Gerakan Pelihara Satu Ayam Atasi Stunting, Inspiringkah?

Oleh: Desi Ratna Wulan Sari (Penulis, Member Komunitas Revowritter Bogor)

Masalah kekurangan gizi atau stunting pada masyarakat tidak bisa di pandang remeh lagi. Pasalnya masih banyak masyarakat khususnya anak-anak Indonesia yang masih mengalami gizi buruk ini.

Seiring menguatnya desakan banyak pihak agar pemerintah serius menurunkan angka stunting, menteri Moeldoko didukung Mentan akan meluncurkan gerakan nasional pelihara satu ayam tiap rumah. Dengan itu diharapakan terselesaikan masalah gizi buruk yang dialami keluarga miskin.

Memang selayaknya masalah tersebut menjadi tanggung jawab negara memikirkan solusi atas permasalahan ini. Alih-alih memecahkan persoalan stunting dengan berbagai macam rancangan kerja yang dipersiapkan secara serius, justru pemerintah seakan-akan menemukan satu jalan keluar dengan melakukan gerakan nasional “inspirimg” yang sesuai dengan akar masalahnya.
Mengutip salah satu media online, Moeldoko mengusulkan agar satu keluarga memelihara ayam untuk memenuhi kebutuhan Gizi Anak. Ia mengatakan pemenuhan gizi anak bisa dilakukan dengan memberi asupan telur dari ayam yang dipelihara tersebut (CNN Indonesia, 15/11/2019).

Faktanya bagi keluarga miskin memelihara satu ayampun membutuhkan modal seperti pakannya, kandangya, pasangannya untuk bertelur, yang tidak murah bagi mereka. Justru menambah beban pemeliharaan bagi keluarga miskin. Inikah solusi inspiring?

Sepatutnya Negara tidak sekedar membuat gerakan nasional yang bertumpu pada keaktifan anggota masyarakat menjalaninya. Namun Negara dituntut membuat kebijakan menyeluruh menghapus kemiskinan dengan pengelolaan yang benar terhadap Sumber Daya Alam, memaksimalkan pemberian layanan kebutuhan masyarakat secara gratis berkualitas, khususnya bagi masyarakat miskin.

Mengandalkan pada gerakan nasional menjadi ukuran makin lepasnya tanggung jawab negara terhadap pemenuhan kemaslahatan rakyat.

Dalam Islam dijelaskan bahwa tidak boleh ada kaum lemah di Islam. Karena orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah.

Sehingga masalah stunting tidak akan terjadi jika dilakukan pencegahan dan perhatian nyata dari pemimpin umat, layaknya yang pernah dilakukan khalifah Umar Bin Khatab saat menemukan rakyatnya yang kelaparan, beliau langsung membawa sendiri sekarung makanan bagi Keluarga tersebut. Dilanjutkan dengan memenuhi kebutuhan keluarga miskin itu hingga kuat dan mampu bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Apa yang dilakukan khalifah Umar semata-mata karena ketakutannya atas azab Allah, jika dalam mengemban amanah sebagai kepala negara masih ada rakyatnya yang terzalimi. MasyaAllah sebuah cerminan pemimpin yang dirindukan. “This is true inspiring”. Wallahu a’lam bishawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *