Hakikat Sabar

Oleh : Eviyanti (Pendidik Generasi dan Member AMK)

Kata sabar berasal dari bahasa Arab yaitu as-shabru, yang berarti menahan diri dari keluh kesah. Salah satu dalil tentang kesabaran menurut Islam, Allah Swt berfirman:

“Bersabarlah kalian, sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar”.

Dalil ini menunjukkan bahwa sabar itu wajib.

Sabar pula menjadi pilar kebahagiaan seorang hamba, dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan. Konsisten menjalankan ketaatan dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan.

Orang yang mempunyai sifat sabar ketika ia mendapati ujian hidup, maka ia tidak akan berkeluh kesah, tidak akan marah, sakit hati ataupun putus asa.

Semua ujian yang datang ia hadapi dengan tenang, tanpa
berkeluh kesah, benci, dendam, tidak mudah putus asa, melatih diri dalam ketaatan dan membentengi diri agar tidak melakukan perbuatan keji dan maksiat.

Dalam menjalani kehidupan di dunia, seringkali manusia diberikan ujian oleh Allah Swt. Berhasil atau tidaknya manusia, tergantung pada pribadinya masing-masing. Akan tetapi, Allah Swt menawarkan cara dalam menghadapi ujian tersebut dengan bersabar.

Sebagaimana hadis yang menjelaskan, “Sangat menakjubkan semua urusan orang yang beriman, sesungguhnya segala urusannya itu sangat baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh seorangpun, kecuali orang yang beriman. Apabila ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka yang demikian itu sangat baik dan apabila ia tertimpa kesusahan ia sabar, maka yang demikian itu sangat baik baginya”. (HR. Muslim)

Sabar merupakan kata yang sering kali diucapkan oleh lisan. Orang yang memiliki sifat sabar akan memperoleh ketenangan, ketentraman iman dan kelapangan hati. Sabar memang bukanlah suatu perkara mudah yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, namun tidak pula mustahil seseorang memiliki sifat penyabar.

Orang yang beriman hendaknya bersabar atas segala ujian, cobaan dan musibah yang datang kepadanya. Percaya bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Ketika mendapatkan cobaan, maka bersabar dan ikhlas dengan apa yang terjadi.

Namun berbeda halnya dengan orang yang tidak sabar dan tidak ridha terhadap ketentuan yang telah ditetapkan Allah Swt. Mereka akan marah, kecewa dan sakit hati ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan dan keinginan mereka, senantiasa berkeluh kesah seakan tidak ada lagi nikmat Allah yang lainnya.

Padahal Allah Swt berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (TQS. al-Baqarah,153)

Terkadang manusia lupa untuk mendapatkan surga itu tidak mudah karena membutuhkan ketaatan yang dibarengi dengan keikhlasan dan kesabaran. Tidak cukup hanya sekedar menjalankan ibadah wajib saja.

Allah Swt berfirman: “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan mendapat surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami ) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”. (TQS. al-Baqarah,214)

Ayat tersebut mempunyai makna, bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan, ia akan terus beriman walaupun ujian menimpanya. Karena ia sadar itu adalah bentuk kasih sayang Allah padanya dan pertolongan Allah amatlah dekat.

Maka dari itu mari bermuhasabah diri, selalu menempatkan diri kita diposisi orang lain. Apabila terjadi hati kita tersakiti, mungkin dulu kita pernah menyakiti hati orang lain dan jadikan ini sebagai teguran dari Allah Swt untuk menyadarkan diri kita.

Wallahu a’lam bishshaawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *