Hidup Tanpa Kerja Mengais Rezeki Dengan Asa

Oleh: Wafi Mu’tashimah, (Siswi SMAIT Al-Amri)

Negeri ini terus dilanda dengan angka pengangguran yang kian meningkat. Baik dalam sisi pengangguran dikarenakan belum mendapat pekerjaan. Ataupun karena banyaknya perusahaan yang mem-PHK pekerjanya. Dan rata-rata mereka di PHK karena alasan mempertahankan perusahaan diera disrupsi.

Seperti yang telah dilakukan PT Indosat Tbk, yang mengaku telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada 677 karyawan pada jum’at (14/2). Perusahaan menyebut bahwa ini merupakan langkah awal dari upaya transformasi perusahaan untuk bertahan diera disrupsi. (Media Indonesia)

Hal senada juga dilakukan oleh PT Karya DibyaMahardika yang memberhentikan para karyawannya. Dilansir dari Warta Bromo.com, Manajemen Perusahaan PT Karya Dinya Mahardika (KDM), Kabupaten Pasuruan, pada 3 February 2020 mem-PHK lebih dari 800 karyawan. Ia beralasan, pemberhentian ini disebabkan produsi yang menurun dan besaran UMK yang dirasa terlalu besar.

Dampak Buruk
PHK dalam dunia pekerjaan adalah yang wajar. Selama ada kesepakatan bersama antara perusahaan dan karyawan. Serta kerelaan karyawan untuk di PHK. Tapi, kondisi ini menjadi berbedadengan fakta ketidak seimbangan ekonomi diIndonesia saat ini.

Sulitnya mencari lapangan pekerjaan, maraknya pekerja wanita, dan banyaknya pengangguran tidak hanya dari jalur PHK, menjadi masalah besar bagi para pekerja yang terkena PHK. Apalagi dalam persaingan mencari pekerjaan baru diera globalisasi.

Di era globalisasi, persaingan kerja tidaklah mudah. Para pelamar kerja harus rela mengantri berjam-jam demi mendapatkan suatu pekerjaan. Apalagi, dengan jumlah pesaing yang besar. Meskipun dengan kondisi sulitnya mencari pekerjaan, mereka tetap dituntut untuk menafkahi diri dan keluarga. Maka, karena tuntutan tersebut dan terbatasnya lapangan pekerjaan, para pengangguran ini lebih sering mencari jalan pintas. Jalan yang semestinya tak dilalui. Jalan yang berkelok dari hukum ilahi.

Negara pun juga gagal untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Hal ini membuat seseorang yang telah dipecat dari pekerjaannya kesulitan mencari lapangan pekerjaan. Begitu pula akan berimbas pada angka kemiskinan yang melonjak. Dan akan terjadi ketimpanagan antara yang kaya dan miskin. Karena uang hanya beredar diantara elit yang berduit saja.

Dalam sistem demokrasi, semboyan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat hanyalah omong kosong belaka. Dan tidak pernah terbukti dalam sejarah negara manapun. Yang ada hanyalah kapitalisme yang mendominasi. Namanya juga kapitalisme yang berarti faham pemilik modal. Sehingga telah terbukti diberbagai negara yang telah menerapkan kapitalisme, termasuk Indonesia, bahwasanya seluruh kebijakan pemerintah hanyalah tuntutan dari para kapital. Bukan untuk kepentingan rakyat.

Sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini terbukti tak bisa menyelesaikan masalah apapun. Termasuk dalam hal pengangguran. Namun, malah menumpuk-numpuk nya tanpa solusi pasti. Maka, kita butuh sistem lain yang dapat menyelesaikan semua masalah ini dengan tuntas. Dan hanya Islamlah yang dapat melakukannya.

Solusi Islam
Dalam menghadapi masalah pengangguran dan kemiskinan yang diakibatkan darinya. Islam memiliki beberapa solusi tuntas, diantaranya:

Pertama, Islam mewajibkan seluruh kepala keluarga untuk bekerja. Dalam Negara Islam, setiap laki-laki yang mampu bekerja wajib untuk bekerja. Jika tidak maka diberi sanksi yang tegas agar pelaku jera. Rasulullah SAW. bersabda, “cukuplah seseorang itu dianggap berdosa (bila) menelantarkan orang yang wajib ia beri makan (Hr. Abu Dawud)”. Sedangkan laki-laki lemah yang tak mampu bekerja, negara wajib menjamin nafkah mereka dengan ketentuan-ketentuan syara’.

Kedua, para wanita tidak wajib untuk bekerja. Mayoritas perusahaan saat ini lebih banyak menerima tenaga terjadinya ketimbang pria. Sehingga para lelaki merasa tersaingi oleh kaum hawa. Para perempuan ini tertuntut untuk bekerja. Mayoritas karena untuk membantu masalah ekonomi keluarga.

Sedangkan dalam Islam wanita mubah hukumnya untuk bekerja. Bahkan, meskipun ia boleh, tapi tidak boleh sampai melalaikan kewajiban utamanya. Yaitu ummu warabatul bait. Tapi, wanita pekerja saat ini kebanyakan bekerja dengan melalaikan kewajiban pokoknya.

Maka, saat Islam diterapkan tidak adalagi wanita yang bekerja hingga melalaikan kewajiban utamanya. Karena, tidak akan ada maslah ekonomi seperti hari ini. Dan telah terpenuhinya seluruh kebutuhan anggota keluarga oleh para lelaki. Begitu pula para lelaki tidak akan tersaingi lagi oleh para perempuan dalam bekerja.

Ketiga, negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai. Menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya adalah tanggung jawab negara. Dalam sebuah riwayat dikatakan, bahwa Rasulullah SAW. pernah memberi 2 dirham kepada seseorang, kemudian beliau bersabda, “belilah makanan seharga 2 dirham dengan uang itu, dan berikanlah kepada keluargamu. Dan sisanya belilah sebuah kapak seharga 1 dirham, dan bawa kapak itu kepadaku!”. Iapun melakukan perintah rasul SAW. Kemudian beliau membelah kayu dengan kapak itu, kemudian berkata kepadanya, “pergilah dan carilah kayu bakar. Lalu juallah. Jangan kembali kepadaku kecuali setelah 15 hari.” Lelaki Anshor itupun berangkat mencari kayu bakar dan menjualnya. Kemudian ia kembali datang kepada Nabi SAW. dengan membawa 10 dirham. Sebagian hasilnya ia belikan baju dan sebagian lainnya ia belikan makanan. (Hr. Ibnu Majah, 2189). Inilah dasar kewajiban negara untuk menyiapkan lapangan pekerjaan.

Negeri ini akan tetap dalam kemerosotan dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi dan sosialnya. Selama masih menerapkan sistem kapitalis sekuler. Maka, tugas kita sekarang adalah mengganti sistem ini dengan sistem Islam. Kenapa harus Islam? Karena ia adalah satu-satunya sistem yang rahmatan lil ‘alamin. Aturan Islam adalah aturan yang komprehensif, aktual, tajam dan terpercaya. Mau pemecahan masalah apapun, islam punya solusinya. Wallahu a’lam bishowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *