Hukum Chattingan dengan Lawan Jenis Non Mahram

Oleh : Ria Pratini (Aktivis Muslimah Lubuklinggau)

Banyak sekali di zaman generasi milenial seperti sekarang yang tidak bisa lepas dari media sosial, atau aplikasi chat yang semakin memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan siapa pun semakin berkembangnya zaman maka semakin banyak media sosial atau aplikasi chat yang memberikan keluasan dan kebebasan penuh bagi siapapun penggunanya untuk saling berkomunikasi.

Namun tanpa disadari disinilah, setan mulai beraksi untuk menebarkan pintu-pintu dosa, bagi kita yang tidak berhati-hati dan tidak berpegang teguh dengan tauhid Islam salah satunya adalah dengan kebebasan melakukan chatting atau percakapan dering dengan lawan jenis bukan mahram.

Lalu bagaimana sih hukum chatting dengan lawan jenis bukan mahram di dalam Islam? Simak selengkapnya di bawah ini.

Sebelumnya tidak benar anggapan bahwa di dunia maya seseorang boleh berbicara apa saja secara bebas tanpa terkena dosa. Dengan dalih percakapan itu terjadi di dunia maya bukan dunia nyata anggapan ini sangat keliru. Bahwasanya yang benar adalah apa yang ditulis oleh seorang di dunia maya secara hukum syara’ sama dengan ucapan lisan yang dikeluarkan oleh mulutnya, kaidah fikih menyebutkan Al kituab kal khithaab (tulisan itu hukumnya sama dengan ucapan lisan). (Muhammad Shidqi Al Burnu, mausu’ah Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah, 8/272–273).

Kaidah itu sejalan dengan apa yang dulu diamalkan oleh Nabi Saw, yaitu berdakwah lewat surat kepada para raja atau Kaisar. Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Nabi Saw telah menulis surat kepada kaisar Romawi mengajaknya masuk Islam. (HR Bukhari, no 2782). Dakwah lewat surat ini hakikatnya nya sama saja dengan dakwah dengan lisan(‘Atha ‘Abu Rasytah, silsilah Ajwibah, 24/10/2–13).

Maka dari itu, seseorang tetap berdosa jika di dunia maya menuliskan kata-kata yang bertentangan dengan akidah atau Syariah Islam, seperti menyebarkan ide kufur (demokrasi, nasionalisme, sekulerisme, pluralisme dsb. Memaki-maki orang, menulis ucapan kotor atau cabul, memfitnah menggunjing dsb.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,” Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan kebaikan atau diam.” (HR Bukhari, no 5672).

Adapun hukum chattingan dengan non mahram di dunia maya hukumnya mubah dengan dua syarat:
Pertama, terdapat hajat (keperluan) yang dibenarkan oleh syariat Islam, seperti silaturahim, berdakwah, belajar, berobat, meminta fatwa, melakukan akad jual beli, utang piutang, dan sebagainya. Kedua ucapan yang ditulis tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Maka dari itu, setiap chatingan yang tidak memenuhi satu atau dua syarat di atas, hukumnya haram dan pelakunya akan mendapatkan dosa. Misalnya, laki-laki memuji kecantikan atau merayu seorang wanita yang bukan mahramnya, dan haram pula apabila seorang perempuan menulis kalimat yang dapat merangsang syahwat teman laki-lakinya dan sebagainya.

Dan banyak dari kita menganggap chatingan dengan lawan jenis adalah hal yang biasa. Namun, ternyata dengan chatting bersama lawan jenis tanpa disengaja kita sudah berkholwat dan mendekati zina. Ditambah lagi keadaan tersebut tidak berdasarkan keperluan syar’i atau penting khalwat ini terjadi di media dering berupa aplikasi online.

Rasulullah SAW bersabda: ” janganlah ada di antara kalian yang berkhalwat dengan seorang wanita kecuali dengan mahromnya.”(HR Bukhari dan Muslim).

Allah SWT berfirman dalam Al–Qur’an surah Al-Isra ayat 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Qs. Al-Isra: 32).

Berdasarkan ayat di atas, kholwat sudah dipastikan sebagai kegiatan yang mendekati zina. Apapun bentuknya dari sini akan timbul khalwat dan zina yang lainnya dalam interaksi media dering online. Ini akan menimbulkan yang namanya sexting, sexting ini biasanya hadir dalam bentuk pembicaraan yang mengarah ke hal-hal tidak senonoh lalu mengarah mampu membangkitkan syahwat (zina lisan), saling bertukar foto vulgar bermuatan sexual (zina mata), dan diakhir timbullah hasrat dan menjadi (zina hati).

Nahh semogga setelah kita mengetahui ini, kita bisa perlahan meninggalkan durasi berchatting ria dengan lawan jenis bukan mahram yang ternyata hanya membawa banyak sekali mudharatnya. Kalau kita sudah siap, lebih baik diperuntukkan untuk menyegerakan menikah sudah menambah pahala, bahagia pula karena sudah ada yang menemani dunia akhirat. Insya Allah.

Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *