Gelaran KUII dan Geliat Kebangkitan Umat

Oleh: Ammylia Rostikasari, S.S (Komunitas Penulis Bela Islam)

Majelis Ulama Indonesia akan menggelar Kongres Umat Islam ketujuh yang diselenggarakan di Bangka Belitung pada 26 – 29 Februari 2020 mendatang. Kongres tersebut mengusung tema “Strategi Perjuangan Umat Islam Indonesia untuk mewujudkan NKRI Maju, Adil, dan Beradab“ rencananya akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo.

Wasekjen MUI Bidang Ukhuwah Islamiyah, Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan, Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) merupakan forum tertinggi bagi umat Islam Indonesia. Forum ini dilakukan untuk membahas isu-isu terkait dengan kehidupan umat Islam di Indonesia.

Zaitun menambahkan, jika dilihat dari sejarahnya, kongres pertama menjadi tonggak sejarah lahirnya kesepakatan umat Islam dalam proses politik serta melahirkan Majelis Islam A’la Indonesia. (Republika.com/9/2/2020)

Menjelang pelaksanaan kongres tersebut, MUI pun kian memantau wacana yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Narasi atau perbincangan yang hadir di media sosial Indonesia, khususnya twitter, mencerminkan kondisi yang kurang sehat. Sekalipun tema ekonomi masih menjadi pembahasan paling menonjol, namun pembahasan mengenai khilafah dan radikalisme berada di posisi ke dua dan ke tiga sebelum disusul tema pendidikan. Ini mengindikasikan bahwa perbincangan umat tidak terlalu produktif.

Hal itu disampaikan oleh Pendiri Media Kernels Indonesia (Drone Emprit), Ismail Fahmi, saat memberikan pemaparan dalam FGD Pra Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) Ke-7 tema Media dan Pers di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (21/01).

Perdebatan mengenai radikalisme dan khilafah itu, menurut Fahmi, tidak produktif khususnya bagi umat Islam. Mengingat banyaknya umat yang masih tertinggal, maka diskusi di sosial media sebaiknya diisi diskusi yang lebih bermanfaat seperti pendidikan dan sejenisnya. Dia juga menerangkan bahwa ada kelompok tertentu yang memang berusaha memunculkan diskusi radikalisme dan khilafah itu. Menurutnya, umat sebaiknya tidak merespons tema itu dan membuat tema-tema sendiri yang lebih produktif sehingga konten di sosial media lebih kaya dan mencerahkan umat. (Voa-Islam.com/22/1/2020)

Mengapresiasi rencana pelaksanaan kongres tersebut. Mengingat para ulama yang memiliki peranan penting dalam mengkritisi permasalahan negara dan menentukan solusi hakiki dalam penuntasannya.

Hanya saja memang ada ungkapan yang dinilai kurang berdasar mengenai radikalisme dan khilafah yang dianggap tidak produktif bagi masyarakat. Seolah kata radikalisme yang selama ini dianggap kegentingan yang dipaksakan hampir selalu disanding-sandingkan dengan konsep khilafah yang merupakan bagian dari ajaran Islam. Khilafah pun diopinikan sebagai sesuatu yang tidak produktif, mengancam NKRI, bahkan dibuat menjadi hal yang ditakuti.

Kekhawatiran yang berlebihan pada sesuatu yang justru akan menjadi juru selamat bagi negeri ini. Ketakutan akan khilafah memang bukan terjadi pada periode ke 2 Pemerintah Joko Wi. Ketika kolonial Belanda masih betah menjajah Indonesia pun, mereka pandai memojokkan bahkan mengkriminalkan siapa pun yang berhubungan dengan syariah Islam dan Khilafah. Tertera dalam koran Het Nieuws van Dag Voor Nederlandsch-Indie, pada 10 Juni 1915: “Siapa saja yang menghidupkan di antara penduduk pribumi gagasan sesat yang ada hubungannya dengan khalifah Utsmani Turki, pada dasarnya melakukan tindakan pengkhianatan terhadap kekuasan kami,”.

Mengingat karut marutnya negeri ini terutama dari bidang ekonomi memang hampir semua masyarakat tidak ada yang tak sependapat. Begitu pun kasus korupsi yang kian menggurita yang mengakibatkan masyarakat menderita. Ditambah lagi dengan krisis ekonomi yang diwarnai kekacauan moneter, inflasi, juga membengkaknya utang luar negeri membuat negeri ini semakin tak mandiri.

Diperparah lagi dunia pendidikan yang dicoreng bullying bahkan tawuran, dan para pelajar fokus diarahkan menjadi budak-budak kapitalisme yang hanya siap mencetak uang tanpa banyak ditempa adab, menjadi deretan bukti bahwa negeri ini tengah dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Umat Islam sudah sangat jemu. Umat Islam mulai peka untuk menganalisis apa yang terjadi dan apa sebenarnya yang menjadi faktor pemicu permasalahan yang kian bersambung dari aspek kehidupan yang satu ke aspek kehidupan yang lain. Umat mulai menemukan titik terang. Bahwa semua kekacauan dalam hidup umat karena terus dijejali paham sekuler (baca: memisahkan agama dari kehidupan) yang menjadi ruh dari ideologi kapitalisme.

Sebuah paham yang sengaja diadopsi negeri ini dengan pilar demokrasi sebagai pengokohnya. Paham kebebasan dalam beragama (freedom of religion), kebebasan dalam berpendapat (freedom of speech), kebebasan kepemilikan (freedom of ownership), dan kebebasan berperilaku (freedom of act). Tidak lain kebebasan ini dijamin oleh negara selama tidak menyalahi kekuasaan negara. Semua paham tersebut telah mendorong negeri ini pada keterpurukannya.

Berangkat dari yang demikian, maka umat menginginkan sebuah pencerahan. Perubahan ke arah bangkit dari segala keterpurukan yang melanda. Mencoba mencari solusi dari setiap problematika yang dihadapi.

Fitrahnya manusia adalah penuh dengan keterbatasan. Oleh sebab itu ia membutuhkan sosok sempurna sebagai Pencipta juga Pengatur kehidupannya. Tidak lain adalah Allah Subhanahu Wata’ala. Sang Pemilik Jagat Raya yang telah menyiapkan aturan sempurna dalam Al-Quran juga As Sunah sebagai pemecah setiap masalah.

Sebagaimana firman Allah Swt. “Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri di antara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59).

Sehingga didapati dengan terang benderang apa yang telah Allah pesankan dalam Al Quran. Agar segala perselisihan, permasalahan dikembalikan kepada panduan hidup yang mulia.

Pun saat berkaca pada apa yang telah dicontohkan Rasulullah Swt dan Khulafaur Rasyidin saat menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam negara Islam (Daulah Islamiyah). Keberadaan negara menjadi pelaksana amanah terbesar. Menjalankan fungsinya sebagai penjaga akidah umat, penerap syariah, juga pengemban dakwah juga pelaku jihad.

Walhasil, umat hidup dalam ketenteraman dan kesejahteraan yang memadai. Kehidupan ekonomi stabil tak diguncang inflasi karena keuangan bersandar pada emas dan perak. Umat Islam disegani dan dihormati di mata dunia karena berideologi hakiki. Negara Islam memiliki posisi tawar yang tak diragukan perannya. Peradaban dunia diwarnai Islam. Ini berlangsung selama lebih dari 13 abad lamanya. Sampai Khilafah Utsmani yang terakhir tumbang di Turki karena upaya licik dari Kafir Barat.

Sehingga, jika umat menginginkan perubahan dengan tegaknya kepemimpinan Islam lewat indikasi masifnya wacana khilafah di media sosial juga dalam kehidupan nyata, sungguh itu adalah sebuah keniscayaan. Geliat umat untuk menyongsong kebangkitan kian menggema.

Sudah selayaknya para ulama menyambut baik hal tersebut dan menjadi motor perubahan yang bersinergi dengan umat. Bukan justru mengkhawatirkan wacana khilafah dan menyatakan bincangan khilafah itu tidak produktif.

Ulama adalah pewaris nabi, sehingga lisannya, perbuatannya juga keputusannya sangat memengaruhi umat. Umat sangat berharap bahwa ulama yang mengikuti Kongres Ulama Islam Indonesia mampu menjadi representasi umat.

Ulama yang berpikiran cemerlang, ulama yang senantiasa beropini dengan dasar Al Quran dan As Sunah. Buka ulama yang moderat dan ramah atas titah Kafir Barat. Sehingga umat dan ulama akan bersatu padu dalam menjejaki jalan kebangkitan dengan kembali kepada penerapan syariah Islam kaffah dalam kepemimpinan Islam (khilafah Islamiyah).

Menyongsong janji Allah Swt. Dan Rasulullah Saw. yang tak akan pernah menyalahi. Agar negeri ini dan negeri-negeri Muslim lainnya dilimpahi berkah dari langit dan bumi.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya(TQS Al Araf:96).
Wallahu’alam bisbowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *