Generasi Cetakan Sistem Sekuler-Liberal, Pendukung LGBTQ+

Oleh: Rumaisha 1453 (Aktivis BMI Kota Kupang)

Bagaikan api yang berjumpa dengan semak-semak kerontang. Hangus menghitam. Semuanya, tak tersisa. Begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi kehidupan di sistem kapitalis-liberal hari ini. Kemaksiatan merajalela tak terhentikan. Orang-orang yang bermaksiat didukung dan dibangga-banggakan. Apalagi ketika berjumpa dengan insan berakal yang luput akalnya.

Berbicara tentang kemaksiatan yang merajalela, kembali lagi kita melihat apa-apa yang terjadi di negeri kita tercinta ini. Negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tapi pada kenyataannya, masih memberi peluang untuk kemaksiatan merajalela. Beberapa waktu yang lalu, perusahaan multinasional Unilever secara terang-terangan menyatakan mendukung LGBTQ+ melalui akun sosial media resminya. Dan terlebih lagi, diantara 20 perusahaan Unilever yang mendukung hal ini, ada Google. (https://www.hops.id, 26/06/2020)

Tentu saja hal yang dilakukan oleh perusahaan Unilever ini membuat masyarakat, netizen Indonesia bergejolak. Lebih dari itu ajakan untuk memboikot produk-produk Unilever pun menggema dari berbagai kalangan. Seperti yang dilakukan oleh netizen di instagram dengan himbauan untuk tidak lagi menggunakan stiker dan hashtag pelangi pun banyak ditunjukkan sebagai upaya penolakan terhadap Unilever. (https://cirebon.pikirkan-rakyat.com, 28/06/2020). Serta penolakan yang dilakukan oleh MUI dengan menghimbau akan boikot produk-produk Unilever karena pro LGBTQ+. Seruan ini disampaikan langsung oleh ketua komisi Ekonomi MUI. (https://republika.co.id, 29/06/2020).

Apakah dengan banyaknya dukungan pemboikotan barang-barang Unilever ini menjadi sebuah solusi untuk menghentikan LGBTQ+ di Negeri ini? LGBTQ+ bukanlah hal baru di Negeri ini. Tanpa kita sadari banyak individu yang hidup bersama kita juga memiliki pemikiran yang demikian. Mereka menganggap bahwasannya LGBTQ+ itu adalah hak individu yang kita tidak bisa melarangnya. Karena jika kita melarang, tanpa kita sadari telah melanggar yang namanya Hak Asasi Manusia (HAM) yang digaung-gaungkan oleh kafir penjajah yaitu Barat.

Mungkin sebatas memboikot barang-barang produksi dari perusahaan ini, efeknya sementara . Karena masih banyak agenda yang akan diluncurkan oleh kalangan ini, agar mendapat dukungan dari masyarakat. Apalagi dalam kehidupan yang liberal saat ini. Semua orang bebas bereskpresi sesuai dengan keinginan, tanpa memikirkan lagi mana yang baik dan buruk. Apa saja yang dilarang oleh syara atau Islam, tidak lagi dihiraukan.

Begitulah kondisi yang terjadi didalam sistem sekuler-liberal, agama tak dibawah saat berinteraksi atau berhubungan sosial kemasyarakatan. Seakan-akan peran agama hanya pada lini spiritual atau kerohanian semata. Sistem pergaulan, pendidikan, serta penerangan atau media, lagi-lagi dipisahkan dari agama. Sehingga wajar, hal seperti ini sering terjadi disistem bobrok ini. Dan tentunya, sudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja oleh orang-orang dan generasi cetakan sistem sekuler-liberal. Kecuali bagi mereka yang mau berpikir dan kritis atas permasalahan disistem ini.

Semestinya perlawanan terhadap LGBTQ+ ini dilakukan dengan upaya yang sistematis. Tidak asal-asalan seperti solusi tambal sulam ala sistem saat ini. Iya, sudah tentu umat harus diajak berpikir untuk segera menggantikan sistem saat ini dengan sistem Islam. Karena memang pada kenyataanya hanya sistem Islamlah yang bisa memecahkan seluruh permasalahan umat saat ini, khususnya LGBTQ+.

Dalam sistem Islam tata pergaulan atau interaksi antara manusia, baik interaksi lawan jenis maupun sesama jenis telah diatur dengan begitu runut. Karena akibat tata pergaulan atau interaksi yang salah akan terjadi hal yang demikian. Begitu pula dalam hal penerangan, penerangan maksudnya media. Media-media dalam sistem Islam tidak lagi menayangkan hal-hal yang akan memicu terjadinya hal demikian. Seperti yang terjadi saat ini yaitu konten-konten korea yang berbau LGBTQ+.

Dalam sistem Islam juga, kurikulum pendidikannya berlandaskan pada aqidah Islam. Sehingga hal-hal seperti ini jarang atau bahkan tidak terjadi. Karena yang ditanamkan atau yang menjadi landasan adalah ketaatan total kepada Sang Pencipta. Berbeda jauh dengan kurikulum pada pendidikan sekuler hari ini, sehingga membuat generasi yang dicetak dari pendidikan saat ini adalah generasi yang taatnya pada hawa nafsu dunia semata.

Oleh karena itu sebagai generasi penerus peradaban, mari bersama-sama berjuang untuk menegakkan kebenaran dan mencegah kemaksiatan yang terjadi di bumi Allah Swt. Kerusakan yang terjadi saat ini, diakibatkan ulah tangan manusia sendiri, dan bencana yang datang karena kemaksiatan sebagian mereka, tidak lantas memilah-milah, tetapi semuanya akan terkena alias sapu rata atas murkanya Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah agar menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka. Agar mereka kembali (kejalan yang benar)”.

WalLahu a’lam bi ash-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *