Gara-gara Nggak Enakkan

Oleh: Azhary Ideologis (Mahasiswa Al-Azhar Mesir)

Hanya bercerita tentang kisah sederhana, yang mungkin saja mengundang gelak tawa.
Tapi, semoga saja ada hal lain yang didapat bukan hanya sekedar tawa yang bisa datang dan pergi kapan saja.

Setelah selesai dari forum terjemah, ketika itu kami langsung bergegas menuju sebuah toko yang menjual berbagai alat dan kebutuhan rumah.

Toko pertama yang kami datangi, hanya dijadikan tempat singgah. Melihat-lihat tanpa ada satu barang pun yang dibeli. Akhirnya, kami putuskan untuk pergi ke toko yang kedua. Berada tepat di belakang toko pertama.

Sekitar satu jam kami habiskan hanya untuk memilih perabotan di Toko kedua. Mulai dari sapu, jepitan, hingga ember besar untuk menampung air.

Setelah membayar, kami pun segera melangkah keluar toko. Untuk pulang ke rumah tentunya. Beberapa saat sebelum melewati toko pertama, terlintas di pikiran kami untuk tidak melewati jalan yang sama.
Kenapa?

Tak lain untuk menjaga hati si penjual di toko pertama tadi. Yang hanya kami jadikan tempat lewat saja.

Dengan membawa banyak barang, termasuk ember besar yang ukurannya bahkan lebih besar dari yang membawanya, kami putuskan untuk pulang melalui jalur yang lain. Jalan dalam pun menjadi pilihan.

Jika melewati jalan dalam, maka harus siap dengan segala konsekuensi yang mungkin saja terjadi. Semisal, dijaili anak kecil, bau sampah, dikagetkan dengan kedatangan kendaraan yang tiba-tiba, atau yang paling menakutkan dikejar anjing.

Ah, dan benar saja. Belum lama kami berjalan di depan sana sudah terlihat keramaian. Sejumlah orang yang sibuk menjinakkan seekor anjing yang agresif.

Kami pun sempat bimbang. Memberanikan diri untuk tetap melewati anjing itu, ataukah memilih jalan lain.

Dengan kemantapan hati, akhirnya kami lebih memilih untuk berbalik arah. Anjing tadi cukup menakutkan, orang Mesirnya saja dikejar dan dijilati. Tak terbayang jika kami harus berlari menghindari anjing dengan membawa ember besar dan banyak barang lainnya.

“Ayo, kita lewat gang ini aja. Pasti ada jalan.” Ujar salah satu kawan yang membawa ember besar. Dengan langkah yang percaya diri, ia yakinkan kami untuk berjalan mengikutinya.
Ketika hampir sampai di ujung pertigaan, seorang bapak memanggil.
“Kalian mau kemana? tak ada jalan disana”.
Ya, ternyata jalannya buntu.
Dengan berat hati, akhirnya kami putuskan untuk melalui jalur yang pertama. Melewati bapak penjual di Toko pertama.

Satu fakta baru kami sadari. Ternyata, toko pertama dan kedua itu masih satu pemilik. Terlihat jelas dari kesamaan nama tokonya.

Tersebab perasaan nggak enak yang kami dahulukan, berakhir pada molornya waktu pulang. Harus mengalami salah jalan, bersembunyi di sebuah tempat karena takut dikejar anjing, dan hal-hal melelahkan lainnya.

Begitupun dalam kehidupan. Tak jarang, karena perasaan nggak enak, kita langgar batasan-batasan.

Nggak enak ah sama temen, khawatirnya dia malu kalo jalan-jalan bareng temen yang berjilbab dan berkerudung lebar. Akhirnya ditanggalkan lah kerudung dan jilbab itu.

Begitulah kita yang terkadang lebih mementingkan perasaan ketimbang pemikiran. Padahal, perasaan bukanlah sesuatu yang layak dijadikan standar dalam berbuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *