Hari Santri

Oleh: Qonita Fairuz Salsabilla

SuaraInqilabi– Lima tahun dididik oleh para guru yang sangat ikhlas, punya idealisme yang tinggi, dan tentunya ideologis.

Dari mereka kami tau, bahwa ilmu itu harus diperjuangkan, didatangi dan perlu peluh dan darah.

Keterbatasan fasilitas, dan sarana bukanlah alasan untuk tidak belajar dengan metode Islam. Harus talaqqiyan fikriyan. Belajar sampai menjadi mafhum, diamalkan, menjadi solusi untuk menyelesaikan permasalahan, juga pasti harus dida’wahkan. Belajar bukan dengan metode berfikir dangkal. Yang hanya mengahafal, tuk raih nilai tinggi dalam ujian. Mendapat akreditasi, atau ijazah dengan nilai yang memuaskan.
Belajar itu harus mendalam, serius, dan mampu memikirkan segala hal dengan cemerlang.

Kami bukan layaknya kebanyakan santri, yang punya ijazah dengan nilai membanggakan, bukan pula menyimpan rapot indah yang bisa jadi kenangan. Wisuda pun tak pernah kami adakan.

Kami juga belum bisa menjadi layaknya Imam Syuyuthi, seorang polymath yang mampu menuliskan berbagai bidang ilmu (mulai dari Ushul Fiqh, Ulumul Quran, Ilmu Hadits, Tasawuf, Nahwu, Balaghah, hingga Ilmu kesehatan, kedokteran termasuk pembedahan). Kami juga belum seperti Imam Syafi’i, yang hafal Qu’ran dengan sempurna, meguasai seluruh Tsaqofah, hingga menjadi Mujtahid Muthlaq di zamannya. Kami juga belum seperti Al Fatih yang menguasai fisika terapan, strategi peperangan, tapi juga menguasai Fiqh dan 8 bahasa. Kami juga belum seperti Imam Nawawi yang bisa melahirkan puluhan karya yang hingga detik ini kitab nya dipelajari di seluruh dunia.

Iya. Kalian dan kita sama. Sama-sama korban sistem yang akhirnya sangat sulit untuk bisa menguasai berbagai bidang ilmu.

Teringat nasehat guru besar kami, “Teknis mengikuti gagasan”. Walaupun hidup sederhana, makan apa adanya, tidak punya perpustakaan apalagi laborotium penelitian, kami tak pernah menyerah dalam meraup ilmu di sebuah Kota Pendidikan juga kota kota lainnya. Alat transportasi kami hanya sepeda, atau truk yang disewa tuk antar kami ke mana-mana. Alat komunikasi kami hanya hasan (hape santri) hitam putih yang harus antri panjang dan sering kehabisan pulsa. Belajar kami di manapun, bersama siapapun. Di alam mulai pantai, gunung, sawah hingga hutan dan rawa. Belajar di masyarakat bersama para petani, nelayan, pedagang, dan guru-guru TPA, belajar di perpustakaan dan laborotium kampus-kampus ternama, mendengar langsung kucuran ilmu dari berbagai ahli pada setiap bidangnya, dosen ekonomi hingga fisika, juga ke laborotium kimia yang semua bukan milik kita. Banyak diarahkan untuk membaca dan menuliskan berbagai macam karya. Menghafal Al Qu’ran, matan, dan amtsilah tashrifiyyah juga tak lupa.

Gambaran luasnya Tsaqofah Islam, Sains, dan Geopolitik telah kami dapatkan di sekolah ini. Walau baru beberapa anak tangga yang kami pijaki.

Walaupun kita belum bisa seperti mereka, tapi kita harus punya visi akan melahirkan generasi sehebat dan sekualitas mereka. Walau kita belum bisa menguasai semua bidang ilmu, tapi tetaplah menjadi bintang serta mutiara ummat yang punya dedikasi besar untuk membangun kembali peradaban yang gemilang.

Bukankah tujuan kita sama?
Maka, jadikan setiap keahlian kita untuk menyumbangkan karya serta penemuan untuk kemajuan Islam.

Untuk orang tua dan para Guru kami, hanya doa yang bisa kami berikan. Dan hanya Allah sebaik-baik pemberi balasan dan ganjaran di dunia dan akhirat.

#Hari_Santri
#TetapNyantri_SampaiMati
#Tolak_Film_TheSantri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *