Herd Imunity vs Lockdown

Oleh: Ai Hamzah

Penyebaran virus Covid-19 dari hari ke hari semakin mengkhawatirkan. Masyarakatpun sangat merasakan dampaknya. Kekhawatiran selalu menghantui, sementara berikhtiar untuk tidak keluar rumah (sebagai salah satu ikhtiar agar terputusnya penyebaran virus ini) membuat masyarakat harus memikirkan ketersediaan bahan makanan dirumah. Untuk menjamin kesehatan dalam rangka menjaga imun agar tetap kuat.

Masyarakat dibuatnya kebingungan, harus memikirkan bagaimana usaha agar terhindar dari Corona dan bagaimana penyediaan bahan makanan dalam rangka menjaga imun. Kebijakan penguasa terkesan lambat mengambil keputusan. Rakyat dibiarkan untuk berusaha dan memikirkan sendiri untuk menghadapi pasukan Corona yang sudah terlanjur masuk dan menyebar di Indonesia.

Dalam kondisi saat ini sangat diperlukan ketegasan penguasa. Ketegasan yang membuat masyarakat sedikit lebih tenang, tidak seperti sekarang penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan. Corona ternyata bukan virus yang bisa disepelekan, penyebarannya akan terus meluas bila tidak segera diputus. Sudah banyak negara yang mengalami wabah Corona ini, kenapa penguasa tidak belajar dari kasus Corona di negara sebelumnya.

Buat apa insentif untuk tenaga medis kalau taruhannya adalah nyawa mereka. Buat apa rumah sakit darurat kalau penderita Corona semakin bertambah. Apabila penguasa hanya memberlakukan herd imun saja. Masyarakat Indonesia tidak semua taraf hidupnya diatas rata-rata, untuk bisa bertahan dengan herd imun pastilah berat bagi masyarakat kecil, dengan penghasilan yang pas-pasan. Sementara gizi buruk juga masih melanda sebagian masyarakat Indonesia.

Menurut kamus Bahasa Indonesia, Herd immunity/kekebalan kelompok adalah daya tahan kelompok atau kelompok masyarakat terhadap masuknya dan menyebarnya agen infeksi karena sebagian besar anggota kelompok ter-sebut memiliki daya tahan terhadap infeksi. Kekebalan kelompok diakibatkan dari menurunnya peluang penularan bibit penyakit dari penderita yang terinfeksi kepada orang sehat yang rentan bila sebagian besar anggota kelompok tersebut kebal terhadap penyakit itu.

Kalau begitu apa gunanya negara, kalau kekebalan itu masih harus diupayakan oleh masyarakat. Sudah dipastikan yang mempunyai kekebalan yang bagus maka dia akan bertahan, tapi bagaimana dengan mereka yang memiliki kekebalan yang kurang? Dalam kondisi sekarang dengan kekebalan yang seadanya secara perlahan akan terus menurun dan akhirnya tidak sanggup untuk menahan corona.

Di zaman Rasululullah SAW pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

Dalam sebuah hadist, Rasullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

Artinya: “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta.” (HR Bukhari)

Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar.

Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Begitulah Rosulullah SAW sebagai seorang kholifah dengan tegas memberikan kebijakan saat terkena wabah. Sudah sepatutnya seorang muslim mengambil suri tauladan yang telah dilakukan oleh Rosulullah SAW. Yang dipikirkan adalah keselamatan rakyat, bukan yang lain, karena negara adalah berperan sebagai abdi masyarakat.

Wallahu A’laam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *