Gaza Menderita TanggungJawab Siapa?

Oleh : Heni Andriani (Member Akademi Menulis dan Ibu Pemerhati Umat, Sukabumi)

Rasulullah mengecam umat Islam yang tidak peduli nasib saudara seiman.

من لا يهتم بأمر المسلمين فليس منهم

“Barangsiapa yang tidak peduli urusan kaum Muslimin, Maka Dia bukan golonganku.” (Al-Hadits).

“Barangsiapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya maka dia bukan golongan mereka” (HR. Al-Hakim dan Baihaqi).

Hadis diatas menjadi suatu peringatan bagi kita untuk peduli terhadap orang lain diseluruh dunia. Memberikan pesan bahwa kita jangan jadi orang yang egois apalagi rela melihat penderitaan orang lain. Naudzubillah

Saat ini bumi Palestina kembali membara terutama di jalur Gaza. Kehormatan saudara kita disana dicabik-cabik oleh yahudi laknatullah. Desingan mesiu, gemuruh bom membombardir saudara kita disana hingga mengakibatkan banjir darah yang tiada henti. Sakitkah hati kita melihat nyawa melayang tanpa dosa. Anak-anak yang kehilangan orang tua, bayi – bayi terbujur kaku bahkan nyaris dengan potongan tubuh yang hilang. Gaza menjadi sasaran amukan para penghamba nafsu dunia dan srigala ketamakan harta.

Saat ini dunia seolah diam, para pemimpin Arab bisu layaknya orang gagu . Aktivis HAM bungkam tak bernyali bahkan PBB pun seperti singa mati. Semuanya Seolah-olah membiarkan hal ini terjadi sekalipun di mulut mereka keluar kecaman itu hanyalah basa basi.

Gaza memang menjadi salah satu tempat yang hendak dilenyapkan penduduknya. Setelah wilayah lainnya satu – persatu pindah tangan ke tangan Yahudi laknatullah. Dengan sombongnya Yerusalem meminta seluruh dunia untuk mengakui keberadaan negaranya diatas derita penduduk Palestina.
Dulu, Theodore Herzl putus harapan menguasai Palestina karena ketegasan Khalifah Abdul Hamil II. Beliau tidak mau berkompromi dengan Herzl. Saat ini justru berbanding terbalik negeri – negeri muslim yang mayoritas bungkam seribu bahasa hanya kecaman dan bantuan semata.

Sampaikan kapankah derita saudara kita di Gaza berakhir?

Jawabannya hanyalah satu hingga khilafah yang dinanti tegak. Saat ini tidak bisa lagi menyelesaikan masalah Palestina termasuk Gaza dengan hanya mengirimkan bantuan makanan ataupun obat-obatan. Karena masalah Gaza bukan hanya masalah kemanusiaan tetapi genoside besar-besaran. Perundingan pun bukan solusi hakiki yang ada hanya akan menjadikan Gaza mati.
Khilafah kelak akan membebaskan bumi Palestina khususnya serta negeri-negeri muslim yang terjajah dari cengkraman demokrasi kapitalis yang hina.

Khilafah yang dinanti mampu memberikan rasa aman, tenteram dan tenang tanpa ada lagi saling membenci. Justru dengan menghamba demokrasi semakin menjadikan negeri-negeri muslim saling mendengki dan tidak peduli. Paham nasionalisme menjadi penyekat sesama muslim enggan menggengam jabat erat. Tidak seperti saat dulu khilafah tegak satu dihinakan semua negeri-negeri muslim membela.
Khilafah sangat dirindukan dan dibutuhkan saat ini bukan yang lain.
Sebab pangkal permasalahan umat Islam dunia karena tidak memiliki junnah atau perisai. Khilafah satu-satunya solusi tuntas berbagai kecarut-marutan yang terjadi di dunia. Khilafah yang akan menyelesaikan masalah umat manusia. Khilafah pula yang akan menyatukan negeri-negeri muslim di seluruh dunia.
Dengan metode syar’i ini yaitu khilafah dan jihad dengan mengirimkan tentara-tentara muslim untuk mengusir penjajah dari bumi Palestina.

Sudah saatnya bagi kita semua memperjuangkan khilafah agar Gaza tidak lagi menderita. Karena derita penduduk Palestina khususnya Gaza adalah tanggung jawab kita semua umat Islam. Sebab Gaza adalah saudara kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *