Good Looking Is Everything?

Oleh : Arumi Nasha Razeta

Good looking merupakan kalimat dalam Bahasa Inggris yang memiliki makna penampilan menarik. Penampilan menarik ini  mencakup dua aspek yaitu fisik dan non fisik. Secara fisik artinya memiliki penampilan yang ganteng, cantik, cakep, tampan, rupawan dsb. Secara non fisik terkait tindak tanduk, perangai, adab dsb.

Saat kita bertemu seseorang untuk pertama kali, yang kita lihat adalah wajahnya, penampilannya. Hal ini biasa disebut dengan Judgement in 30 Sec (penilaian pada 30 detik pertama). Disitulah kita menilai seseorang berdasarkan  lookingnya. Namun tidak hanya berhenti disitu saja dalam proses pengenalan terhadap seseorang. Kemudian perlu juga untuk mengakses segala sesuatu yang bukan hanya bersifat visual. Seperti cara bicaranya, perbuatannya, tata kramanya dll.

Pada puncaknya perlu bagi kita untuk mengakses visinya, pemikirannya/Ideologinya. Kemudian muncul pertanyaan Good looking is everything? Jawabannya tergantung pada level mana kita berada. Bila kita berada pada level awal dimana looking atau penampilan yang dijadikan tolok ukur, maka good looking itu perlu. Standar good looking pada masing-masing orang tidaklah sama.

Namun bila kita telah berada pada level berikutnya bahkan level terakhir, maka good looking bukanlah segalanya. Sebagaimana kisah sahabat yaitu Zahid dan Zulfa. Dimana dikisahkan Zahid adalah seorang sahabat yang berumur 35 tahun namun belum menikah. Dikarenakan Zahid bukanlah sosok seorang pemuda yang good looking, pun dia bukanlah orang yang berharta.

Kemudian Rasulullah menulis sebuah surat lamaran dan meminta Zahid untuk membawanya ke ayahnya Zulfa. Sesaat setelah mengetahui bahwa Zahid datang untuk melamar dirinya, Zulfa sontak menangis tersedu-sedu. Yang ada di benaknya adalah mengapa dia harus menikahi Zahid, yang secara rupa dan harta tidak bagus. Hal ini dikarenakan Zulfa menilai Zahid hanya pada level pertama, dimana yang dijadikan tolok ukur adalah penampilan.

Kemudian sang ayah memberitahukan kepada Zulfa, bahwa itu adalah perintah Rasulullah. Mendengar hal ini, serta merta Zulfa lantas menerima lamaran Zahid. Dikarenakan penilaian Zulfa terhadap Zahid berubah. Apabila Rasulullah sendiri yang melamarkan dirinya untuk Zahid, pastilah ada keistimewaan dalam diri Zahid yang diakui Rasulullah.

Dari kisah diatas dapat kita ambil pelajaran, bahwa dalam menilai seseorang, janganlah hanya berdasarkan penampilan fisik semata. Perlu juga kita menilai hal-hal lain yang ada dalam diri orang tersebut. Bahkan sampai pada tingkat pemikirannya/ideologinya. Sejak dahulu hingga sekarang ini penampilan yang menarik, wajah yang rupawan menjadi suatu tolok ukur untuk mengatakan seseorang itu good looking.

Hal ini bermula sejak abad ke 17 (dimana merupakan abad dari awal mula penjajahan terjadi). Pada saat ini bangsa-bangsa kulit putihlah yang superior. Kemudian diciptakan suatu nilai-nilai imaginer dimana cantik itu harus berkulit putih, hidung mancung, rambut Panjang dsb. Menurut Naomi Wolf dalam bukunya “The Beauty Myth”, dijelaskan bahwa mitos-mitos seperti ini merupakan upaya masyarakat patriarcal untuk mengendalikan kaum perempuan melalui kecantikannya.

Disamping itu, mitos kecantikan juga merupakan anak emas yang dibanggakan bagi masyarakat patriarki yang dikonstruksikan kedalam nilai sosial budaya. Sehingga apa yang dikatakan mitos kecantikan ini menjadi kebenaran yang absolut. Dalam hal ini kemudian wanita sadar fashion dan beranggapan bahwa penampilan tubuh adalah asset. Asset ini  dapat ditukarkan untuk memperoleh gengsi, kekaguman, pekerjaan dan harga diri. Hingga zaman sekarang ini mitos kecantikan dibuat demi kepentingan penjajahan untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya.

Padahal segala bentuk yang ada pada diri kita, baik wajah, bentuk tubuh, bentuk rambut dsb, adalah hal untuk mengenal antara yang satu dengan yang lainnya. Ketika orang-orang menjadi insecure terhadap standard yang sengaja dibuat oleh para pemilik modal (kaum borjuis), maka akan muncul banyak permasalahan. Hal ini menyebabkan orang-orang meninggalkan poin yang utama, yaitu menjadi kualitas manusia sebaik-baiknya – Taqwa.

Dengan adanya insecure ini, maka sibuklah manusia mulai memoles diri-diri dan wajah-wajah mereka. Mereka menggunakan berbagai produk kecantikan yang diiklankan dapat memutihkan wajah bahkan seluruh badan. Mereka menggunakan obat-obatan yang dikatakan mampu menurunkan berat badan mereka. Bahkan sampai pada tingkat ekstreem, mereka melakukan operasi plastik untuk merubah bentuk wajah atau tubuh yang menurut mereka tidak menarik. Guna memenuhi standar mitos kecantikan yang ada,  sehingga melupakan amal-amal mereka.

Orang-orang dikekang untuk melihat wajah-wajah dan harta-harta mereka yang notabene nya adalah materi. Melihat materi bukanlah suatu masalah, namun ketika segala sesuatunya diukur berdasarkan materi, akan menimbulkan permasalahan yang besar. Good looking dalam islam adalah bagaimana kita menjaga dan merawat diri kita dengan sebaik-baiknya. Bukan lantas merubah ciptaan Allah yang ada pada diri kita.

Ketika materi yang Allah ciptakan dengan kesempurnaan-Nya, kemudian dicampur-tangani oleh manusia akan mengakibatkan kerusakan yang besar. Tatkala hal ini diidolakan, maka bisa menjadi berhala-berhala baru, sesembahan-sesembahan baru. Yang membuat kita tidak lagi memikirkan amal-amal dan ibadah kita. Karena yang terpikirkan hanyalah “Kapan kita bisa menjadi seperti idola-idola kita”.

Materi, fisik itu relatif. Kerelatifan itu berubah karena ada patokan-patokan nilai untuk kepentingan komoditas dagang para kapitalis. Ada sebuah hadist :

 Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kamu juga tidak memandang kepada harta kamu, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amalan kamu. (HR. Muslim)

Marilah kita sadari, Allah tidak pernah menciptakan manusia yang jelek. Cantik atau jelek hanyalah persepsi yang dibangun dalam masyarakat kita berdasarkan tolok ukur manusia. Semua yang ada pada diri kita saat ini adalah karunia Allah yang harus kita syukuri. Mulailah Perbaiki amal-amal ibadah kita, demi mendapatkan kecantikan yang sesungguhnya dimata Allah.

Wallahu a’lam bissawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *