Impor Beras Lagi, Bukti Benci Produk Asing Hanya Ilusi

Oleh : Andi Putri Marissa (Praktisi Pendidikan, Aktivis Muslimah)

 

Kuingin marah melampiaskan

Tapi ‘ku hanyalah sendiri di sini

Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada

Bahwa hatiku kecewa

Sepenggal lirik lagu yang mungkin bisa mewakilkan hari rakyat, terutama para petani  padi yang bersiap menanggung kerugian ketika akan panen raya, namun disatu sisi pemerintah malah membuka kran impor beras sebanyak 1 ton. Belum lagi ditengah pandemi yang juga cukup memukul perekonomian para petani. Ketua Kelompok Tani Sarwo Dadi Desa Baleraksa, Karangmoncol, Purbalingga, Fajar, mengungkapkan kekhawatirannya, rencana pemerintah mendatangkan beras impor bisa membuat harga gabah di tingkat petani semakin anjlok sebab faktor spekulan. Ini karena pasokan beras diprediksi akan meningkat saat beras impor tiba, kompas.com (14/03/2021).

Rasa-rasanya tidak sejalan dengan apa yang diniatkan diawal, bukankah diawal sudah disampaikan oleh Pak Presiden Jokowi, dalam Pembukaan Rapat Kerja Nasional Kemendag secara virtual, Kamis 04 Maret 2021. Pak Jokowi mengajak masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri, dan membenci produk luar negeri, beliau menyampaikan bahwa Produk dalam negeri gaungkan, gaungkan juga benci produk-produk luar negeri, bukan hanya cinta tapi benci. Cinta barang kita, benci produk luar negeri. Sehingga betul-betul masyarakat kita menjadi konsumen yang loyal untuk produk-produk Indonesia, begitulah ujarnya, kumparan.com (06/03/21).

Namun benarkah Indonesia bisa lepas dari produk asing? melihat kondisi panen raya saja Indonesia tetap mencanangkan untuk mengimpor besar besar-besaran. Menurut Ekonom Universitas Indonesia yang juga merupakan direktur Eksekutif Next Policy, Fithra Faisal, menganggap Indonesia belum bisa sepenuhnya lepas dari produk asing. Bahkan bahan makanan saja pun impor seperti gandum, gula, garam, beras, bawang merah, dan masih banyak lagi. Padahal kita adalah negeri yang kaya akan Sumber Daya Alamnya, kemana semua kekayaan itu? dan mengapa masih mengimpor padahal stok akan sangat banyak?

Meski dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan stok beras atau iron stock, namun sejatinya sudah cukup dengan prediksi produksi beras dalam negeri mencapai 3,4 juta ton, jika hanya membutuhkan stok cadangan sebesar 1 juta ton beras. Sungguh sangat disayangkan sekali, bukankah harus mencintai produk dalam negeri, mengutamakannya ketimbang produk luar? lagi-lagi semua itu hanya ilusi. Memang benar adanya, Indonesia belum mandiri dan berlepas dari impor.

 

Jeratan Kapitalisme Sangat Kuat

Sungguh ironi negeri yang kaya akan SDA tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika melihat catatan BPS nilai impor Indonesia pada Juli 2019 meningkat sebesar 34,96 persen. Dan persentasenya jika dilihat dari penggunaan barang, masih didominasi oleh bahan baku atau penolong. Indonesia masih jauh dari kata mandiri dalam pemenuhan kebutuhan negeri yang berpenduduk kurang lebih 200 juta orang. Terdapat 3 negara pemasuk utama impor tersebar selama Januari-Juli 2019, yaitu Cina, AS, Jepang serta Thailand.

Keran impor disupport dengan regulasi liberalisasi ekonomi yang dasarnya menolak intervensi pemerintah dalam ekonomi. Fokus pada pasar bebas dan perdagangan bebas, sehingga pemerintah hanya sebatas fasilitator, Indonesia harus bersaing melawan negara-negara maju. Walhasil, konsekuensi yang didapatkan adanya ketimpangan kekuatan ekonomi negara maju dengan negara berkembang. Hukum rimbapun berlaku, yang kuat pasti akan menang. Akibatnya, negara-negara berkembang menjadi konsumen utama dari komoditas dan investasi negara-negara maju. Di sisi lain kebijakan tersebut membuat struktur perekonomian negara-negara berkembang sangat sulit dalam membangun fondasi ekonomi yang tangguh sebab terus bergantung kepada negara-negara industri.

 

Menjadi Mandiri Dengan Penerapan Islam Kaffah

Islam adalah agama yang sempurna, diturunkan oleh Allah Al-Khaliq Al-Mudabbir yang mampu mengatur dunia dan seisinya. Hadirnya islam bukan hanya sekedar agama ritual namun juga sebagai pemecah solusi atas setiap permasalahan yang ada tak terkecuali permasalahan ekonomi seperti impor dari negera lain. Bahkan Allah janjikan limpahan berkah bagi negeri yang bertaqwa, yang tunduk pada aturanNya sepenuhnya.

Allah berfirman, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” (Q.S Al-A’raf : 96).

Dalam islam sudah memiliki mekanisme untuk mandiri pangan tanpa ketergantungan pada negara lain, dimana melakukan optimalisasi kualitas produksi pangan dengan menghidupkan tanah yang mati, negara bukan memfasilitasi agar negara lain mengelola tanah tersebut malainkan memberikan fasilitasi agar kualitasnya meningkat seperti bibit, pupuk serta alat produksi yang terkini. Diikuti dengan mekanisme pasar sehat, menjauhkan dari segala bentuk penimbunan, penipuan, praktik riba apalagi monopoli pasar. Serta mengendalikan supply and demand bukan pada pematokan harga. Dalam islam sangat mengharamkan penyerahan kebutuhan rakyat dan kepemilikan umum kepada individu atau swasta, agar terhindar dari praktik bisnis diatas kebutuhan rakyat.

Itulah beberapa langkah dari penerapan islam yang kaffah dalam persoalan pangan. Masa ini bukan sekedar perkara utoipis belaka, namun benar adanya dan sudah terbukti di masa kekhilafahan, mampu bertahan dalam masalah pangan. masa kekhalifahan merupakan masa kejayaan penerapan sistem ketahanan pangan. Umar bin Khaththab menerapkan inovasi soal irigasi untuk mengairi area perkebunan. Kawasan delta Sunga Eufrat dan Tigris serta daerah rawa sengaja disulap dengan dikeringkan menjadi lahan-lahan pertanian. Kebijakan itu diteruskan hingga Dinasti Umayyah. Begitulh tak hentinya berkah Allah turunkan pada negeri yang bertaqwa dengan menjadikan syariah islam sebagai satu-satunya aturan. Allahu’alam bi shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *