Ibu, Raihlah Surga Bersamaku..

Oleh : Ismawati (Aktivis Dakwah Muslimah Banyuasin)

Tulisan ini berangkat dari pernyataan seorang ibu yang berkata kepada anaknya. “Nak, jangan tiru ibumu, biarlah ibumu banyak dosa asal kamu jangan” atau “solatlah nak yang rajin biarlah ibu saja yang tidak pernah sholat” “ibu hanya taunya masak, mencuci dan mengurus keluarga” dan pernyataan semisalnya. Mungkin sedikit terdengar tidak salah karena seorang ibu berjuang mati-matian memberi fasilitas pembelajaran untuk anak agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Hanya saja, perlu digaris bawahi bahwa sikap arogansi seperti ini perlu diperbaiki.

Perempuan adalah pemegang tonggak utama pendidikan. Karena dalam rahimnyalah terlahir generasi penerus peradaban dan lahirnya mujahid pembela islam adalah karena hadirnya sosok ibu. Maka, anak yang cerdas nan sholih tak lepas dari hadirnya peran kaum ibu. Bak pepatah mengatakan “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Dibalik anak yang hebat ada kedua orangtua yang mendukungnya, utamanya ibu.

Untuk itu, islam memandang pendidikan bagi perempuan adalah hal yang utama yang harus dimiliki. Tak ayal, kondisi saat ini sekulerisme (paham yang memisahkan diri dari kehidupan) kian merasuk dalam jiwa kaum muslim. Aturan agama hanya dianggap mengatur ranah ibadah dan masjid saja. Sedangkan dalam kehidupan apa yang diperbuat sesuai kehendak sendiri tanpa mempertimbangkan halal dan haramnya. Maka, jadilah kaum muslimin banyak terperosok dalam perbuatan dosa dan kemaksiatan.

Lantas, apakah kita hanya berdiam diri karena banyaknya dosa? Membiarkan kita (orang tua) menjadi ahli maksiat sementara cukup anak saja yang menuntut ilmu agama. Tentu tidak. Wahai kaum ibu, jika kita merasa banyak sekali dosa maka bertaubatlah memohon ampun hanya kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya. (TQS. Al-Ra’d : 6). Maka pendidikan agama dibutuhkan untuk setiap kalangan bukan hanya anak kita saja. Bahkan menuntut ilmu agama wajib bagi setiap orang.

Meskipun dalam sistem kapitalisme neoliberal saat ini. Para ibu harus berjuang dengan arus liberalisasi perempuan yang digaungkan barat. Karena barat memandang, perempuan adalah objek yang dapat menghasilkan materi. Perempuan yang memiliki finansial dianggap bermartabat seperti halnya laki-laki.

Untuk itu wahai kaum ibu, marilah bersama-sama menjadi hamba yang bertaqwa. Beriman dengan mengerjakan amal sholih. Tak cukup hanya anak kita saja yang menempuh pendidikan agama setinggi-tingginya. Namun, itu haruslah ada pada diri kita kaum ibu. Bertaubat atas dosa, dan senantiasa mengkaji islam secara kaffah (keseluruhan). Agar kita sendiri mampu mencetak anak-anak kita menjadi generasi yang beriman. Pendidikan agama dibutuhkan setiap orang agar senantiasa terikat terhadap hukum syariat. Sehingga apa-apa yang kita lakukan sesuai dengan perintah dan larangan sang pencipta.

Dan pendidikan agama kita butuhkan untuk mendidik anak-anak kita. Karena pada dasarnya seorang ibu selain menjadi manager rumah tangga yakni sebagai Madrasatul ‘ula, sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Tidak cukup hanya mengurus urusan rumah tangga saja namun mengemban tugas mulia menjadi pendidik anaknya kelak. Berjuang bersama keluarga meraih syurga Allah dengan jalan taqwa.

Wallahu a’lam bishowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *