Investasi Miras: Waspada Sekulerisasi

Oleh: Riris Dwi (Aktivis Pergerakan Pemuda)

 

Media sosial sempat dihebohkan oleh kontroversi pengesahan kebijakan yang menemui kontra dari masyarakat. Tentang peraturan presiden terkait minuman keras atau miras.

Dilansir dari Detik.com pada Minggu, 28 /02/2021 Presiden Joko Widodo (Jokowi) menandatangani aturan beleid yang menuai kontroversi: Peraturan Presiden (Perpres) soal Bidang Usaha Penanaman Modal. Hal yang bikin kontroversi adalah aturan soal minuman keras (miras).
Perpres ditetapkan pada 2 Februari oleh Jokowi dan diundangkan pada tanggal yang sama oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly. Para politikus saling beda pendapat menanggapi muatan Perpres Nomor 10 Tahun 2021 ini. “Bersama ini saya sampaikan, saya putuskan lampiran Perpres terkait pembukaan investasi baru dalam industri miras yang mengandung alkohol, saya nyatakan dicabut,” kata Jokowi dalam siaran pers virtual (Detik.com, 2/3/2021).

Artinya, yang dicabut bukan Perpres-nya, tetapi hanya lampirannya. Itu pun hanya lampiran Bidang Usaha No. 31 dan No. 32. Adapun lampiran Bidang Usaha No. 44 tentang Perdagangan Eceran Minuman Keras atau Beralkohol dan No. 45 tentang Perdagangan Eceran Kaki Lima Minuman Keras atau Beralkohol tidak dicabut.

Hal ini tentulah meresahkan tokoh agama, warga sosial media, masyarakat sipil yang ada di tengah-tengah masyarakat. Menurut masyarakat umum, miras merupakan minuman yang terlarang dalam agama Islam. Dan akan menimbulkan kemudharatan yang sangat besar. Meski ekonomi menjadi alasan dilegalkan peredarannya, tetap saja akan menimbulkan kemudharatan.

Seperti firman Allah dalam Quran surat Al-Ma’idah Ayat 91:

إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ فِى ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ

Arti: Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Dalam Quran surat Al-maidah ayat 90, itu jelas menunjukkan bahwa miras merupakan bentuk keharaman yang nyata. Karena tidak ada perselisihan atau perbedaan pandangan ulama terkait tentang keharaman miras. Sama halnya dengan judi, menyembah berhala, mengundi nasib seperti halnya tradisi orang Arab dahulu, sebelum mereka akan berpergian. Itu merupakan hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Meskipun dinilai bermanfaat, dalam miras atau khamar selain bentuk dosa besar, juga memberikan efek kerugian secara kesehatan bagi yang meminum. Seperti halnya kecanduan dan ketergantungan, jika tidak dipenuhi akan menimbulkan efek yang di luar kesehatan otak, misalnya suka marah-marah, membentak bahkan melakukan tindakan fisik, seperti memukul.

Karena miras merupakan induk kejahatan dari setiap kemaksiatan yang ada. Jika orang itu mengkonsumsi miras, maka, keimanannya akan tergadaikan. Dan bisa melakukan tindakan diluar syariat Islam, misalkan zina dengan ibunya sendiri, bahkan bisa menimbulkan efek kehancuran pernikahan. Ketika seorang suami yang mabuk-mabukan, akan cenderung melakukan kekerasan fisik terhadap istri.

Hari ini investasi yang meresahkan masyarakat itu dibatalkan, namun perlu diketahui bersama bahwa industri minuman keras atau miras masih ada dan punya izin secara legal menurut aturan pemerintah. Hal itu yang mempunyai potensi mengancam umat islam hari ini.

Umat muslim dipaksakan untuk menerima dengan adanya industri atau pabrik minuman keras yang seakan-akan memberikan keuntungan secara ekonomi bagi pajak negara. Padahal, sesungguhnya itu merupakan sebuah neo-imperialisme atau penjajahan gaya baru yang di doktrin kan kepada umat muslim hari ini. Bukan diperangi secara fisik seperti halnya penjajahan negeri ini sebelum kemerdekaan, namun umat akan dibelokkan menuju food, style dari orang-orang barat (westernisasi). Dan yang paling bahaya, penjajahan pemikiran yang dilakukan oleh barat.

Tak cukup bagi kita untuk membentengi diri kita dari serangan luar, seperti halnya menguatkan iman, mendekatkan diri kepada Allah. Namun, di sisi lain harus ada sebuah institusi yang melindungi dan membenteng umat dari kemudharatan bahkan kerusakan yang nyata. Bukan hanya mementingkan urusan ekonomi. Namun juga memperhatikan bagaimana kesejahteraan umat, terpeliharanya keimanan dan juga akal. Dan institusi itu yang akan mampu memberikan ketenangan lahir batin bagi umat di seluruh alam. Sebuah institusi yang berasal dari Allah Sang Pembuat Hukum di bumi, yaitu Khilafah.
Wallahua’lambishowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *