Generasi Muda Terpapar Sekulerisme

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Dini Prananingrum (Yogyakarta)

Belum lama ini, media kembali dihebohkan dengan ditemukannya 37 pasangan anak SMP yang melakukan pesta seks berkedok ulang tahun di sebuah hotel di Jambi. Petugas menemukan barang bukti berupa kondom, obat kuat dan miras.

Sungguh sangat miris, karena pelakunya adalah anak dibawah umur, usia 13-15 tahun. Anak-anak dengan usia produktif ini, seharusnya ditempa dan menempa diri dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat sebagai bekal untuk menjadi pemimpin masa depan. Melakukan hal-hal produktif yang bisa memberikan sumbangsih untuk bangsa dan Negara. Bukan menjadi generasi hedonis sekuler yaitu generasi yang menjadikan kesenangan dan kebahagiaan sebagai tujuan hidup tanpa memperhatikan halal-haram serta lebih mengedepankan hawa nafsunya hingga menjerumuskan mereka ke lembah nista dan akan merusak masa depan.

Memang bukan salah mereka sepenuhnya. Selain lemahnya iman dan aqidah para remaja, ada lost control dari pihak-pihak yang menyebabkan mereka mudah terjerumus dalam kemaksiatan. Yaitu orang tua, pergaulan atau lingkungan, media dan sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini adalah hal yang sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku mereka.

Orang tua yang cuek, sibuk bekerja bahkan minim ilmu agama akan menyebabkan anak semakin terbawa pada arus pergaulan bebas. Maka orang tua harus senantiasa hadir dalam kehidupan sang anak, membersamainya juga memberikan pendidikan terbaik serta membentuk anak-anaknya menjadi generasi yang kuat iman dan berakhlaq mulia. Orang tua juga harus memilihkan lingkungan dan pergaulan yang baik, agar anak tidak mudah melanggar norma-norma agama, hukum dan sosial.

Media Televisi, maupun medsos juga memberikan dampak cukup besar bagi generasi muda. Tayangan yang didominasi dengan adegan pacaran adalah langkah awal menuju perzinahan dan seks bebas.  Maka seharusnya Menkominfo sebagai kepanjangan tangan pemerintah bisa memfilter tayangan-tayangan Televisi atau conten video di medsos yang layak ditotonton remaja dan anak-anak. Menggantinya dengan tayangan yang positif dan menarik namun tetap bisa menguatkan keimanan dan ketaqwaan.

Pun sistem pendidikan sekuler (paham yang memisahkan agama dan kehidupan) yang dipakai di negeri ini sudah seharusnya di tinjau ulang. Diganti dengan sistem pendidikan Islam yang mampu menyentuh kesadaran dan keimanan siswa sebagai bekal dalam bertingkah laku. Sebuah penyadaran pentingnya belajar sebagai modal kehidupan yang membentuk etika dan takwa. Hingga mereka tidak mudah tergerus pada perilaku menyimpang dan pergaulan bebas, serta lebih memilih menyibukkan diri pada kebaikan dan hal yang mendatangkan manfaat untuk umat dan Negara. Dengan itu semua, maka generasi muda akan terbebas dari pergaulan bebas dan sekulerisme. Namun semua itu akan dengan mudah terwujud dibawah naungan Institusi yang shohih yaitu Khilafah Islamiyah.

Wallahua’lam Bishowab

 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.