Hijrah: Campakkan Sistem Kufur!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Desy Purwanti (Aktivis Dakwah Kampus)

 

Indonesia menjadi negara maju di masa depan merupakan impian semua orang. Termasuk impian para pejabat di negeri ini.

Anggota Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Sukidi Muyadi mengungkapkan keindonesiaan dan keislaman bagai dua sisi mata uang tak terpisahkan. Perlu upaya menyajikannya secara segar dan damai kepada masyarakat.

Gagasan tersebut disampaikan Sukidi yang juga, seorang pemikir Islam dan Doktor lulusan Harvard University dalam Podcast SMTv bertemakan The Indonesian Dream. Menurut Sukidi, bangsa besar itu memiliki impian, gagasan, dan pemikiran terhadap keberlangsungan masa depan. Alhasil, kata kader Muhammadiyah ini, The Indonesian Dream sangat inspiratif di Agustus, bulan kelahiran Indonesia yang berdaulat. ( headtopics.com )

Selain itu, dalam mewujudkan Indonesia maju, Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan untuk bisa lepas dari jebakan negara pendapatan kelas menengah (middle income trap), pertumbuhan ekonomi Indonesia harus bisa mencapai 6 persen pada 2022 mendatang. Bila itu bisa dicapai, ia yakin Indonesia bisa naik kelas menjadi negara maju pada 2045.

Berdasarkan perhitungan Bappenas, pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca 1998 tidak pernah kembali ke skenario trajectory (tren) pertumbuhan ekonomi tanpa krisis. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi selama ini selalu macet di posisi 5 persen.

“Pemulihan ekonomi pasca covid-19, kami berharap kalau kita bisa based pada 2022 dengan tingkat pertumbuhan 6 persen, maka trajectory (tren pertumbuhan ekonomi) yang panjang tadi (tanpa krisis) bisa kembali lagi pada 2029,” ujarnya dalam webinar CSIS dan Transformasi Ekonomi Menuju Indonesia 2045, Rabu (4/8). (www.cnnindonesia.com)

Indonesia sebenarnya negeri yang kaya. Hal ini dilihat dari sumber daya alam yang melimpah. Yang tergolong di dalamnya tidak hanya komponen biotik, seperti hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme, tetapi juga komponen abiotik, seperti minyak bumi, gas alam, berbagai jenis logam, air, tanah, dan berbagai komoditas lain yang diminati pasar internasional. Namun, kekayaan alam tersebut tidak menjadikan rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Yang ada, kesempitan hidup kian hari menjadi bertambah.

Kemiskinan, pengangguran, pendidikan tidak merata, pelayanan kesehatan tidak terpenuhi, serta berbagai masalah sosial yang timbul di tengah masyarakat. Ini terjadi akibat sistem kapitalisme yang diterapkan dalam negara, dengan asasnya sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Terlebih sistem ekonomi yang diterapkan masih mengandung ekonomi ribawi. Dan, menjadikan pemimpin di negeri ini tidak benar dalam mengurusi rakyatnya. Jadi, tidak ada harapan untuk impian Indonesia berjaya di masa depan jika sistem kufur ini masih berdiri tegak di dalam negara. Maka dari itu, satu-satunya jalan untuk mewujudkan harapan dan impian Indonesia adalah dengan hijrah. Hijrah untuk meninggalkan sistem kufur menuju sistem Islam.

Kini, gelombang hijrah di tengah-tengah masyarakat sudah tinggi, apalagi kaum millenial juga para artis. Dan, semangat hijrah tersebut seharusnya tidak berhenti pada perbaikan individu, tetapi diarahkan untuk mewujudkan harapan terwujudnya negeri baldatun thayyibah wa rabbun ghafur.

Ustadz Felix Siauw mengungkapkan, “Hijrah itu bergerak, berubah. Perubahan yang bukan sekedar berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Dalam Al-Qur’an, hijrah itu berubah yang memberi pengaruh.”

Adapun prasyarat hijrah individu dan hijrah menuju perubahan negara ialah sebagai berikut.

Bagi individu, hijrah itu harus dimulai dari niat lillahi ta’ala bukan karena manusia. Selain itu, meninggalkan segala hal yang di larang Allah dan menjalankan perintah-Nya. Tentu hal ini hanya bisa dilakukan dengan mengkaji atau mempelajari Islam kaffah (menyeluruh), bukan sekedar mengubah penampilan.

Dalam hal ini, lingkungan juga mempengaruhi hijrahnya seseorang. Maka, hijrah itu harus bareng-bareng bukan sendiri-sendiri. Supaya bisa saling mengingatkan ketika sedang berbuat maksiat.

Lalu, bagaimana mengubah darul kufur menuju darul Islam? Tak lain ialah dengan cara memperjuangkan Islam agar menjadi sistem dalam kehidupan, yakni Khilafah Islamiyah. Islam bukan sekedar agama, melainkan peraturan hidup. Islam mampu menjawab seluruh persoalan manusia, mulai dari pendidikan, ekonomi, kesehatan, hukum, politik, keamanan, dan lain sebagainya.

Hanya dengan sistem Islam (khilafah) yang bisa menghentikan ketamakan musuh-musuh umat yang terus mengeksploitasi kekayaan setiap negeri muslim khususnya Indonesia.

Allah Swt. berfirman, “ Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Mahapengampun’.” (QS Saba’: 15)

Imam al-Qurthubi menafsirkan mengenai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, ayat itu menunjukkan bahwa Allah mengumpulkan sekaligus pada orang-orang Saba’, yakni antara ampunan Allah atas dosa-dosa mereka dan anugerah-Nya bagi kebaikan tempat tinggal mereka. Kedua hal itu ialah harmonisasi antara keberkahan negeri dan kesalehan penduduknya.

Wallahua’lam bishawab.

 

 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.