Gairah Reuni Akbar Mujahid 212

Oleh: Nasiatul Karima

Alhamdulillah akhirnya, acara reuni 212 yang ditunggu-tunggu oleh khususnya umat Islam di Indonesia, senin 2 Desember 2019 dapat terlaksana. Acara Reuni diawali dengan shalat Tahajud berjamaah dan shalat Shubuh berjamaah. Acara reuni 212 ini mendapat apresiasi dari Gubenur DKI Jakarta. Bahkan bapak Anies Baswedan selaku Gubenur DKI Jakarta dengan baju dinasnya menyempatkan diri hadir memenuhi undangan panitia untuk memberikan sambutan (Republika.co.id, 2/12/2019). Yusuf Martak selaku Ketua Steering Comitte Reuni Akbar Mujahid 212 menjelaskan bahwa, tujuan acara Reuni Akbar Mujahid 212 adalah agar Umat Islam bisa berkumpul bersama-sama untuk berdzikir dan bermunajat (Tirto.id, 1/12/2019). Dan massa reuni 212 masih terus berdatangan hingga pagi hari 2 Desember 2019. Mereka menumpang KRL turun di Stasiun Juanda. Pantauan di lokasi, Stasiun Juanda, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (2/12/2019), massa bersusulan terlihat berdatangan per pukul 06.10 WIB. Mereka datang secara berkelompok maupun perorangan. Lalu lintas di Jl Juanda menuju Pasar Baru tampak padat. Ini karena massa berjalan hingga memakai badan jalan (detik.com, 2/12/2019).

Memang, selama iman masih ada di dalam dada, tentu Umat Islam akan lebih memilih menghadiri acara-acara pertemuan semisal Reuni Akbar Mujahid 212, untuk mempererat Ukhuwah Islamiyah ketimbang acara-acara konser musik. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang dikeluarkan Ahmad dengan sanad yang hasan dan dinyatakan shahih oleh al-Hakim, dari Ubadah bin Shamit dari Nabi SAW. Beliau menisbahkan hadits ini kepada Allah (Hadits Qudsi), Allah berfirman yang artinya, “Kecintaan-Ku pasti akan diberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karena-Ku. Kecintaan-Ku berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku. Kecintaan-Ku berhak diperoleh oleh orang yang saling memberi karena-Ku. Kecintaan-Ku berhak diperoleh oleh orang yang saling menjalin persaudaraan karena-Ku. Tentunya, fenomena Reuni Akbar Mujahid 212 ini, akan menjadi PR besar bagi kita yang peduli terhadap nasib Umat Islam dan Agama Islam. Untuk selalu istiqomah berjuang memupuk dan menumbuhkan keimanan Umat Islam khususnya di Indonesia agar memiliki keimanan yang mengakar kuat. Sebagaimana perkataan Imam al-Ghozali, yang menyatakan ” Sesuatu yang tidak memiliki pondasi yang kuat maka akan mudah roboh, begitu juga dengan Islam tanpa Aqidah/Iman yang kuat maka juga akan mudah roboh”.
.
Umat Islam harus memahami, bahwa gairah untuk beramal shalih hanya akan didapat jika keimanan kepada Allah betul-betul 100% tertancap dalam dada dan tergambar dalam benak. Maka iman haruslah dibangun berdasarkan akal. Sehingga keberadaan Allah satu-satunya Dzat yang harus ditakuti, disembah, di taati dan dimintai pertolongan-Nya dapat dibuktikan secara rasional. Apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau dalam berjuang membela kebenaran Islam, agar menjadi satu-satunya aturan yang diterapkan di bumi Allah adalah buah dari keimanan yang dibangun berdasarkan akal. Kita tentu sangat familiar dengan ucapan Rasulullah Muhammad SAW yang masyhur ketika beliau diminta paman beliau Abu Thalib, untuk berhenti berdakwah. Hal tersebut terjadi, setelah Abu Thalib didatangi oleh pemuka-pemuka Quraisy dan memaksa agar Abu Thalib menghentikan dakwah Nabi Muhammad SAW. Abu Thalib kemudian menemui Rasulullah seraya berkata: “Wahai anak saudaraku, sungguh kaummu telah mendatangiku, mereka mengatakan ini dan itu. Maka selamatkanlah diriku dan juga dirimu, jangan biarkan aku menanggung beban yang tidak sanggup aku pikul”. Nabi SAW terdiam sejenak kemudian mengatakan kata-kata yang abadi. ” Wahai pamanku……, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan dakwah ini, maka tidak akan pernah kutinggalkan hingga Allah memenangkannya atau aku yang akan binasa karenanya”. Melihat keponakannya mengucapkan kata-kata tersebut dengan bercucuran air mata dan bangkit berdiri hendak meninggalkan Abu Thalib, bergegas Abu Thalib memanggil Nabi Muhammad SAW seraya berkata: “Pergilah wahai keponakanku, katakan apa yang kamu sukai dan demi Allah aku tidak akan pernah menyerahkanmu pada siapa pun selamanya”. Dan memang benar, keimanan menuntut adanya pembuktian. Seberapa kuat iman seseorang kepada Allah SWT akan terlihat dari seberapa besar ketaatannya kepada perintah dan larangan Allah. Allah berfirman dalam QS. an-Nisa’ ayat 65 yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu(Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.

Oleh karena itu gairah Reuni Mujahid 212 yang rencananya akan terus digelar setiap tahunnya, harus bisa dijadikan jalan dakwah untuk memupuk dan menumbuhkan keimanan yang tertancap kuat di dalam dada, yang dibangun berdasarkan akal, di tubuh Umat Islam khususnya di Indonesia. Karena penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam. Dan berhak merasakan manisnya iman.
Waallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *