I Hate V-day Forever

Oleh: Meli M Hady

Brak! Ryanti melemparkan tas sekenanya di atas bangku sekolah.
“Sebel, gue sebel banget sama kak Ryan. Masak tanggal 14 nanti gue ga diijinin jalan sama kalean, mangkel deh pokoknya!”

“Eh, apaan loe dateng-dateng langsung marah-marah” kata Fenti teman sebangkunya.

“Iya nih si Ryanti, sabar dikit napah. Kayak gueh nih” tukas Bella sambil meninggikan kerah bajunya.

“Hah, loe sabar Bel?!” hampir bersamaan Ryanti dan Fenti menyahut. Akhirnya mereka tertawa bersama.
“BTW tenang aja Ryanti klo loe ada kemauan pasti nanti ada jalan buat kita having fun tanggal 14” Fenti meyakinkan Ryanti.

“Hem… oke deh”
Dan bel tanda masuk sekolah pun berbunyi. Trio RBF (Rich, Beautiful and Famous) yang terdiri dari Ryanti, Bella dan Fenti segera berbaris ke lapangan untuk mengikuti apel pagi di SMA 3 hari ini.
***
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam, eh adik kak Ryan yang cantik nan salihah sudah pulang, gimana ulangannya tadi, bisa?”
“Bisa dong, Ryanti gitu loh” udah ah kak aku mau mandi dulu, gerah.”

Selesai mandi Ryanti menunaikan salat ashar. Dalam hati kecilnya ia bersyukur masih memiliki kak Ryan yang selalu menjaganya. Semenjak kepergian kedua orang tua mereka 10 tahun yang lalu, kini hanya kak Ryan satu-satunya keluarga yang dimiliki. Tapi ia sangat tidak suka jika kak Ryan terlalu mengatur hidupnya. Melarang ini dan itu. Apalagi ditambah embel-embel dalil dalam alquran segala dalam menasehati.

Sudah mirip sama pak kyai aja tuh kak Ryan. Mengingat itu Ryanti jadi ketawa sendiri.

Ketukan lembut di pintu kamar menyadarkan lamunannya.
“Dik ayo makan sore dulu, nih kakak sudah bikin sayur lodeh kesukaanmu.”
“Iya kak, sebentar”.

Bergegas Ryanti membuka mukena. Secepat kilat ia telah berada di ruang makan. Sayur lodeh selalu menghadirkan rasa rindu akan sosok kedua orang tuanya. Ada rasa yang tak mampu terungkap saat menghirup aroma khas masakan yang menurutnya terlezat sedunia. Ya, itu adalah aroma masakan ibu yang telah pergi mendahului mereka.

“Dik, ingat pesan kakak ya. Tanggal 14 besok ga usah kemana-mana. Lagian kamu kan sudah tahu apa maksud tanggal 14 Februari itu. Klo kita ikut-ikutan ngerayain berarti kita sudah tasyabbuh bil kuffar.”

“Iya… iya… kak, ngrusak suasana aja nih kak Ryan. Jadi ilang deh selera makan Ryanti”. Kata Ryanti bersungut-sungut.

Keesokan harinya trio RBF sudah semakin mematangkan rencana. Petang nanti tepat ketika Ryan jamaah salat maghrib dan isya di masjid, Bella dan Fenti akan menunggu Ryanti di minimarket dekat masjid. Biasanya ba’da salat maghrib kak Ryan salat awwabin sebanyak 6 rakaat terlebih dahulu. Nah, itu merupakan kesempatan emas bagi Ryanti untuk cepat keluar dari masjid dan menemui Bella dan Fenti yang telah menunggunya.

Waktu eksekusi rencana pun tiba. Sepanjang hari ini Ryan tak menemukan tanda-tanda mencurigakan Ryanti akan pergi merayakan valentin dengan teman-temannya.

“Sudah menjelang maghrib dik, ayo segera kita ke masjid!”
“Siap kak Kyai.” Goda Ryanti pada kakaknya.

Saat Ryan sedang melaksanakan salat awwabin bergegas Ryanti pergi menemui Bella dan Fenti yang sudah menyiapkan kostum dan segala pernak-pernik yang diperlukan untuk menghadiri konser musik malam ini.

Namun Ryanti terkejut karena selain Bella dan Fenti ada Rudi dan Rio pacar mereka juga seseorang yang tak ia kenal.
“Perkenalkan namaku Bobby, satu sekolah sama Rudi dan Rio.” Bobby menjulurkan tangannya kepada Ryanti.

Ragu-ragu Ryanti menyambut tangan Bobby namun pandangan mata Fenti dan Bella akhirnya meluluhkan hatinya hingga mau tak mau Ryanti takluk. Ryanti kecewa pada dua sahabatnya padahal mereka tahu betul meski Ryanti teman nongkrong mereka tapi punya prinsip nggak akan pacaran sebelum nikah. Sedikit banyak petuah dan nasehat kak Ryan masih ada yang ia pegang dalam hidupnya.
“Ryanti.” Agak malas Ryanti menyambut tangan Bobby.

“Nah gitu dong Ryanti. Ok dah yuk kita cabut gaes!”
“Yu…hu… we’re coming!!!”
***
Hingar-bingar suara musik yang menggema menghanyutkan para remaja. Fenti dan Rio berangkulan mesra begitupun Bella dan Rudi. Dalam suasana yang penuh sesak penonton Bobby mengambil kesempatan.

Tangannya nakal menyentuh Ryanti. Reflek Ryanti menampar Bobby. Bobby hampir membalas bila tangannya tak dicekal oleh sosok tinggi besar yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Kak Ryan?!” Ryanti terkejut penuh tanda-tanya dan rasa takut.

“Ayo kita pulang!” Ryan menarik lengan Ryanti untuk segera keluar dari arena konser musik.

Sepanjang perjalanan pulang Ryanti terdiam di boncengan motor Ryan. Hatinya berkecamuk membayangkan apa yang akan terjadi sesampainya nanti di rumah.

“Sini dik, duduk!”
“I..ya kak”. Ryanti menunduk, pasrah menanti hukuman yang akan diterimanya.

“Jangat takut! kak Ryan nggak mau ngehukum kamu kok. Cuman pingin kamu segera menyadari kesalahan dan berjanji nggak akan ngulangin lagi.”
“Beneran kak?” Bola mata Ryanti berbinar mencari kepastian dari ucapan kakaknya.

“Iya salihah”. Tangan Ryan mencubit kecil hidung adiknya.

“Eh… tapi Ryanti penasaran kok bisa kak Ryan tiba-tiba ada di sana tadi?”
“Mau tahu aja atau mau tahu banget?” Ryan menggoda adiknya yang semakin penasaran.

“Ih… kak Ryan gituan dech, sebel!”
“Emm, tadi itu setelah salat awwabin perasaan kak Ryan nggak enak banget. Setelah kakak cek di barisan jamaah perempuan ternyata kamu udah nggak ada. Langsung saja kak Ryan tancap gas ke konser musik itu. Kak Ryan yakin betul kamu di sana. Kakak nggak ingin kehilangan kamu dik, kakak sudah berjanji untuk selalu menjagamu karena orang tua kita sudah tiada. Tinggal kamu saudara kandung yang kakak punya. Kakak ingin kelak kita semua akan dikumpulkan kembali di surga Allah SWT.”

Pelupuk mata Ryanti menghangat. Buliran bening kristal membasahi pipinya. Menghamburlah ia ke dalam pelukan kak Ryan yang selalu ia abaikan nasehatnya. Kak Ryanku, kak Kyaiku.
Lagu berjudul “syukron lillah” dari Nissa Sabyan yang sayup terdengar dari rumah tetangga semakin membuat Ryanti tak lagi sanggup membendung air matanya.
Satu keyakinan dalam palung jiwanya kini “I hate V-day forever”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *