Gaji Guru, Riwayatmu Kini

Oleh : Ansar Elhaddadi (Guru honorer yang menginginkan perubahan)

Berbicara tentang guru, maka kita akan menemukan keteguhan, kesabaran, dan keikhlasan dalam jiwa-jiwa guru yang sabar dalam mendidik putra-putrinya untuk menyiapkan generasi intelektual penggerak peradaban bangsa. Seperti telah diketahui, bahwa dunia pendidikan Indonesia tidak bisa lepas dari nama Ki Hajar Dewantara. Ia merupakan aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia sekaligus pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Ia merupakan pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Ia menitipkan nilai-nilai pendidikan melalui semboyannya yang sangat terkenal dalam dunia pendidikan Indonesia, yaitu “Ing Ngarso Sung Tulodo,  Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”, yang artinya –kurang lebih- ketika menjadi pemimpin harus dapat memberikan suri teladan, ketika berada di tengah harus bisa membangkitkan semangat, dan ketika berada di belakang harus mampu memberikan dorongan atau semangat. Guru merupakan salah satu elemen penting di dalam sistem pendidikan Indonesia. Peran dan fungsinya sangat menentukan arah pendidikan Indonesia. Maju mundurnya pendidikan Indonesia berada di tangan para guru-guru sebagai garda terdepan dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Kemudian timbul pertanyaan, apakah nasib guru-guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu telah dimerdekakan kesejahteraannya oleh pemerintah atau nasibnya masih dibawah kendali birokrat korup keparat yang menindas? Apa jadinya kalian yang kini telah duduk dikursi parlemen tanpa adanya hasil polesan didikan guru? Apakah kalian telah lupa dan buta akan jasa-jasanya sehingga kalian abai terhadap nasib guru-guru yang dicap sebagai suluh cahaya ditengah kegelapan itu? Silahkan renungkan sendiri atas kebijakan kalian terhadap kesejahteraan guru di Indonesia.

Permasalahan profesi guru di Indonesia terus mencuat tatkala kita melihat realitas atas fakta-fakta yang terjadi ditengah arus kesenjangan profesi guru yang menyesakkan dada. Hati dan pikiran menangin dan ingin memberontak tatkala nasib guru honorer mendapatkan upah yang tidak layak, relatif rendah dan tak berprikemanusiaan padahal beban kerja mereka sangat banyak. Disamping mengajar dan mendidik siswa mulai dari pagi sampai sore, guru juga dituntut untuk mengerjakan perangkat dan administrasi sekolah yang semakin kurang ajar merepotkan guru-guru. Apa yang dialami guru honorer merupakan bukti nyata rapuhnya sistem tata kelola pendidikan di Indonesia dari sisi kesejahteraan pendidik. Begitu banyak guru honorer di Indonesia yang mendapatkan gaji kisaran antara 300 ribu sampai 500 ribu tiap bulannya. Bahkan ada yang hanya menunggu dan bantuan operasi sekolah cair sampai per enam bulannya barulah diberikan hasil keringatnya dalam mendidik. Pembina PGSI Abdul Kadir Karding menceritakan mirisnya gaji guru yang masih ditemukan di bawah upah minimum regional (UMR).
“Mereka pejuang pendidikan, Pak. Mereka rata-rata berpenghasilan Rp 300-400 ribu per bulan yang belum besertifikasi. Yang sudah besertifikasi sudah setara dengan UMK (upah minimum kota/kabupaten),” ujar Karding di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (11/1/2019). dikutip dari detik.com
Gaji 300 ribu itu sudah menjadi berita lama,bahkan ada yang dibawah itu. Sudah itu gajinya dirapel tiga bulan sekali. Bukan hanya diswasta, tapi disekolah negri juga banyak. Beban dalam mendidik mungkin lebih berat di swasta,terutama yang berbasis islam. Saat ini banyak juga sekolah berlabel islam bertebaran dimana-mana. Sejak dari playgroup hingga universitas. Namun, sekolah-sekolah berlabel islam itu tega-teganya memeras muridnya dengan biaya selangit. Bahkan lebih mahal daripada sekolah yang dikelola orang-orang tak bertuhan sekalipun. Disisi lain, korelasi antara pembayaran siswa dan gaji guru disekolah islam tidak koheren atau berjalan sebagaiman mestinya. Oknum yang mendirikan sekolah berlabel islam ini hanya memanfaatkan tenaga guru-gurunya yang bekerja sekuat tenaga dari senin sampai sabtupun mereka tetap disuruh masuk tanpa diperhatikan kesejahteraannya dan gajinya tergolong relatif rendah padahal kerjaannya begitu banyak. Sekolah berlabel islam ini telah tergerus dan ikut arus dalam sistem kapital, banyak sekolah islam yang namanya begitu islami memakai nama Abu Bakar akan tetapi sistem yang diterapkan adalah sistemnya Abu Jahal. Sungguh miris memang, ketika agama Islam telah dikebiri dan dijual nilai-nilai keislamannya.

Salahkah jika para pendidik ingin mendapatkan kehidupan yang layak untuk keberlangsungan hidupnya? Tidak ada yang salah. Yang salah adalah pemerintah. Mengapa?
Karena lagi-lagi negara mengabaikan kesejahteraan nasib para pencetak generasi bangsa ini. Andaikan dinegeri ini tidak ada guru lagi yang mau mengajar, lebih tertarik bekerja dibidang yang menyejahterakan hidupnya, apa jadinya bangsa ini? apa jadinya anak-anak kita kelak? Ini adalah ancaman berbahaya bagi bangsa dan negara dan menghantarkan ummat menuju kegelapan peradaban. Janji memperbaiki nasib kesejahteraan guru hanyalah bualan-bualan sampah dari mulut yang berbusa-busa membangun narasi-narasi najis yang katanya ingin memperbaiki secara totalitas akan nasib guru. Pemerintah hanya keras menjelang kampanye tiba, ketika sudah terpilih dan duduk diparlemen, penyakit sintingnya kumat lagi, janji kampanyenya hanyalah pepesan kosong semata yang tidak memiliki arti sama sekali.

Para pelacur bangsa dan penjilat nafsu kekuasaan ini hanya sibuk membangun mega proyek infrastruktur, taman dipercantik dan trotoar dipoles sedemikian rupa, bangunan yang megah dan menjulang tinggi dengan dana triliyunan dicairkan hanya dalam jangka yang begitu cepat. Tetapi, mengapa dana untuk gaji guru honorer sampai menunggu berbulan-bulan baru bisa dicairkan, logikanya dimana? Apakah ini suatu bentuk atau amanah pancasila dan undang-undang dasar 45 yang termaktub dalam “keadilan bagi seluruh rakyat indonesia” ? ataukah keadilan hanya berlaku bagi mereka pejabat berdasi yang keparat, suka bolos, tidur ketika ada rapat paripurna DPR ? Sudah tidak amanah, tolol, dungu, pongah, goblok, suka korupsi lagi. Pencuri uang rakyat seperti ini, otaknya harus direparasi sehingga tidak ada lagi pejabat yang gemar korupsi, mental maling dan mengumbar janji busuk semata. Posisi guru sebagai perancang dan arsitek perubahan bangsa dibuat tak berdaya oleh sistem pendidikan yang busuk dan administratif, membuat nasib guru kian mengenaskan ketika dihadapkan ke problematika hidup yang semakin mahal. Penulis sendiri yang notabene sebagai guru honorer disalah satu sekolah swasta di Makassar, merasakan dampak dari kucuran dana ditiap wilayah yang tidak merata, sehingga menyebabkan rekan pendidik honorer wajib mempunyai kerja sampingan untuk menutupi biaya hidupnya. Dana besar dari hasil pajak uang rakyat pelariannya hanya dinikmati oleh segelintir orang maupub kelompok. Pada hal amanah demokrasi sendiri haruslah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Dana APBN yang triliunan itu untuk menggaji guru-guru honorer dikemanakan semua wahai rezim? kalian hanya sibuk menyelewengkan dana APBN yang seharusnya untuk menggaji dengan layak para pendidik lalu kemudian memfokuskan mendirikan mega proyek pembangunan infrastruktur dengan memakai dana APBN dan mengacuhkan nasib guru yang kian menyedihkan.

Seperti yang dilansir dalam Tribunnews.com dalam pidato Mentri Pendidikan Nadiem Makarim yang baru-baru ini narasi singkat yang penulis kutip dari beliau ialah :
“Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia.
Namun, perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama.
Besok, di mana pun anda berada, lakukan perubahan kecil di kelas anda.
Ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar.
Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas
Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas.
Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri.
Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan.
Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak.
Selamat Hari Guru,
#merdekabelajar #gurupenggerak

Pidato Nadiem Makarim adalah narasi-narasi lagu lama didalam sistem pendidikan, dari dulu juga begitu pak, mulai dari zaman pak Harto sampai Pak Jokowi narasi seperti itu hanyalah pengulangan-pengulangan dari berbagai keruwetan di dunia pendidikan. Kepada pak Nadiem yang terhormat, penulis sampaikan dan sarankan, tolong janganlah fokus pada satu titik perubahan pada masalah cabang seperti yang bapak sampaikan, ambillah sikap diplomatis kepada rekan guru untuk memecahkan masalah untuk memerdekakan kesejahteraan pendidik. Korelasi antara pidato yang bapak sampaikan dalam rangka guru merdeka belajar haruslah diiringi dengan memerdekakan kesejahteraan guru agar terciptanya kestabilan antara siswa maupun guru. Sampaikanlah kegelisahan kami kepada tuanmu sang presiden Jokowi agar lebih memeperhatikan kesejahteraan para pendidik bangsa di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, Indonesiakan kaya akan Sumber daya alamnya yang melimpah, bagaiamana kalau dari sebagian SDA itu hasilnya diperuntukkan untuk menyejahterakan para pendidik agar tidak ada lagi berita-berita yang mengenaskan kalau-kalau masih ada guru yang gajinya cuma 300 ribu perbulan. Mohon sampaikan segera gundah gulana kami pak.

Birokrasi dari sistem pendidikan yang semakin amburadul karena telah digerus oleh kekejaman kapitalisme yang cenderung hanya dikuasai oleh pelacur korporat dan pejabat korup yang keparat. Guru-guru sekarang harus memiliki tekad sekuat karang dalam mewujudkan agitasi dan propaganda untuk melawan sistem birokrat yang kurang ajar dan menindas. Kesadaran kolektif guru yang berawal dari wacana menuju gerakan progresif revolusioner mampu membangkitkan api perlawanan terhadap kebijakan kesewenang-wenangan rezim yang menindas. Penulis mengharapkan dan menhimbau agar segera mengubah arus dan garis perlawanan guru-guru honorer terutama persatuan IGHI untuk kemudian turun aksi damai dan menguasai gedung-gedung DPR diwilayahnya masing-masing dalam rangka menyampaikan aspirasi dan keresahan yang dialami pendidik di Indonesia. Seperti yang Prof Dr Suteki sampaikan, Bila “RASA-MU” tidak lagi TERWAKILI oleh WAKIL RAKYAT, buat apa kita pemilu? Bila WAKIL RAKYAT tdk mampu lagi menangkap “RASA-MU” masihkah berharap janji palsu? Jadilah kita: “PARLEMEN JALANAN”!
Gerakan kolektif ini adalah suatu bentuk gertakan kepada rezim yang menindas agar supaya merombak secara totalitas sistem pendidikan dari yang kapitalis menuju sistem khilafah islamiyah.

Oleh karenanya Negara butuh mengeveluasi secara total berbagai visi misi kebijakan-kebijakan yang terkait dengan pendidikan dan posisi guru didalamnya. Tentunya pemerintah butuh role model sebuah negara yang telah teruji mampu memberikan penghargaan dan kesejahteraan yang tinggi kepada pengajar-pengajarnya.
Fakta sejarah menjelaskan bahwa ada masa seorang guru mendapatkan penghargaan yang tinggi berupa pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Ternyata Masa itu ada dimasa kepemimpinan sahabat rosul para khulafaur rosyidin dan penerusnya.
Imam Ad Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari Al Wadliyah bin Atha yang menyatakan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 648.000, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar Rp. 41.310.000).
Dengan gaji sebesar itu maka tidak hanya masalah kesejahteraan guru tetapi juga kualitas proses pendidikan dan out put pendidikan akan sangat mungkin bisa ditingkatkan. Maka tak heran jika sistem Khilafah Islamiyah mencetak generasi cemerlang, alim ulama, hafidz Quran, dan ahli hadis maupun ahli dalam bidang saintek. Guru hanya fokus mendidik dan mencetak generasi intelektual yang cerdas tanpa dibayangi oleh embel-embel kebutuhan hidupnya. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *