Indonesia Wilayah Bencana, Jangan Pasrah

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Anairasyifa (Relawan Media Muslimah)

 

Innalillahi! Seperti diketahui, sebelum ramadhan menjelang ibu pertiwi dilanda bencana. Setelah beberapa wilayah terdampak Siklon Tropis Seroja, terjadi pula gempa bumi berkekuatan 6,1M di selatan Malang, Jawa Timur pada Sabtu (10/4/2021). Titik episentrum dari gempa tersebut diketahui berada di laut dengan jarak 96 kilometer selatan Kota Kepanjen, Malang, pada kedalaman 80 kilometer.

Indonesia beberapa bulan ini panen bencana. Baik bencana diluar kendali manusia maupun akibat ulah manusia. Dalam menghadapi bencana terlebih Indonesia disebut sebagai ring on fire memang perlu ada usaha penanganan yang baik. Jika bencana tersebut di luar kendali manusia maka patut waspada. Namun jika akibat ulah manusia maka perlu muhasabah.

Pentingnya Tehnologi

Dampak kerusakan gempa di Jatim terasakan di 15 kabupaten, dan kota di Jatim dan merusak beberapa fasilitas penting. Dilansir dari merdeka.com (11/04/2021), Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Azis Syamsuddin menekankan pentingnya mitigasi bencana melalui pemanfaatan teknologi. Berkaca dari bencana alam yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) maupun musibah gempa di Kabupaten Malang (Jawa Timur) selain mitigasi bencana, sistem informasi peringatan dini bencana harus mudah diakses masyarakat. Terkhusus di daerah pegunungan dan pesisir pantai.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melakukan riset pascabencana di Adonara, NTT. Diketahui, masyarakat yang selamat dari musibah bencana di wilayah tersebut karena mendapat informasi dari grup WhatsApp.

Dari sini, kita butuh tehnologi untuk membantu dalam penanganan bencana. Terlebih zaman semakin modern perlu dipergunakan untuk hal kebaikan dan kebermanfaatan atau maslahat/kepentingan umat. Demikian mitigasi bencana berbasis tehnologi memang diperlukan.

Mitigasi Bencana Demi Rakyat

Mitigasi bencana memiliki arti segala upaya untuk mengurangi risiko bencana. Bencana alam, baik karena faktor alam maupun akibat ulah tangan manusia merupakan bagian dari qadla Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang harus diterima dengan penuh keridlaan dan kesabaran. Seorang Mukmin juga dituntut meyakini bahwasanya tiada satupun musibah yang menimpa umat manusia kecuali atas izin Allah. Tidak hanya itu saja, seorang Mukmin diperintahkan agar mengambil pelajaran dari musibah agar ia memperbaiki diri dan kembali taat kepada Allah sang pemilik semesta.

Bencana bisa terjadi kapan saja. Selaku muslim, sikap kita bukan sebatas tawakal namun mencoba menangkal selama masih pada area yang kita kuasai/dalam kendali maka patut bagi kita untuk berusaha. Dalam konteks penanganan terhadap musibah terdiri dari pra bencana, ketika maupun pasca bencana.

Penangangan pra bencana ialah seluruh kegiatan yang ditujukan untuk mencegah atau menghindarkan warga dari bencana. Kegiatan ini meliputi pembangunan sarana-sarana fisik untuk mencegah bencana, membangun mindset dan kepedulian masyarakat agar memiliki persepsi yang benar terhadap bencana dan memiliki perhatian terhadap lingkungan hidup serta peka terhadap bencana.

Walau terkadang bencana datang akibat ulah kapitalis misal pembakaran lahan untuk perusahaan yang tidak memperhatikan lingkungan sehingga ketika hujan, terjadilah banjir akibat tiadanya pepohonan. Yang disalahkan jangan hujan. Terbaru ada wacana penggantian tv analog ke digital dikarenakan tv analog akan dialihfungsikan untuk mitigasi bencana. Hal ini bisa disambut dengan lumayan bahagia. Namun di satu sisi apakah rakyat sanggup membeli alat atau mengganti ke tv digital?
Ketika melihat program-program tv hari ini yang menyiarkan hal tidak penting, seharusnya bisa dialihkan kepada pengedukasian masyarakat. Agar masyarakat bisa peka dan cerdas dalam menyikapi kejadian bukan malah dihalukan oleh sinetron ataupun sekedar hiburan semata. Yang itupun syarat akan kepentingan kapitalis di lingkup media.

Penanganan ketika terjadi bencana ialah seluruh kegiatan yang ditujukan untuk mengurangi jumlah korban dan kerugian material akibat bencana. Kegiatan yang dilakukan diantaranya evakuasi korban secepatnya, membuka akses jalan, berkomunikasi dengan para korban selamat untuk memudahkan evakuasi, penyiapan lokasi-lokasi pengungsian, pembentukan dapur umum dan posko kesehatan. Disini pemerintah pun harus bersiap jangan mengandalkan relawan dari komunitas semata. Pemerintah juga harus mengupayakan agar tidak terjadi korupsi pada bantuan sosial kepada warga.

Yang terakhir adalah penanganan pasca/setelah bencana, yakni seluruh kegiatan yang ditujukan untuk me-recovery korban bencana agar mereka mendapatkan pelayanan yang baik selama berada dalam pengungsian dan memulihkan kondisi psikis mereka agar tidak depresi, stres, ataupun dampak-dampak psikologis kurang baik lainnya. Selain memenuhi kebuuhan pokoknya diperlukan pula me-recovery lingkungan tempat tinggal mereka pasca bencana, kantor-kantor pemerintahan maupun tempat-tempat vital lainnya, seperti tempat peribadahan, rumah sakit, pasar, dan lain-lainnya.

Mitigasi bencana berbasis teknologi saat ini sangat diperlukan dengan harus menekankan kepentingan total untuk rakyat tanpa ada kepentingan lainnya. Dan paling ditekankan untuk tidak ada pencitraan di media yang bertentangan dengan kenyataan.

TanggungJawab Pemimpin

Penanganan mitigasi bencana di atas diatur oleh Islam dan dicontohkan pula oleh para khalifah. Manajemen untuk penanganan bencana tersebut tersusun dengan berpegang teguh pada prinsip “wajibnya seorang Khalifah melakukan ri’ayah (pelayanan) terhadap urusan-urusan rakyatnya”.

Pasalnya, khalifah adalah seorang pelayan rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban atas pelayanan yang ia lakukan. Jika ia melayani rakyatnya dengan pelayanan yang baik, niscaya ia akan mendapatkan pahala yang melimpah ruah. Sebaliknya, jika ia lalai dan abai dalam melayani urusan rakyat, niscaya kekuasaan yang ada di tangannya justru akan menjadi sebab penyesalan dirinya kelak di hari akhir.

Ya, menjadi pemimpin itu sulit. Lebih-lebih lagi jika di sistem kapitalisme yang kebanyakan pemimpin di bawah kendali para pemodal (kapitalis). Semoga pemimpin hari ini dan umat diberi hidayah/kesadaran agar pentingnya kembali diatur oleh aturan pencipta. Aamiin.

Bagi seorang mukmin, kesiapan terhadap bencana tidak cuma atas bencana dunia, namun juga atas “bencana akherat”. Dia menyiapkan amal, menghadapi mati yang bisa datang sekonyong-konyong. -Prof Dr Ing Fahmi Amhar-

Manusia bukan hanya perlu mitigasi bencana berbasis tehnologi. Namun hidup dengan berdasarkan aturan Pencipta adalah hal yang paling urgen.

Wallahu a’lam bishowwab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.