkan islam, dan jelas menguntungkan perut-perut kapitalis, karena sejatinya mereka kini pun sudah mukai resah dengan kesadaran masyarakat akan bobrok nya sistem yang selama ini telah merajai bumi pertiwi.

Tak hanya dimanfaatkan untuk menyudutkan islam namun juga dimanfaatkan untuk melebarkan sayap ide kapitalis-sekuler yang sejatinya sudah begitu nyaman dan kenyang di negeri ini, karena memang sejatinya wabah ini justru semakin lama semakin banyak mengungkapkan kegagalan sistem kapitalis yang tak mampu menjamin kesejahteraan rakyat yang seharusnya didapatkan secara adil ketika wabah menyerang, serta menimbulkan stigma bahwa sistem ini sudah tak dapat tempat lagi di hati masyarakat dan tinggal hanya menunggu waktu hingga akhirnya tumbang.

Masyarakat yang sudah terlalu kecewa pada akhirnya akan menyadari bahwa ada sistem yang lebih baik yang mampu memeberikan kesejahteraan, keamanan, kenyamanan secara total, dan agama tidak akan menjadi sebuah perdebatan lagi karena memang pada akhirnya islam lah yang menjadi pemimpin pada sebuah negeri untuk menjadi lebih baik lagi.

Islam lah yang senantiasa memberikan solusi dari semua permasalahan, dan kini masyarakat perlahan mengaharapakan syariah diterapkan karena memang kini masyarakat sudah begitu sakit hati dan kecewa dengan sistem yang gagal ini, hanya menunggu waktunya syariah akan kembali diterapkan sehingga tak ada lagi rakyat yang menderita hanya karena sistem yang gagal yang tak mampu menanggulangi masalah secara mengakar, dan hanya kepemimpin dalam islam sang pemimpin dituntut untuk memenuhi kewajibannya terhadap masyarakat maka jelas saja jika pada masa umar menjadi khalifah beliau begitu takut ketika masyarakatnya kelaparan karena memang telah tertanam di diri sang khalifah tentang tanggung jawab untuk mengurusi umat. Rasulullah ﷺ bersabda, “..Imam (Khalifah) raa’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggungjawab terhadap rakyatnya”
(HR Ahmad, Bukhari)
Wallahu’alam bisshawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *