Hidup dalam Protokol Kesehatan Menjamin Keselamatan

Oleh : Listy Amiqah (Pendidik dan Ibu Rumah Tangga)

Bagaikan burung dalam sangkar, peribahasa ini mungkin sudah tidak berlaku lagi untuk kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Karena tagar #dirumahaja yang sudah membumi beberapa bulan yang lalu secara perlahan di beberapa daerah sudah tidak berlaku lagi. Ketika pemerintah memberlakukan pelonggaran PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), kini sejumlah kegiatan yang sebelumnya diberhentikan atau dibatasi kini akan dibuka kembali dengan sejumlah aturan. Aktivitas itu termasuk kegiatan perekonomian, tempat ibadah hingga tempat wisata.

Perlu diketahui, meskipun new normal diberlakukan, ancaman penularan Covid-19 masih menghantui kita, karena secara tidak langsung masyarakat disuruh berinteraksi dengan virus Covid-19. Tentu saja kewaspadaan masyarakat tidak boleh kendor terutama ketika berada di luar rumah, masyarakat dihimbau agar tidak terlalu euforia saat new normal diberlakukan dan harus tetap menjaga diri sesuai protokol kesehatan. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Harian Tim Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum (Satgas Citarum Harum), Mayjen TNI (Purn) Dedi Kusnadi Thamim, sampaikan paparan pada giat Focus Group Discussion edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dilaksanakan di aula Kantor Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Selasa (23/6/2020). “Saya harap warga masyarakat tidak euforia berlebihan dalam situasi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang direncanakan berakhir pada tanggal 26 Juni 2020 ini dan kemudian adaptasi kebiasaan baru,” kata Dedi Kusnadi Thamim yang juga tergabung dalam tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jawa Barat. (sorotindonesia.com., Jumat/24/06/2020)

Langkah awal ialah dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti menggunakan masker ketika keluar rumah selalu mencuci tangan menjaga jarak fisik ketika berada di tempat yang ramai, rajin berolahraga. Saat mencuci tangan, seseorang harus melakukannya dengan benar yakni menggunakan sabun dan di air mengalir. Ini agar virus yang menempel di tangan benar-benar mati. Sedangkan menggunakan masker tentu menjadi hal yang baru bagi semua orang. Sebab, dulu memakai masker jika sedang sakit batuk atau flu. Tetapi dari berbagai penelitian, menggunakan masker bisa sangat efektif untuk menekan penyebaran virus corona.

Miris sekali sebenarnya melihat fenomena yang terjadi saat ini. Ketika masyarakat harus berperang melawan virus Corona. Masyarakat memang dihimbau untuk mematuhi protokol kesehatan ketika new normal diberlakukan, tapi apakah semua ini akan menuntaskan akar permasalahannya? Jika dilihat dari fakta di lapangan banyak sekali masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan, tentu saja ini akan meningkatkan kasus positif Covid-19.

Inilah buruknya pelayanan yang diberikan pemerintah saat ini, membiarkan masyarakat berinteraksi dengan virus tanpa ada andil dari negara. Dan menunjukkan pemerintah abai terhadap urusan rakyatnya. Sejak awal kemunculan virus Corona tentunya masyarakat sangat berharap banyak dari pemerintah. Pemerintah adalah pemangku kebijakan yang paling utama yang dapat menetapkan berbagai aturan. Aturan yang sejak awal dibuat mulai dari penerapan social and physical distancing, karantina wilayah, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pelonggaran PSBB, herd immunty, dan terakhir era kehidupan baru (New Normal Life).

Berbagai kebijakan yang dikeluarkan memang bentuk dari sebuah ikhtiar, namun apakah sudah sejalan berdasarkan ketetapan Sang Khalik? Sayangnya peraturan tersebut masih bersandar pada hukum buatan manusia yakni dengan sekuler kapitalisme.

Negara yang seharusnya memenuhi segala kebutuhan rakyatnya apalagi dalam kondisi pandemi nyatanya jauh dari harapan. Kewajiban negara-lah menjamin kebutuhan sandang, pangan, papan rakyatnya bukan malah membiarkan rakyat bekerja sendiri.

Hal ini berbeda dengan pandangan Islam, Islam adalah agama yang diturunkan Nabi Muhammad kepada umatnya dengan seperangkat aturan di dalamnya. Tidak hanya menjalankan ibadah mahdoh saja seperti mengatur sholat, zakat, puasa dan haji, akan tetapi seluruh aspek kehidupan dimulai dari sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan semua diatur oleh Islam.

Pada masa Rasulullah dan para sahabat, umat Islam juga pernah mengalami serangan wabah penyakit. Anjuran untuk selalu menjaga kebersihan sebenarnya telah disampaikan oleh Rasulullah saw. sekitar 14 abad yang lalu, baik melalui ucapan maupun teladan langsung dari Nabi Muhammad saw. Tujuanya agar umat manusia menjadi orang yang sehat dan kuat, baik jasmani maupun rohani. Hadits yang ditulis berdasarkan perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad saw. telah menyarankan umat Islam rajin mencuci tangan sebelum dan setelah beraktivitas. Ilmu pengetahuan membuktikan, cuci tangan pakai sabun adalah cara efektif mencegah infeksi virus corona atau Covid-19.

Rasulullah saw. jika beliau ingin tidur dalam keadaan junub, beliau berwudhu dahulu. Dan ketika beliau ingin makan atau minum beliau mencuci kedua tangannya, baru setelah itu beliau makan atau minum (HR. Abu Daud no.222, An Nasa’i no.257, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i).

Rasulullah saw. juga bersabda, “Barang siapa tertidur dan di tangannya terdapat lemak (kotoran bekas makanan) dan dia belum mencucinya, lalu dia tertimpa oleh sesuatu, janganlah dia mencela melainkan dirinya sendiri.” (HR Abu Daud).

Hadis berderajat sahih ini kembali mengingatkan pentingnya cuci tangan sebelum melakukan aktivitas. Cuci tangan memastikan tidak ada virus dan bakteri yang berisiko menginfeksi tubuh.
Begitupun dengan kebijakan lockdown ternyata sempat diterapkan di masa Rasulullah saw. saat muslim mengahadapi serangan wabah. Beberapa wabah yang sempat terjadi misal kusta dan diare.

“Jika kalian mendengar tentang thoún di suatu tempat maka janganlah mendatanginya, dan jika mewabah di suatu tempat sementara kalian berada di situ maka janganlah keluar karena lari dari thoún tersebut.” (HR Bukhari)

Menelaah dari hadis Rasulullah di atas dengan ketentuan Islam dan syariatnya sudah membuktikan bahwa aturan Islam itu begitu sempurna. Dalam hal mencuci tangan saja ada aturannya, begitupun dengan kebijakan karantina wilayah sudah pernah dilakukan. Namun pada kenyataannya kebijakan yang diambil saat ini jauh dari apa yang pernah diajarkan Rasulullah. Sudah saatnya umat sadar akan buruknya sistem kapitalis ini dan menggantinya dengan sistem Islam yang mampu mengembalikan peradaban gemilang dan cemerlang bagi umat dan Islam itu sendiri.
Wallahu a’lam bi ash Shawab

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *