Harga Naik Menjelang Ramadhan. Kok Langganan?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Fatimah Ummu Aqilah (Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Muslimah)

 

Selalu dan selalu. Terulang setiap tahun. Seolah menjadi langganan. Harga kebutuhan pokok dipastikan naik menjelang ramadhan maupun lebaran.

Rasa-rasanya hampir mustahil mendengar kabar harga bahan pokok turun pada dua kondisi tersebut. Publik tentu bertanya-tanya. Kenapa dan ada apa?

Mafia Kartel Pangan Dibalik Melambungnya Harga Kebutuhan Pokok
Sudah menjadi rahasia umum. Kondisi pasar pangan Indonesia dikuasai oleh kegiatan kartel.
Dirut Perum Bulog Budi Waseso mengungkapkan secara blak-blakan kepada detik.com (21 Mei 2019) bahwa produk pangan Indonesia 94% dikuasai kartel-kartel. Sedangkan Bulog negara hanya menguasai 6% saja.

Tentu saja ini sebuah kabar buruk. Mencengangkan dan mengerikan. Sebab penguasaan kartel-kartel terhadap peredaran pangan di pasaran, akan mengakibatkan kondisi pasar menjadi pasar bebas. Adanya permainan harga yang menyebabkan harga-harga melambung tinggi tak terkendali. Kelangkaan komoditas pangan tertentu secara tiba-tiba. Termasuk tidak terkontrolnya kualitas produk di pasaran.

Definisi kartel sendiri adalah suatu hubungan adanya kerjasama antara beberapa kelompok produsen atau perusahaan dalam hal melakukan produksi barang serta memasarkannya yang bertujuan menetapkan harga, untuk membatasi suplai dan kompetisi.

Berdasarkan definisi tersebut, muara dari adanya kartel-kartel adalah keuntungan. Oleh sebab itu, menjadi hal yang lumrah jika setiap menjelang ramadhan dan lebaran, harga bahan pokok melambung tinggi. Sebab kebutuhan akan bahan pokok pada saat itu lebih meningkat dari biasanya.

Kapitalisme dan Suburnya Mafia Kartel
Maraknya mafia kartel menguasai pasar pangan Indonesia tak lepas dari sistem yang diterapkan di negeri ini. Terlebih lagi lemahnya hukum untuk menjerat mereka. Semakin menambah subur keberadaannya.

Pelopor ekonomi kapitalis liberal Adam Smith menyatakan bahwa setiap individu harus diberikan kebebasan untuk berusaha dalam persaingan yang sempurna. Tidak boleh ada monopoli negara dalam hal ini. Alasannya bahwa monopoli negara akan mematikan persaingan.
Teori ini menjadi dasar negara yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis.

Oleh karena itu menjadi sebuah keniscayaan adanya kartel-kartel pangan yang menguasai pasar Indonesia. Bahkan kartel-kartel ini tidak hanya pada sektor pangan namun juga merambah pada sektor lain.

Padahal dampak buruk yang dirasakan masyarakat akibat mafia kartel pangan ini begitu terasa. Sebagai contoh adalah melonjaknya harga cabai padahal pada saat yang sama petani sedang panen raya. Cabai dari petani dihargai sangat murah namun di pasaran harganya melambung tinggi.

Dalam sistem kapitalisme, tidak ada batasan kepemilikan. Setiap orang berhak mendapatkan harta dengan cara apapun selama memiliki modal. Termasuk menguasai sektor hulu pangan.

Sistem Islam Dalam Mengatasi Lonjakan Harga
Saat Islam diterapkan oleh sebuah negara, maka basis ekonomi yang dipakai adalah akidah Islam.

Sistem ekonomi Islam berbeda jauh dengan sistem ekonomi kapitalis.
Melonjaknya harga-harga akibat adanya peran kartel pangan tidak akan ditemukan dalam sistem Islam.

Setidaknya terdapat beberapa poin penting dalam penerapan sistem ekonomi Islam. Diantaranya:
1. Adanya mekanisme pengaturan kepemilikan yang jelas. Islam membagi kepemilikan dalam 3 bagian, yakni:
a. Kepemilikan individu
b. Kepemilikan umum
c. Kepemilikan negara
Setiap individu masyarakat diperbolehkan memiliki dan mengembangkan harta selama sektor yang dikelola bukan sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak.

2. Sistem ekonomi Islam bertumpu pada distribusi barang dan jasa. Tugas negara dalam Islam adalah sebagai pelayan masyarakat. Bukan pencari keuntungan. Negara memastikan ketersediaan barang dan jasa dengan harga yang terjangkau dan akses yang mudah. Mulai dari pengadaannya hingga pendistribusiannya di tengah masyarakat. Berbeda dengan sistem kapitalisme yang lebih menekankan pada produksi saja.

3. Adanya kontrol yang ketat dan sanksi tegas terhadap mafia perdagangan. Setiap oknum yang mempermainkan harga di pasaran seperti menimbun barang yang menyebabkan terjadinya kelangkaan barang di pasar akan ditindak dengan tegas.

Hal ini berdasarkan hadits riwayat dari Ma’qal bin Yassar ra yang mengatakan:
“Rasulullah Saw pernah bersabda, “Siapa saja yang mengintervensi harga di tengah-tengah kaum Muslim hingga dia bisa menaikkan harga dan memaksakannya kepada mereka maka kewajiban Allahlah untuk mendudukkannya dengan sebagai besar (tempat duduknya) di atas sebagian besarnya api neraka pada hari kiamat nanti.” ( HR Ahmad).

4. Negara tidak boleh mematok harga. Sebab Allah SWT telah memberikan hak kepada setiap orang untuk melakukan transaksi jual beli atas dasar suka sama suka.
Islam secara mutlak mengharamkan pematokan harga. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Anas ra. yang mengatakan:
“Harga pada masa Rasulullah Saw pernah membumbung. Lalu mereka melapor, “Ya Rasulullah, seandainya saja harga ini engkau patok(tentu tidak membumbung seperti ini).” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allahlah Maha Pencipta, Maha Penggenggam, Maha Melapangkan, Maha Pemberi Rezeki dan Maha Menentukan Harga. Sesungguhnya aku sangat ingin menghadap ke hadirat Allah, sementara tidak ada seorang pun yang menuntutku karena suatu kedzaliman yang aku lakukan kepadanya, dalam masalah harta dan darah.” (HR Ahmad).

5. Memaksimalkan swasembada pangan dengan membatasi impor.
Negara saat menerapkan sistem Islam, akan mendorong masyarakat untuk mengerahkan segenap potensi yang dimilikinya untuk berdaya guna. Dalam bidang apapun. Termasuk berswasembada pangan. Sehingga hasil panen masyarakat terserap oleh pasar dan tidak tergantung kepada impor.

Demikianlah sistem ekonomi Islam mengatur dan mengawasi pengadaan kebutuhan pokok masyarakat. Hal ini tentu saja hanya dapat dirasakan jika kaum muslimin menerapkan Islam secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Tidak lain kecuali saat Islam diterapkan dalam bentuk negara yakni daulah khilafah Islamiyyah.
Wallahu a’lam bish showwab

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.