Guru Sejahtera Generasi Terarah

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Yuslinawati (Member Forum Muslimah Peduli Umat)

Profesi sebagai seorang guru mungkin dambaan bagi beberapa orang. Selain gaji yang menjanjikan, sebagai muslim ia ingin anak dididik kelak menjadi anak penerus peradaban Islam yang gemilang. Walaupun tidak semua yang berprofesi sebagai guru memiliki gaji yang tinggi. Tetapi setidaknya, tujuan utama seorang guru adalah mendidik anak-anak generasi agar bisa menjadi yang terdepan terutama dalam segi agamanya.

Sayang seribu sayang disistem liberal ini banyak kemungkinan yang tidak terduga bisa saja terjadi. Seperti dilansir dari BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA – Minggu,19 Juli 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menghentikan tunjangan profesi guru PNS dan non PNS. Tunjangan profesi yang dihentikan tersebut tercantum dalam Peraturan Sekretaris Jenderal Kemendikbud Nomor 6 Tahun 2020. Dalam aturan tersebut, di Pasal 6 tercantum, tunjangan profesi ini dikecualikan bagi guru bukan PNS yang bertugas di Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK).

Keputusan Kemendikbud ini tentu menuai protes dari kalangan para guru. Seperti yang dilansir dari Media Indonesia.Com. (20/04/2020) IKATAN Guru Indonesia (IGI) memprotes langkah pemerintah yang memotong tunjangan guru hingga Rp3,3 triliun lewat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020. Dalam lampiran Perpres Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020, tunjangan guru setidaknya dipotong pada tiga komponen yakni tunjangan profesi guru PNS daerah dari yang semula Rp53,8 triliun menjadi Rp50,8 triliun, kemudian penghasilan guru PNS daerah dipotong dari semula Rp698,3 triliun menjadi Rp454,2 triliun.

Kemudian pemotongan dilakukan terhadap tunjangan khusus guru PNS daerah di daerah khusus, dari semula Rp2,06 triliun menjadi Rp1,98 triliun.Perpres Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 merugikan sejumlah pihak, yang justru sebetulnya membutuhkan dukungan lebih dari pemerintah di tengah situasi penyebaran virus korona, kata Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim dalam pernyataan tertulis yang diterima Media Indonesia, (20/4).

Tentu saja wabah yang tengah menimpa umat saat ini sangat berpengaruh bagi perekonomian rakyat. Mulai dari kalangan bawah, menengah bahkan sampai kalangan atas. Hingga gurupun harus menjadi sasarannya. Tentu ini tidak adil bagi para guru pengajar, pasalnya hidup yang penuh dengan ujian ekonomi membuat para gurupun harus memutarkan fikiran agar kehidupan terus bisa berjalan dengan normal. Kondisi ini, sangat berbeda dengan kondisi saat Daulah Islam tegak.

Profesi guru dalam Islam sangat dimuliakan

Di masa Daulah Islam, profesi guru sangat di muliakan, dan gaji yang didapatpun mampu membiayai kehidupanya, bahkan melebihi kebutuhanya sehari-hari. Misalnya pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al-Wadl bin Atha, ada tiga guru di Madinah yang mengajar anak-anak dan pada masing-masing guru sang khalifah Umar bin khattab memberi gaji 15 dinar ( 1 dinar =4,25 gram emas). Kalau dikalkulasikan gaji guru sekitar Rp 30.000.000.

Kesejahteraan akan terjadi pada seluruh umat, jika hukum yang diterapkan adalah hukum Allah Swt, karena sebagi hamba-Nya yang bertaqwa tentu akan mengikuti jejak Baginda Rasulullah Saw, karena beliau adalah sebaik baik contoh Dan suri tauladan yang wajib untuk kita ikuti. Sebagimana firman Allah Swt.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. Al-Ahzaab: 21].

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. [Q.S. Al-Qalam: 4]. (Kamu yang dimaksud pada ayat ini adalah Rasulullah SAW).

Sebagai sang pencipta langit dan bumi Allah Swt sudah mempersiapkan segalanya untuk kebutuhan hamba-Nya dan itu terlatak pada sumber daya alam (SDA), seperti minyak bumi, gas alam, berbagai jenis logam, air, dan tanah, semua itu berasal dari alam untuk memenuhi kebutuhan hidup semua makhluk-Nya.

Tapi sayang disistem demokrasi liberal saat ini dimana para penguasa lebih mementingkan para kapital dengan mudahnya mereka memberikan SDA untuk dilola oleh Asing dan swasta. Dari sinilah sumber petaka yang dialami umat saat ini. SDA harusnya tak boleh dikelola secara pribadi (privatisasi). Negaralah yang harus mengelolanya, karena SDA adalah untuk kebutuhan Umat, bukan kebutuhan para kapital seperti sekarang ini terjadi.

Jika SDA ini dikelola oleh Negara, maka tidak akan ada lagi kemiskinan, tidak ada lagi orang yang kelaparan, tidak ada lagi Kezoliman dan tidak ada lagi pengurangan gaji pada para guru pengajar. Yang ada hanya kesejahteraan dan gaji yang cukup besar yang akan diterima oleh para guru. Namun begitu, besarnya gaji yang didapat tidak menjadi ukuran bagi mereka, tujuan yang utama adalah mereka mampu mendidik anak-anak penerus peradaban Islam yang taat pada syariat.

Maka dari itu wajar jika dimasa Daulah Islam berjaya, mampu mencetak generasi-generasi hebat, tangguh dan cerdas. Di tangan para pemuda pulalah yang nantinya akan memberikan perubahan demi kemajuan Islam.

Dengan didikan yang penuh dengan ketaatan pada syariat, para pemuda penerus peradaban Islam dimasa itu, tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang diberikan Allah Swt. Maka Rasulullah Saw berpesan kepada kita dengan salah satu hadist beliau berbunyi” Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai Allah menanyakan empat hal: umurnya, untuk apa selama hidupnya dihabiskan; masa mudanya, bagaimana dia menggunakannya; hartanya, darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskan; dan ilmunya, apakah dia amalkan atau tidak. (HR Tirmidzi).

Selain orang tua, jasa para guru juga sangat dibutuhkan untuk dapat membantu mendidik anak-anak mereka yang menjadi harapan bagi peradaban Islam yang gemilang. Jangan sampai para pemuda yang menjadi tumpuan dan harapan bagi masa depan Islam, harus terabaikan pendidikannya, terutama didikan agamanya.

Dalam surat an-Nisa ayat sembilan Allah SWT berfirman yang maknanya, hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Pada intinya jangan sampai kita meninggalkan generasi yang lemah ilmu, agama dan akhlaknya demi kemajuan Islam.

Wallahu A’lam Bishawab

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.