Grow Up, Just For Having Fun? Say No!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Rasya Shafa Hadza (Santri Ponpes Darul Bayan Sumedang)

 

Dewasa? Apa yang terlintas dalam benak kita mendengar kata dewasa? Pacaran? Bioskop? Gaul? Pesta? Hunting? Ootd? Fashion? Rokok? Idealis? De el el

Kayaknya kalau ditanya apa itu dewasa. Masing-masing orang punya definisi sendiri. Kalau dewasa ditanyakan ke teman remaja cowok, kayaknya dewasa itu identik dengan rokok. Kalau gak ngerokok katanya gak dewasa. Katanya gak jantan. Bener ga sih? Sepertinya kriteria itu gampang banget dirobohin. Gimana enggak, lha masa kriteria dewasa ukurannya rokok. Lah kalau nanti ada orang sampai tua gak ngerokok bisa dibilang dia gak dewasa dong? Lagian ngerokok kalau dijadikan standar jantan atau gak lah memang pada faktanya sekarang gak sedikit kaum hawa yang juga ngerokok. Apa dia juga disebut jantan? Kan gak?..

Berikutnya kalau kriteria dewasa adalah berani pacaran atau yang sudah punya pacar, ini juga indikasi yang absurd. Apa kalau sudah punya pacar terus mereka berani nikahin? Buktinya, nggak gitu mereka yang sudah berada pada taraf perguruan tinggi atau bekerja sekalipun terus mereka pacaran buktinya gak ada nyalinya untuk ngajak ke pelaminan. Apalagi kalau pacaran anak bau kencur, pastilah bukan untuk tujuan nikah, tapi hanya sekedar main-main. Ups kalau cuman main-main itu kan pekerjaannya anak-anak bukan orang dewasa. Nah lho. Hati-hati!

Dan masih banyak lagi kriteria dewasa yang bisa dibuat siapa saja yang mau membikinnya. Tapi boleh gak sih kita bikin kriteria sendiri-sendiri? Bayangkan kalau masing-masing orang dikasih wewenang untuk bikin kriteria benar-salah. Baik buruk terpuji tercela kira-kira apa yang akan terjadi? Ya. Pastinya bakalan kacau dong. Persis kaya lalu lintas di jalan raya, kalau dibiarkan orang bikin aturan sendiri dalam berlalu lintas, pejalan kakinya di tengah jalan, mobil melaju zig zag, sepeda motor melawan arus, bisa kebayang dong betapa kacaunya lalu lintas.

Nah. Disinilah perlu banget kita tahu pengertian dewasa menurut bahasa indonesia menurut kbbi ada 3 macam: pertama, dewasa artinya sampai umur (akil baligh), bukan kanak-kanak atau remaja. Kedua, dewasa adalah orang yang mencapai kematangan kelamin. Ketiga, dewasa maksudnya orang yang sudah matang tentang pikiran, pandangan dsb.

Dalam khazanah hukum islam sendiri, dewasa dikenal dengan istilah baligh. Prinsipnya, seorang lelaki yang sudah baligh kalau sudah pernah bermimpi basah, mengeluarkan sperma (ihtilam) sedangkan seorang perempuan disebut baligh kalau sudah menstruasi (haid). Berapa umurnya? Masih sangat variatif karena terkadang seorang cowok ihtilam dan cewek haid sangat dipengaruhi banyak hal. Bisa jadi ada yang sudah ihtilam atau haid sebelum umur 12 tahun. Tapi ada juga yang diatas umur 12 tahun belum juga haid atau ihtilam.

Nah sejak akil baligh saat itu episode telah dimulai. Kalau kita sudah ihtilam atau haid saat itulah kita sudah dewasa. Saat itu juga Allah telah menghitung segala amal perbuatan kita. Makanya gak bisa kita asal aja ngelakukan aktifitas atau just having fun. Baligh atau dewasa artinya kita dianggap mampu membedakan baik dan buruk secara sadar. Mampu memilih jalan selamat atau terlaknat. Kita telah bertanggung jawab atas segala perbuatan baik dalam masalah pahala atau dosa.

So. Dewasa itu pilihan saat kita sudah masuk kategori dewasa. Saat itulah semua pilihan perbuatan terserah kepada kita. Karena kita sudah harus mampu memaksimalkan akal atau pikiran kita (hidayatul aql) dan kita sudah disuguhi oleh Allah hidayatul dien (petunjuk). Nah, tinggal kita memilih atau gak dari keduanya.

Dan ditangan pemudalah semuanya bisa di rubah. Jika pemudanya yang sudah baligh enggan memaksimalkan akal pikirannya. Enggan belajar maka keengganannya menyebabkan dirinya rusak bahkan juga bisa merusak orang lain.

Mulailah berfikir dewasa karena kemunduran umat lebib disebabkan dari merosotnya taraf berfikir. Karenanya langkah bijaksana tentu saja adalah berupaya bagaimana meningkatkan taraf berfikir umat islam. Berusaha memberikan gambaran yang jelas tentang pentingnya islam bagi kehidupan kaum muslimin. Dan jangan lupa rutin ikut kajian agar benteng keimanan kita terus menguat dan mental kita kokoh sehingga rasa hidup having fun akan hilang sendirinya. Jadi, daripada merokok mending kita bersholawat. Daripada pacaran mending baca Alqur’an.

Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.