Ironi di Balik Prediksi Akhir Pandemi

Oleh: arina husna

Berdasarkan hasil riset dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, yang dipublikasikan pada Rabu 29 April 2020, pandemi Covid-19 di Indonesia akan berakhir bulan Juni 2020. Begitu pula pernyataan dari kepala gugus tugas percepatan penanganan Covid-19, Letjen TNI Doni Munardo yang juga memprediksi berakhirnya pandemi ini pada bulan Juli. Tentu saja hal ini bak angin segar bagi masyarakat di tengah karut marut di negeri ini.

Namun Bony Wien Lestari menyangsikan pernyataan kepala gugus tersebut. Sebagaimana yang dilansir oleh Liputan6.com (Sabtu/2/5/2020), sebagai epidemiolog di Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Padjajaran (Unpad), ia tak berani menyatakan kondisi Indonesia akan stabil pada bulan Juli. Sekalipun ia berharap ada penurunan kasus di bulan Juni nantinya. Sebab, hingga saat ini tren masih menunjukkan peningkatan kasus positif. ODP dan PDP disertai perluasan kasus hampir ke seluruh kabupaten kota di Indonesia.

Memang, adanya pandemi saat ini membuat rakyat makin nelangsa. Adanya himbauan stay at home dari pemerintah, pemberlakuan PSBB di berbagai kota, membuat roda perekonomian tidak stabil. Tak itu pula, minimnya fasilitas kesehatan untuk penanganan Covid-19, sedangkan korban semakin bertambah membuat rakyat seperti digantung tanpa jaminan kepastian hidup. Hanya dua kemungkinan, meninggal karena covid-19 atau karena kelaparan. Miris.

Nyatanya kita tak bisa berharap banyak pada pemerintah. Tampak jelas, sejak awal pandemi pemerintah tidak serius dalam menyikapi masalah ini. Bukankah mereka yang bertanggung jawab atas rakyatnya? Apa yang mereka tanggung jawabkan di hadapan Allah?

Tak perlu heran, di dalam sistem kapitalis sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, melahirkan pemimpin yang tak menerapkan Islam secara kaffah tentunya. Bagaimana hendak mengurus urusan rakyat, jika mereka hanya berpikir sebuah keuntungan bahkan di saat wabah seperti ini. Tak ayal, rakyat bukan lagi hal yang wajib di urus, karena mereka tak mau rugi. Seperti itu lah konsep kerja di dunia kapitalis.
.
Dalam islam, seorang pemimpin merupakan perisai bagi umat nya. Juga sebagai pengurus urusan umat, sebagaimana hadist rasulullah : “Seorang imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Mengetahui akan hal itu, tentunya pemimpin tak akan berleha-leha di tengah wabah. Sebagaimana Rasulullah yang memerintahkan umatnya untuk menjauhi orang yang terkena wabah. Sebagaimana pula Khalifah Umar bin Khattab yang menyediakan kebutuhan pangan bagi rakyatnya tanpa pandang status, serta sikap tegas saat menghadapi wabah agar tidak meluas.

Oleh karena itu, adanya prediksi tentang berakhirnya wabah belum tentu memperbaiki segala keadaan seperti semula. Dibutuhkan sosok pemimpin bertanggung jawab yang hanya akan lahir dalam sistem Islam. Pemimpin adil dan tegas seperti sosok Umar bin Khattab ra tentu tidak lah ada di sistem kapitalis sekuler. Oleh karenanya, sebuah keharusan bagi kita untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah yang hanya akan di pimpin oleh pemimpin betaqwa, Isyaallah…
Wallahu’alam bisshowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *