Islam Sempurna, Tidak Butuh Moderasi Agama

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Maya A (Aktivis Muslimah Gresik)

 

Abad 21, perlawanan terhadap Islam makin menggila. Mulai dari serangan senjata, tudingan ekstrimis / radikal hingga kemudian disusul dengan agenda moderasi agama. Sederet upaya itu, tentu ada keterlibatan Barat dibaliknya. Ada Barat yang mati matian berusaha mempertahankan hegemoninya atas dunia. Ada Barat yang terus menaruh harap agar kapitalisme neoliberal tetap berkuasa atas negeri negeri Islam dengan seluruh kekayaannya. Karena hanya melalui sistem ini, praktik penjajahan dan perampokan SDA bisa berjalan secara legal.

Keseriusan Barat untuk menghantam dan menghabisi Islam ini terwujud dengan hadirnya RAND Corp yang merupakan Pusat Penelitian dan Kajian Strategis tentang Islam di Timur Tengah. Untuk diketahui, sebelumnya RAND Corp adalah perusahaan bidang kedirgantaraan dan persenjataan Douglas Aircraft Company di Santa Monica-California, yang kemudian beralih menjadi lembaga think tank (dapur pemikiran) dimana dana operasional berasal dari proyek-proyek penelitian pesanan militer.

Inti hajatan dari hadirnya RAND Corp adalah melakukan pemetaan kekuatan dan pemilahan kelompok Islam untuk mengetahui siapa lawan siapa kawan, sekaligus memecah-belah dan merencanakan konflik internal di kalangan umat Islam dengan berbagai pola. Realisasinya, ada pada pengelompokan umat Islam dalam 4 kriteria berikut definisi menurut cara pandang mereka. Diantaranya adalah fundamentalis yang dilekatkan padanya stigma radikal, kejam dan keras menolak nilai nilai Barat; kelompok moderat sebagai kontradiksi kaum fundamental yang tak segan berkompromi dengan Barat; kelompok modernis yang dominan ingin mereformasi Islam agar sesuai dengan tuntutan zaman dan kelompok tradisionalis yang cenderung kolot terhadap perubahan.

Dari pemetaan tersebut, moderasi beragama dunia Islam menjadi fokus dan komitmen global. Sejalan dengan itu, ditahun 2007 Rand menerbitkan lagi dokumen Building Moderate Muslim Networks sebagai dokumen terakhir yang memuat langkah-langkah membangun Jaringan Muslim Moderat pro-Barat di seluruh dunia.

Bukan tanpa sebab Barat berbuat demikian mengingat Islam adalah satu satunya ideologi yang ditakuti Barat pasca jatuhnya sosialisme komunis. Dan keteguhan pemeluknya adalah potensi kekuatan yang lebih dari mampu untuk melawan imperialisme Barat. Sejarah panjang kedigdayaan Islam pun pernah menunjukkan kemampuan akan hal itu. Tentang bagaimana peradaban Islam pernah berjaya di Eropa dan menguasai dua per tiga dunia, bahkan menaklukkan Barat. Dalam buku terjemahan “Clash of Civilizations and the Remaking of World Order”, Huntington menyimpulkan bahwa Islam adalah satu satunya peradaban yang telah menempatkan keberlangsungan peradaban Barat dalam keraguan.

Dari sini, maka harus dipahami oleh umat, bahwa opini baik yang terus diaruskan oleh Barat atas moderasi agama adalah dusta semata. Moderasi tak lebih dari alat yang melumpuhkan bahkan mematikan pergerakan kaum muslim, menjauhkan umat dari rahasia kebangkitannya, serta dari identitas hakikinya sebagai umat terbaik.

Mengapa demikian? Karena dalam moderasi, terjadi banyak sekali pertarungan pemikiran dahsyat antara haq dan batil yang tujuannya adalah menggiring umat agar membebek dan mengamini arahan Barat. Baik pola pikirnya, maupun pola sikapnya. Dari sini bukan tak mungkin bahaya politik akan mengintai dengan semakin kukuhnya hegemoni sekuler. Ia tak hanya merasuki sendi sendi individu dan masyarakat, tapi juga sendi pemerintahan yang berlangsung didalamnya. Dampaknya, tentu ada pada arah kebijakan yang erat kaitannya kepentingan rakyat dan SDA yang sarat liberalisasi. Dimana orientasi kebijakan bukan lagi kemaslahatan rakyat, tapi para korporat yang kerap berafiliasi dengan Barat.

Adapun dari segi keimanan, moderasi juga berpotensi mendangkalkan akidah. Hal ini karena spirit yang dijunjung dalam agenda moderasi adalah spirit pluralisme (paham yang menganggap bahwa semua agama adalah sama) dan sinkretisme (percampuradukan beberapa pemahaman kepercayaan atau aliran-aliran agama). Ujung dari moderasi ini, umat akan dibawa pada kesesatan yang lebih jauh yang memungkinkan mereka terprovokasi untuk menyerang syariat agamanya sendiri.

Padahal sungguh, Islam itu tinggi. Dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Oleh karenanya, Islam tidak butuh dimoderasi. Jika tujuan yang ingin ditunjukkan oleh moderasi adalah terwujudnya toleransi seperti yang selalu digemborkan, maka tujuan tersebut tentu perlu dikaji lagi. Tanpa moderasi, eksistensi Islam jauh lebih sempurna dalam mengajarkan toleransi. Seorang oreintalis dan sejarawan Kristen T.W. Arnold dalam bukunya, The Preaching of Islam: A History of Propagation of The Muslim Faith bahkan pernah mengatakan :

“Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmaniyah, selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani, telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.”

Dari sini jelas, bahwa agenda moderasi bukanlah perkara yang memaklumkan terjadinya perbedaan pendapat sehingga bisa didiamkan begitu saja. Sudah saatnya umat bersatu, berani berpikir kritis agar tidak gampang ditipu oleh ide ide kufur. Berpikir untuk memahami bahwa Islam tidak sekedar ajaran ritual, namun juga memancarkan berbagai aturan hidup lengkap dengan metode penerapannya.

Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.