Inspirasi Ibunda Fathimah

Menjadi putri seorang Rasul adalah anugerah luarbiasa yang Allah berikan kepada Ibunda Fathimah. Di saat yang sama, beliau pun memberikan pada kita banyak sekali teladan hebat yang tidak dimiliki banyak wanita di dunia sepanjang zaman. Sangat perlu mengenal lebih jauh siapakah Ibunda Fathimah lewat kacamata kekinian.

Dalam riwayat sejarah, Ibunda Fathimah termasuk wanita dengan kemampuan syair dan kepenulisan yang mumpuni sebagaimana diungkapkan dalam Buku sastra Ibnu Thaifur berjudul “Balaghat An Nisa” yang menjelaskan dan mengumpulkan syair-syair dan tokoh sastra wanita Arab sepanjang masa. Semua itu tentu tak lepas dari pendidikan Ayah dan Ibunya yang istimewa.

Yang membuat Ibunda Fathimah menjadi perempuan pemberani dan kokoh adalah kisah hidupnya yang ia jalani bersama ayahnya, Nabi Muhammad ﷺ sejak di Makkah sampai Madinah. Ia melihat sendiri ketika ayahnya shalat lalu ditumpahi kotoran unta, ia menyaksikan ketika ayahnya dipanggil gila oleh pamannya sendiri. Fathimah sudah makan asam garam perjuangan.

Begitupun ketika Kaum Muslimin diboikot 3 tahun lamanya oleh Quraisy di lembah Abu Thalib, Fathimah merasakan betapa sulitnya makan dan minum. Faktanya, banyak keluarga Rasulullah yang makan dari daun pohon berduri, dari kayu-kayu dan ranting kering saking tak ada bahan makanan yang dapat mereka peroleh.

Belum selesai menjalani kesulitan hidup itu, hati Fathimah hancur ketika ibunya, Khadijah binti Khuwailid, pergi meninggalkannya selama-lamanya. Ayahnya menguatkannya, dan di saat itulah Fathimah sadar bahwa hidupnya untuk membela dakwah ayahnya. Kalau bukan dia, maka siapa lagi wanita terdekat Rasulullah yang menggantikan posisi Khadijah dalam perjuangannya?

Semenjak kepergian ibu kesayangannya, benarlah Fathimah berdiri di sisi Rasulullah berjuang membela ayahnya sebagaimana ibunya dulu. Ia barangkali tetap menangis, namun itu membuatnya lebih kuat. Ia barangkali tetap pedih melihat ayahnya ditekan setiap hari, namun ia harus kuat membelanya.

Itulah sebab mengapa suatu hari Rasulullah memanggil Fathimah dengan gelar “Ummu Abiiha” yang bermakna “ibu dari bapaknya”, disebabkan karena Fathimah sangat peduli melindungi Rasulullah sebagaimana kedudukan ibu pada anaknya. Fathimah adalah wanita yang selalu mengobati luka-luka Rasulullah sebakda setiap perang yang dilewati ayahnya tercinta.
.
Benar ternyata, bahwa di belakang setiap laki-laki yang hebat, ada sosok wanita yang jua kokoh dan kuat. Hal ini berlaku bahkan dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah, dalam kisah perjuangannya menebarkan risalah Islam ke penjuru dunia. Di setiap langkah Rasul, Fathimah binti Muhammad memiliki saham besar pahala yang deras mengalir.
.
Fathimah pun memiliki kedudukan sangat penting untuk Kaum Muslimin. Rasulullah pernah bersabda tentangnya, “cukuplah untuk bumi ini 4 wanita; Maryam Asiyah, Khadijah dan Fathimah” diabadikan dalam Kitab “Mustadrak ala Ash Shahihain” dan “Siyar A’lam An Nubala.” Di saat yang lain Rasulullah bersabda, “Pemimpin wanita di surga adalah Fathimah.” (HR Al Bukhari)
.
Wafatnya Fathimah tak lama setelah Rasulullah menghadap ke haribaan Tuhannya. Beliau sempat mengucapkan baiat kepada Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq dan menyatakan kesetiaannya, lalu tak lama kemudian beliau menyusul ayahnya ke alam selanjutnya. Di situlah Ali bin Abi Thalib, suami Fathimah, merasakan keterpukulan yang berat. Ditinggalkan orang-orang yang sangat ia cintai dalam hidupnya. Apalagi anak-anak Fathimah, Hasan dan Husain, sangat kehilangan sosok ibu yang sangat menyayangi mereka. [] GenSha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *