Hijrah, Batu Pijak Wujudkan Mimpi Besar

Oleh: Rumaisha 1453 (Aktivis BMI Community Kota Kupang)

 

Hijrah penting untuk menyelamatkan iman dan takwa. Bukan dalm kehidupan pribadi dan keluarga tapi komunal yakni hijrah bareng-bareng. Hijrah sistem. Yakni, terus hijrah hingga mentok terbentuk negara yang menerapkan syariat Islam kafah. Tidak ada pilihan lain, karena selainnya adalah buruk. Inilah pesan Hijrah yang disampaikan oleh Cendikiawan Muslim, Ustaz Ismail Yusanto dalam Event Hijrah Online Terbesar Tahun 2021, yang dihadiri sekitar 140 ribu peserta dari seluruh Indonesia.

Dari peserta yang menghadiri event hijrah ini, bisa terlihat gelombang hijrah sudah berhasil merambah berbagai kalangan. Mulai dari generasi milenial hingga artis pun mulai berhijrah. Fenomena arus hijrah di kalangan milenial bergulir kian hari kian meningkat. Semua ini bisa terlihat dengan bermunculan berbagai komunitas hijrah, mulai dari komunitas yang berlevel nasional hingga berlevel lokal. Fenomena kaum milenial ini juga didukung oleh banyaknya event-event hijrah yang diselenggarakan. Seperti yang diselenggarkan baru-baru ini yaitu event hijrah bareng-bareng, pada Rabu, 11 Agustus 2021/2 Muharram 1443 H sebagai momentum peringatan tahun baru Islam.

Bukan hanya para milenial dan artis, namun tren hijrah juga merambah hingga para pengusaha dan pelaku bisnis. Mereka berusaha membebaskan diri dari transaksi riba. Demi membangun bisnis tanpa riba, maka lahirlah komunitas-komunitas pengusaha tanpa riba. Mereka banyak menggelar seminar, pelatihan untuk menularkan semangat berbisnis tanpa riba. Bahkan mereka membuat buku-buku untuk memotivasi banyak orang agar berbisnis sesuai dengan ketentuan Islam. Mengutip salah satu pembicara pada event hijrah baru-baru ini, Kang Dewa Eka Prayoga, Beliau memberikan pesan hijrah bahwa, tutup saja bisnismu, jika hidupmu hanya mementingkan laba bukan surga!

Harapan dan mimpi Indonesia saat ini seharusnya diletakan pada orang-orang yang berhijrah saat ini, bukan yang lain. Namun, sayang seribu sayang potensi pemuda seperti ini tidak dilirik. Pemerintah hanya melirik pada bonus demografi. Artinya penduduk usia produktif akan dimanfaatkan menjadi motor penggerak ekonomi di negeri ini. Mantan Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjnegoro mengatakan mimpi Indonesia menjadi negara maju akan diarahkan ke bonus demografi yang dimiliki saat ini. Karena pandemi covid-19 sudah melumpuhkan perekonomian dan berdampak juga pada pembangunan nasional. (https://www.cnnindonesia.com, 04/08/2021)

Di sisi lain Anggota Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Sukidi Muyadi mengungkapkan keindonesian dan keislaman bagai dua sisi mata uang tak terpisahkan. Perlu upaya menyajikannya secara segar dan damai kepada masyarakat. Dia menyebut mimpi Indonesia ke depan harus diwujudkan bersama. Dari sekian banyaknya impian tentu sudah ada yang tercapai, dan ada yang belum. Diantara mimpi-mimpi tersebut yakni, kebinekaan, negara ketuhanan, gotong royong, kebebasan, dan sebagainnya. (https://siapgrak.com, 08/08/2021)

Inilah potret nyata harapan dan mimpi besar yang disematkan pada generasi pada sistem kapitalisme. Kapitalisme mengorientasikan terkait bonus demografi hanya sebagai penggerak ekonomi. Dengan potensi jumlah pemuda usia produktif yang begitu banyak “dimanfaatkan” sebagai pekerja yang diupah atau konsumen yang konsumtif. Karena standar dari sistem kapitalisme adalah menjadikan materi dan untung rugi di dalam menjalankan kehidupan. Ini semua terbukti juga dari kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini. Misalnya, program kampus merdeka yang sudah tentu orientasinya pada pasar bebas, dan masih banyak lagi.

Bagaimana para pemuda diarahkan dengan impian yang mulia, jika standar hidup saja masih seperti ini? Mengharapkan Islam dan Indonesia tidak terbentur, sedangkan kebijakan yang diambil jelas-jelas membenturkan ajaran Islam. Dengan cara pandang dan kebijakan liberal juga sangat mempengaruhi perkembangan generasi muda di Indonesia. Generasi diarahkan pada hidup serba bebas dan bisa melakukan apa saja yang diinginkan, walaupun bertentangan dengan syariat Islam. Seperti banyaknya pemuda yang berperilaku konsumtif, membeli sesuatu bukan karena kebutuhan akan tetapi karena keinginan dan kesenangan semata. Perilaku seperti ini yang menguntungkan pihak kapitalis.

Di lain sisi para pemuda diarahkan pada perjuangan dan tujuan hidup yang semu. Bonus demografi dimanfaatkan oleh barat untuk menghalangi kebangkitan Islam. Barat ingin merebut keberpihakan pemuda Muslim, jikapun mereka gagal setidaknya mereka telah melumpuhkan pikiran kaum Muda. PBB melibatkan milenial muda dalam usaha mencegah kekerasan ekstremisme dengan mengkampanyekan nilai Sekulerisme, Liberalisme, HAM, Kesetaraan Gender melalui musik, seni, film, komik dan humor. Dan tidak bisa dipungkiri pemuda Indonesia juga terlibat dalam cita-cita besar mereka ini. Semua itu terlihat pada arah dan kebijakan pemerintah terkait pemuda saat ini.

Lantas bagaimana datangnya kebangkitan jika pemuda Islam seperti ini? Dan bagaimana Islam memandang bonus demografi? Islam sebagai agama dan ideologi yang benar harus menjadi satu-satunya rujukan, termasuk dalam hal mengelolah dan menyiapkan bonus demografi. Generasi pemuda saat ini adalah pemimpin di masa yang akan datang. Hal pertama yang dilakukan ketika melihat banyak para pemuda adalah mengarahkan mereka kepada kebaikan. Dalam artian menunjukan mereka jalan hijrah dan menanamkan iman yang produktif. Yaitu iman yang nantinya akan mengarahkan pada ketaatan totalitas pada seluruh syariat Islam.

Selain itu membentuk generasi yang cinta ilmu juga harus dilakukan. Sehingga generasi Islam yang terwujud nantinya adalah generasi yang bertakwa dan berilmu. Generasi produktif menurut Islam sendiri adalah melakukan sesuatu yang bukan hanya bermanfaat bagi umat, tapi akan dipertangungjawabkan kelak juga di pengadilan Allah Swt. Sehingga kuncinya adalah kekuatan fisik prima yang dimiliki milenial berpadu dengan kekuatan pemikiran ideologis Islam yang unggul dan luhur.

Potensi demografi umat Islam dunia yang didominasi usia muda dengan karakter pemuda yang semangat, produktif dan jiwa pergerakan terutama kalangan milenial muslimah yang memiliki potensi khusus sebagai calon Ibu generasi masa depan, jika semua potensi tersebut disatukan dengan Ideologi Islam sebagai kunci kebangkitan Islam maka keniscayaan peradaban Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah akan tegak kembali untuk memimpin dunia. Oleh karena itu, hijrah bareng merupakan batu pijak wujudkan mimpi besar pemuda Islam.

WalLahu a’lam bi ash-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *