Generasi Durhaka, Hasil Jeratan Kapitalisme

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Ummu Syanum (Anggota Komunitas Setajam Pena)

 

“Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu ia bertanya,’Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab,” Ibumu ” Siapa lagi” Ibumu “” Siapa lagi” Ibumu”” Siapa lagi” “Bapakmu.”(H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

 

Setiap orang tua pasti berharap mempunyai anak yang senantiasa memperlakukan mereka dengan baik sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah. Tetapi, kenyataanya tidak sedikit orang tua yang mengeluh dan mengadukan perilaku anaknya yang sudah terlewat batas. Bahkan, tidak sedikit anak yang mengadukan orang tua karena kesal ke kepolisian.

 

Kasus yang membuat kita miris melihatnya, dimana di Bandung seorang anak kandung menggugat ayahnya RE Koeswara 85 tahun senilai 3 miliar, karena dianggap mengingkari perjanjian kontrak (sewa tempat). Deden sang penggugat tak lain adalah anak kandung Koeswara adalah pemilik warung kelontong yang menyewa tanah milik almarhumah kakeknya sejak 2012 lalu. Saat ini salah satu ahli waris tanah itu adalah ayah Deden, yakni R E Koeswara.

 

Dalam perjalanan sidang kasus ini Masitoh yang tak lain adalah adik Deden yang mendampingi kakaknya untuk menggugat tanah waris milik ayahnya meninggal karena penyakit jantung pada Senin (18/1/2021). Ia dimakamkan Selasa (19/1/2021) dihari yang sama dengan persidangan (KOMPAS.COM, 22/1/2021).

 

Menurut Dedi Mulyadi  Anggota Komisi IV DPR RI, warisan baru akan dibagikan kepada anak-anak ketika orangtuanya meninggal, sesuai dengan ketentuan dan aturan agama.

 

Sebenarnya kasus anak menggugat orang tua tidak hanya itu saja. Beberapa waktu lalu seorang ibu di Demak, Jawa Tengah dilaporkan anak kandungnya ke polisi yang akhirnya harus mendekam dalam sel tahanan hanya karena sang ibu jengkel pada si anak yang telah membuang baju-baju anak yang menyebabkan terjadinya perkelahian antara ibu dan anak (news.detik.com, 9/1/2021).

 

Selain itu, di Nusa Tenggara Barat, seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi karena masalah motor, yang pada akhirnya laporan tersebut di tolak langsung (tribunnews.com, 29/6/2020).

 

Contoh kasus diatas menunjukkan bahwa betapa jauhnya keluarga dari Islam. Mereka menjalani tuntunan hidup yang telah banyak kehilangan nilai-nilai Islam. Adanya sistem sekuler yang melengkapi, menjadikan interaksi dalam keluarga hanya sebatas materi yang diukur dengan untung dan rugi.

 

Asas sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan, menjadi kunci lahirnya generasi durhaka, dimana tidak ada lagi rasa hormat kepada orang tua. Namun hanya materi sebagai nilai tertinggi.

 

Dalam Islam kehidupan keluarga merupakan salah satu penentu utama keberhasilan seorang anak serta lahirnya generasi yang Islami. Dari keluarga anak mulai belajar tentang Islam. Adanya keharmonisan adalah wujud keberhasilan membina keluarga yang mampu menyejukkan pandangan.

 

Islam mendidik generasi yang menghormati orang yang lebih tua, menyayangi sesama dimana mewajibkan anak menjadi “Birul Walidayn” dan memuliakan orang tua. Semua itu akan terwujud saat kita menerapkan khilafah yang sudah terbukti mendidik generasi yang unggul bukan generasi yang durhaka.

Wallahu’alam bishowab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.