Hari Perempuan, Hanyalah Fatamorgana Belaka

Oleh: Maknathul Aini (Aktivis Dakwah Kampus dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Konon katanya di bulan Maret sering disebut sebagai Hari Perempuan Internasional, dimana ini sudah berusia seabad lebih, diperingati tiap 8 Maret hari yang lalu. Sejak digulirkan, semangatnya masih sama yakni menuntut kesetaraan dan keadilan gender (KKG), alias persamaan peran laki-laki dan perempuan, yang akrab disebut juga dengan nama kaum feminisme. Yang dimana perjuangan aktivis perempuan selama kurun itu, memang menampakkan “hasil”, namun “semu nan tabu” belaka.
Dikatakan “berhasil” karena kini, KKG masih menjadi mainstream yang menjajah benak kaum perempuan. Bahkan anak-anak, remaja, dan bahkan mahasiswa/i adalah menjadi sasaran empuk penanaman nilai-nilai gender equality ini. Misalkan ketika ditanya soal apa cita-cita mereka, pasti mereka akan menjawab profesi-profesi di dunia karir yang menjadi ikon kesetaraan gender. Jadi secara otomatis, tertanam sudah bahwa menuntut ilmu itu bukan lagi mencari rida ilahi dengan status kewajiban menuntut ilmu yang tersematkan dipundak-pundak para pemuda, namun yang lebih jelas hanyalah untuk bekal bekerja yang dimana ujungnya hanyalah materi belaka.

Selanjutnya, dikatakan “semu nan tabu”, karena hakikatnya perempuan justru keluar dari fitrahnya ketika memaksakan diri untuk mengikuti paradigma sesat KKG. Dimana isu minder, tidak percaya diri, rendah diri, terhina, dan juga bahkan merasa sebagai perempuan tak berguna jika ia tidak bekerja alias jadi ibu rumahan saja.

Seolah-olah profesi ibu rumah tangga sedemikian sudah tidak berharga lagi. Terlebih jika ia mengecap pendidikan tinggi, dinilai sangat rugi jika hanya sebagai ummu wa rabbatul bait.

Akibatnya, para perempuan berebut pesan di ranah publik, dan lebih bangga jika menyebut karirnya dibanding sebagai manager rumah tangga. Ia pun lebih banyak mencurahkan waktu, pikiran, dan tenaganya bagi perusahaan tempatnya bekerja, sembari menyembunyikan fitrahnya rapat-rapat. Padaha sejatinya, konsekuensi peran ganda selalu dilema yakni memilih antara dunia rumah tangga atau dunia karirnya (ngantor, ngampus, dan lain-lain).

Realitas berbicara, kondisi makin terpuruk.

Seperti yang kita ketahui bahwa paradigma KKG, tolok ukur kemajuan perempuan dinilai dari kemampuannya mendatangkan materi, materi, dan materi. Di samping itu juga bagaimana tingkat kepartisipasiannya di ranah publik, besarnya keterwakilan politik perempuan di lembaga legislatif, serta kebebasannya untuk mengaktualisasikan serta mengekspresikan diri tanpa diskriminasi dan batasan.

Misalkan saat ini, kita sama-sama perhatikan, banyaknya perempuan mandiri secara ekonomi, mengeksploitasi tubuhnya berdalih seni, terbang sana-sini karena tuntutan profesi dan juga bakat, atau menjadi TKW demi anak suami. Apakah ini yang dinamakan keberhasilan KKG? Miris.

Paradoks, karena diiringi dengan hancurnya institusi keluarga akibat tingginya angka perceraian, kerusakan moral, merajalelanya pornografi, perzinaan (perselingkuhan), pelecehan seksual dan kekerasan terhadap perempuan.

Itulah buah digulirkannya KKG. Bukan mengangkat harkat perempuan, sebaliknya memurukkan mereka dari kemuliaan dan kesejahteraan. Dikejar setinggi apa pun, bahkan jika peran perempuan lebih jauh melampaui laki-laki, tidak akan mengangkat kemuliaan perempuan.

Kondisi ironis bin miris tersebut disebabkan KKG yang merupakan turunan dari ideologi demokrasi-kapitalisme, memang tidak menjamin terpenuhinya hak-hak perempuan. Penerapan sistem ini, hanya menghasilkan negara dan pemerintah yang gagal mengentaskan perempuan dari kemiskinan dan kelaparan akibat ketidak-adilan distribusi sumber daya ekonomi.

Kita pun menyaksikan bagaimana sistem sekuler telah gagal memberikan keamanan dan ketentraman bagi perempuan. Perempaun menjadi korban perang yang harus menanggung beban sosial dan ekonomi keluarganya. Sekularisme pun gagal mewujudkan kehormatan perempuan. Dengan menjamurnya industri pornografi dan tingginya angka-angka hamil di luar nikah yang diakibatkan oleh pergaulan bebas.

Islam sangat memuliakan posisi perempuan.

Berbeda dengan pandangan sekuler-kapitalis mengenal perempuan, Islam sejak diturunkan Allah Swt. sudah mengatur posisi perempuan sedemikian indah, imbang dan sangat mulia di samping laki-laki. Islam memandang, perempuan adalah makhluk yang secara manusiawi, sama dengan laki-laki. Allah Swt. menciptakan potensi pada perempuan dan laki-laki sama. Punya akal, perasaan atau hati dan juga nafsu.

Dalam diri laki-laki dan perempuan, sama-sama Allah ciptakan hajatul udhawiyah (kebutuhan jasmani) dan juga macam-macam gharizhul (naluri). Tetapi secara fisiologi, organ dan fungsi tubuh antara laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Ini yang lantas membedakan peran kodratinya. Dimana perempuan ditakdirkan untuk hamil, menyusui, diberikan tanggung jawab menjadi manager rumah tangga atau sering disebut sebagai wilayah domestik. Sementara laki-laki, diberi tanggung jawab di wilayah publik, mencari nafkah, mendidik istri dan anak serta melindungi mereka.

Dari perbedaan tugas tersebut, bukan berarti menunjukkan untuk membedakan kasta, martabat, apalagi bentuk diskriminatif. Ibarat neraca keseimbangan, ini justru untuk menciptakan harmonisasi di dunia. Ilustrasinya ada siang ada malam, dalam artian tidak ada penilaian malam yang lebih mulia dari siang atau sebaliknya. Begitu pun dengan laki-laki dan perempuan. Yang membedakan mulia tidaknya amalan. Dijelaskan dalam firman Allah Swt. dalam surat al-Hujurat (49) : 13. Yang artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa”.

Oleh sebab itu, bagi muslimah, tidak perlu Hari Perempuan. Apalagi hanya seremonial tiap tahun, tanpa pernah mengubah nasib. Perempuan hendaklah tetap pada fitrahnya, berkiprah sebagai perempuan. Sebab, setiap perbuatan yang menyalahi kodrat dan nurani, niscaya tidak akan menemukan atau nihil akan menikmati kebahagiaan, kecuali semu bak fatamorgana disiang bolong.

Lantas bagaimana cara untuk mewujudkan kemuliaan sejati? Tentunya seluruh perempuan dan tak terlupakan juga laki-laki harus meninggalkan sistem demokrasi-kapitalisme dan kembali pada ideologi Islam. Sebab hanya sistem inilah yang mampu menciptakan tatanan kehidupan sempurna karena berasal dari Dzat Yang Maha Sempurna, yakni Ilahi Rabbi.

“Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. al-Maidah : 3)

Jadi sudah saatnya wahai perempuan, wahai diri dan kita sama-sama memperjuangkan penerapan Islam secera komprehensif dengan tegaknya Khilafah Islamiyah. Sebab hanya khilafahlah yang menjamin hak-hak kalian, hak-hak kita bersama, meningggikan harkat dan martabat serta menjamin kesejahteraan dan keadilan hakiki.
WaAllhu’alam Bishowab wa ilaihil-marji’uawal-maab.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *