Foto Bugil Seni? Waspada Jahiliyah Era Modern!

Oleh : Hana Salsabila AR

Nama Tara Basro menjadi sorotan warganet setelah ia mengunggah foto dirinya tanpa sehelai benang pun yang diambil dari samping. “Coba percaya sama diri sendiri,” tulis Tara di Twitternya pada Selasa, 3 Maret 2020. Lewat unggahannya itu, dia mengajak para pengikutnya untuk menghargai tubuh sendiri. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang tidak langsing, Tara sengaja menunjukkan bentuk tubuh yang apa adanya. (Tempo.co, 3/3/20)

Namun, hal ini disanggah oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate, ia menyebut unggahan foto aktris Tara Basro tak melanggar Undang-undang ITE Pasal 27 ayat 1 tentang kesusilaan. “Kata siapa melanggar UU ITE? Enggak-lah. Harus dilihat baik-baik. Jangan didiametral [dilihat secara keseluruhan] begitu. Evaluasinya adalah itu bagian dari seni atau bukan. Kalau itu bagian dari seni, maka itu hal yang biasa. Namanya juga seni,” ujar Johnny di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/3).

Sungguh mengecewakan, entah apa yang dipikirkan oleh para pembela Tara Basro hingga alih-alih mereka menyangkal bahwa foto tersebut tidak melanggar undang-undang. Memang, kalaupun misal itu tidak melanggar undang – undang setidaknya mereka tahu dan paham bahwa foto telanjang begitu sudah termasuk daripada pornografi.

Walaupun niat Tara basro sendiri adalah untuk mengajarkan bagaimana mencintai diri sendiri tanpa memandang ras dan warna kulit. Tapi apa harus begitu caranya? Dengan pamer foto telanjang hanya berbungkus bikini. Dikatakan sebagai seni? Iya, lebih tepatnya seni pornografi. Karena itu tidak lebih daripada kebodohan. Kebodohan era modern, Jahiliyah era modern. Karena dahulu sebelum Islam datang, sebelum Islam sampai pada manusia, semuanya telanjang tanpa sehelai pakaian. Nabi Adam dan Hawa yang notabene manusia pertama yang diciptakan oleh Allah, malu ketika diturunkan Allah ke bumi dalam keadaan telanjang.

Lah ini kenapa malah semakin aneh? Orang berhijab dikatakan mengekang sementara yang telanjang hanya berbungkus bikini dikatakan kesenian. Apa bedanya dengan makluk lainnya? Yang tak pernah berpakaian? Sebagaimana hewan, bahkan lebih parah lagi. Hewan tidak punya akal, jadi wajarsaja jika bertingka demikian. Lalu, bagaimana jika ada manusia yang jelas memiliki akal, tapi masih suka telanjang? Sekali lagi ditegaskan, ia tidak lebih seperti hewan dan bahkan lebih hina lagi.

Beginilah sistem sekularisme, dimana hak dan kebebasan berekspresi setiap orang dibiarkan begitu saja tanpa memandang baik buruk dan hukumnya dalam Islam. Sementara, beberapa waktu yang lalu hijab sempat disinggung, dilarang, bahkan dianggap sebagai bentuk pengekangan terhadap kaum hawa. Lalu, apakah dengan pamer foto telanjang tanpa baju hanya berbungkus bikini itu dianggap kebebasan berekspersi?

Harusnya mereka malu dengan diri mereka sendiri. Kaum wanita itu harusnya terjaga dan tertutup, karena wanita itu ibarat berlian yang sangat mahal. Ia sangat berharga. Justru dengan mereka memamerkan tubuh mereka lah yang membuat mereka menjadi rendah dimata Allah sekaligus di mata manusia.

Itu semua hanyalah alih-alih mereka agar tetap bisa bermaksiat pada Allah sekaligus sebagai dalih seolah-olah tindakan demikian tidaklah salah dan melanggar hukum. Kalaupun memang tidak melanggar hukum, bukankah Allah tetap menetapkan hukum pula? Hukum mana yang lebih baik daripada hukum Allah, ingat hal itu. Mengajarkan tuk mencintai diri sendiri tak harus dengan memamerkan tubuh seperti itu bukan? Bisa dengan hal lain, seperti memberi nasehat atau motivasi.

Jangan mau dikembalikan pada zaman Jahiliyah lagi, jangan mau dibodohi hanya dengan dalil “Seni”, maka hal semacam pornografi pun dianggap boleh. Hanya orang – orang zaman dulu saat dimana kebodohan merajalela, disaat Islam belum datang dengan segenap aturannya tentang kewajiban menutup aurat, umat manusia berada dititik rendah taraf berfikirnya. Wallahu a’lam. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *