Impeachment in Democracy and Islam (Pemakzulan dalam Demokrasi dan Islam)

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Penulis Tinggal di NTT)

Amerika Serikat dikenal sebagai negara adidaya dunia. Negara penyebar demokrasi. Di tengah perang pemikiran abad 21 sebuah kejadian terjadi di negeri Paman Sam ini.

Pada tanggal 18 Desember 2019, House of Representatives di Amerika resmi mengusulkan pelengseran Donald Trumph dari kursi jabatannya. Dia di dakwa atas dua tuduhan, yakni usaha menekan Ukraina agar menelusuri kejahatan Joe Biden. Mantan Wapres AS yang akan menjadi pesaing politik utamanya di pilpres AS 2020.

Dakwaan kedua karena usahanya menghalangi jalannya Kongres AS. Sebelumnya Trumph dikenal sebagai sosok yang anti Islam. Bahkan sempar anti ras anti Meksiko.

Perjalanan menuju pemakzulan via House of Representatives mulus karena dewan didominasi oleh Partai Demokrat yang merupakan oposisi Trumph. Tetapi langkah ini akan dijegal di House of Senate, karena disana ada dominasi Partai Republik, Partainya Donald Trumph.

Kecil kemungkinan Presiden paling rasis ini akan dilengserkan dari tahtanya. Begitu lah proses yang didesain oleh demokrasi. Karena aturan yang dibuat Partai Politik lewat Wakil Rakyat punya hak untuk membuat hukum.

Hukum yang dibuat diarahkan untuk mengokohkan penguasa. Pertarungan yang terjadi di Kongres AS bukan pertarungan hak rakyat. Namun lebih pada pertarungan antar parpol (Baca: perang kepentingan).

Sehingga proses demokrasinya lebih mirip drama korea kerajaan. Yang penuh dengan intrik dan nafsu menjatuhkan lawan politik. Bahkan sang Raja bisa sangat diktator ketika bisa membuat Undang-Undang yang mengabsolutekan Raja. Raja pun berusaha memberantas lawan-lawan politiknya.

Amerika Serikat sebagai negara pelindung demokrasi merasa ketakutan akan terancamnya demokrasi di dunia. Sebagaimana dilukiskan dalam buku *Bagaimana demokrasi mati?* (How democracies die oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt) tentang masa depan demokrasi. Tanda-tanda kematiannya sudah lama ada dengan susahnya memakzulkan atau melengserkan penguasa lewat jalan yang demokratis.

Di Amerika Serikat telah ada 3 usaha untuk memakzulkan Presiden AS yang dinilai bermasalah berhasil digagalkan. Para Presiden itu lolos dinyatakan tidak bermasalah. Begitu juga proses pemakzulan malah digantikan dengan proses kudeta (dimana proses demokrasi tidak laku) yang terjadi di Argentina, Brasil, Ghana, Guatemala, Nigeria, Pakistan, Peru, Republik Dominika, Thailand, Turki, Uruguay, Yunani dan Mesir.

Para penguasa di daerah tersebut ditumbangkan lewat proses kudeta. Di Indonesia Soeharto tumbang lewat people power.

Lalu apakah Islam mengenal pemakzulan? Ternyata mekanismenya ada. Namun Islam tidak mengenal anggota dewan yang punya hak membuat hukum.

Bagi Islam hak membuat hukum hanya milik Allah SWT (Lihat Q.S. Al An’am ayat 57). Dalam Islam Jika ada perbuatan Khalifah yang melanggar Syara. Menunjukkan kekufuran yang nyata seperti murtad, meminum miras, menindas umatnya.

Maka wewenang pemakzulannya diserahkan pada Mahkamah Mazhalim. Sebuah lembaga hukum negara yang mengatur persengketaan Pejabat Negara dengan Masyarakat.

Qodhi Mazhalim pernah menyelesaikan kasus sengketa Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Warga Yahudi tentang kepemilikan Baju Besi. Kasus antara Gubernur Mesir, Amr bin Ash RA dengan Warga Yahudi tentang penggusuran rumah. Warga Yahudi menang, pejabat negara kalah dan wajib melaksanakan putusan pengadilan.

Dalam pengadilan Islam, Khalifah bisa dipecat dan dilengserkan. Tak bisa dianulir oleh partai politik apalagi voting anggota dewan. Vonis bebas atau bersalahnya Khalifah bukan ditentukan oleh jumlah suara seperti yang dipraktikan di AS tetapi dilihat apakah bertentangan dengan hukum Islam atau tidak.

Seorang Khalifah walaupun dia lemah namun masih menjalankan syariat Islam maka dia tak bisa diganti. Tetapi walaupun kuat namun melawan Syariat Islam bisa dimakzulkan oleh Qodhi Mazhalim.

Inilah proses yang tidak ada dalam sistem demokrasi. Yang berhasil membuat Khilafah bertahan selama 14 abad tidak seperti Demokrasi yang diyakini akan segera mati di masa depan.[]

Tangerang, 20 Desember 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *