Hadapi Pandemi, Makin Rindu Pemimpin Sejati

Oleh: Ade Farkah (Indramayu)

Covid-19, makhluk kecil tak kasat mata, begitu menakutkan masyarakat dunia saat ini. Kehadirannya tak pernah diharapkan. Sebaliknya, kepergiannya begitu didambakan. Sebab, ia telah memberikan dampak yang luar biasa pada dunia. Hingga menyebabkan hilangnya ribuan nyawa manusia. Berbagai analisa mengenai virus tersebut terus dilakukan. Mulai dari segi medis, sains,  ekonomi, politik, bahkan agama.

Kehadirannya yang begitu tiba-tiba membuat manusia di seluruh dunia risau. Tak ada persiapan untuk menyambutnya. Hampir semua lini kehidupan manusia dibuatnya lumpuh. Inilah yang akhirnya menuntut para ahli untuk segera bertindak memperbaiki situasi.

Sebagai pendatang baru di bidang virologi, Covid-19 telah mendatangkan berbagai perdebatan. Di antara yang diperdebatkan adalah mengenai asal usulnya. AS menganggap bahwa Covid-19 sebagai virus China. Sementara China memberi pernyataan yang sebaliknya, bahwa Covid-19 berasal dari Amerika. Terlepas dari itu semua, sebagai seorang muslim, tentu meyakini bahwa segala sesuatu berasal dari Allah SWT dan terjadi atas kehendak-Nya.

Covid-19 masuk ke Indonesia bertepatan dengan bulan Rajab 1441 H. Di awal kedatangannya, pemerintah negeri ini seolah-olah meremehkannya. Hal ini bisa disimak dari pernyataan beberapa petinggi negeri ini. Semula kedatangan virus ini menjadi bahan kelakar semata. Padahal sudah terpampang nyata keganasan virus ini di negeri China, negara pertama yang terpapar Covid-19. Seakan tak mau belajar dari kejadian yang ada sebelumnya, petinggi negeri seolah menggampangkan masalah yang dihadapi.

Covid-19 menjangkiti beberapa wilayah negeri ini. Korban pun mulai berjatuhan. Beberapa orang yang terinfeksi virus ini tak teratasi, akhirnya meninggal dunia. Makin hari angkanya makin bertambah.

Di bulan Rajab tahun ini negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini disibukkan dengan aksi perlawanan terhadap Covid-19. Padahal biasanya di bulan ini umat muslim akan mulai melakukan persiapan menyambut Ramadhan.

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan penting bagi umat muslim. Sudah menjadi pemahaman umum bagi umat muslim, bahwa di bulan Rajab ada peristiwa bersejarah dalam Islam, yaitu Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dimana Allah memperjalankan beliau dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjid Al Aqsha di Palestina dan dilanjutkan naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat 5 waktu.

Di bulan Rajab pula, peristiwa sejarah yang sangat penting bagi kaum muslimin terjadi. Runtuhnya Khilafah Islamiyah yang terakhir, Turki Utsmani, pada 28 Rajab 1342 H. Sejak saat itu kaum muslimin kehilangan institusi pemersatunya. Penegak Syariat-Nya. Perisai yang senantiasa melindunginya.

Kini kaum muslimin bercerai berai. Lemah. Terjajah. Nasionalisme telah mengoyak kesatuan dan persatuannya. Masing-masing negeri hanya peduli pada keadaan tanah airnya sendiri.

Kini, 99 tahun sudah kaum muslimin bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Tak ada sosok khalifah yang memimpin mereka, menyatukan, mengurus berbagai urusan mereka dengan hukum Allah. Melindungi kaum muslim dari berbagai kedhaliman.

Kini, kaum muslimin bagaikan buih di lautan. Besar jumlahnya tapi tak punya daya. Hingga kekuatan kafir begitu berani menginjak-injak harga dirinya. Bahkan tempat tujuan isra’ Rasulullah pun kini dalam cengkeraman kafir Israel laknatullah. Dan pemimpin muslim hari ini tak ada yang bergerak angkat senjata mengusir israel laknatullah dari bumi para Nabi.

Sungguh dada ini bergemuruh begitu dahsyat. Seakan tidak sabar menanti kehadiran sang pemimpin yang didamba. Yang akan menegakkan hukum Allah dan menjadi junnah (perisai) bagi umat muslim. Yang akan menjaga jiwa dan kehormatan setiap warganya, muslim maupun non muslim.

Harapan akan hadirnya sosok pemimpin sejati selalu tertanam di hati. Makin tumbuh subur dan tak kan pernah layu. Disirami dengan siraman iman hingga terus bersemi. Hingga saat pertolongan Allah tiba dengan dibaiatnya seorang Khalifah bagi kaum muslimin di seluruh dunia.

Mari kita renungkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra berikut ini.
” Sesungguhnya Allah SWT mengutus untuk umat ini pada akhir seratus tahun, orang yang memperbaharui untuk umat, agama mereka” (HR. Ahmad).

Sungguh hati ini begitu merindukan kehadirannya segera. Bersama kembalinya kekuasaan Islam yang dinantikan. Ditandai dengan tegaknya Khilafah Rasyidah di atas manhaj kenabian. Sebagaimana dalam hadits, “…Selanjutnya, akan kembali khilafah yang mengikuti manhaj kenabian” (HR. Ahmad).

Hadits-hadits tersebutlah yang senantiasa memompakan semangat pada jiwa kaum muslimin. Di tengah carut marutnya dunia saat ini, bisyarah (kabar gembira) Rasulullah itu mampu menghidupkan dan mengobarkan optimisme untuk terus berjuang. Keindahan saat-saat tibanya kemenangan itu selalu terbayang dalam setiap mimpi di hari-hari yang sulit.

Wahai kaum muslimin, tidakkah engkau bergembira atasnya? Kerahkan perjuanganmu. Songsong fajar kemenangan Islam yang akan segera terbit. Atas izin Allah SWT, kedatangannya akan menyapu sisa-sisa sekulerime, kapitalisme, liberalisme dan yang sejenisnya. Allahu Akbar. Jaa-al haqqu wa zahaqal baathil. Telah datang kebenaran dan hancurlah kebatilan. Tegaklah hukum-hukum Islam dan terwujudlah kerahmatan bagi seluruh alam. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *