Film JKDN : Menguak Peran Islam di Nusantara

Oleh : Rita Yusnita
(Komunitas Pena Islam)

Film Jejak Khilafah Di Nusantara (JKDN) telah usai namun euforianya masih terasa. Hal itu terjadi karena animo masyarakat luas sebelum film ini tayang sangat tinggi semenjak trailer film ini ditayangkan di berbagai media sosial. Maka tak heran menurut info panitia tiket virtual sebanyak 250 ribu telah dipesan pendaftar.

Film dokumenter Jejak Khilafah Di Nusantara tayang perdana bertepatan dengan 1 Muharram 1442 H. Ditonton sebanyak hampir 200 ribu peserta dari seluruh penjuru Indonesia. Setelah acara dibuka oleh MC, yaitu Ustadz Akhmad Adias lalu dilanjutkan sambutan pertama oleh KH. Rokhmat S. Labib dengan tema, “Sisi strategis dan politis 1 Muharram dalam pandangan Islam”.

Salah satu ungkapan beliau adalah bahwa “Peristiwa hijrah bermakna sebagai pemisah antara al haq wa al bathil”, sebab pada faktanya antara kebenaran dan kebatilan selalu berada pada posisi yang bertentangan. Inilah mengapa Rasulullah mengalami penindasan saat beliau menyampaikan yang haq. Perjuangan Rasulullah terus mengalami penindasan dari orang kafir hingga mendapatkan pertolongan dari tokoh-tokoh Anshar.

Film ini hadir sebagai jawaban atas kebingungan yang terjadi di masyarakat tentang makna Khilafah. Sebagian asumsi yang beredar menjadikan kata Khilafah sebagai momok yang menakutkan hingga menyebabkan gejala islamophobia kembali hadir. Maka, film JKDN bisa menjadi referensi pelajaran sejarah selain memang merupakan pembahasan fikih, bisa dikatakan film ini hadir untuk menjawab tantangan zaman (ungkapan sejarawan muda, Bung Septian AW). Selaku Sutradara film JKDN, Nicko Pandawa menjelaskan bahwa dulu opini Khilafah dimunculkan bersamaan dengan isu nasionalis. Nah, zaman sekarang kita menghadirkan sejarah di tengah perbincangan masyarakat mengenai Khilafah. Khilafah saat ini menjadi trending, maka kami berupaya untuk memunculkan sejarah yang dikubur yakni sejarah Khilafah.

Sementara Ustadz Ismail Yusanto sebagai salah satu tokoh narasumber dalam forum sebelum penayangan film JKDN menjelaskan, bahwa Khilafah ada sebagai bagian dari ajaran Islam. Ini terbukti secara historis disamping memiliki dasar normative. Secara historis ada bukti hubungan Khilafah dengan kesultanan di Nusantara. Mulai dari Khilafahan Umayyah hingga Utsmani. Karena itu, perkara Khilafah ini adalah sesuatu yang penting karena memiliki dasar yang kokoh. Di dalam buku fikih kelas 12 pun jelas bahwa Khilafah itu fardu ain.” Film Jejak Khilafah Di Nusantara dibuat dalam kerangka tertentu, maka harus memunculkan sejarah yang benar, sejarah digunakan untuk menggali kebenaran tidak hanya Digging up the past, tapi juga digging up the truth,” lanjut beliau lagi.

Meski beberapa kali terkena banned (pemblokiran) dari pemerintah dengan alasan yang tidak jelas, akhirnya film JKDN hadir memuaskan antusianisme masyarakat. Film ini memuat berbagai fakta sejarah tentang adanya hubungan Khilafahan dengan Nusantara yang menjadi tema pokok film ini. Dalam tayangan awal ditampilkan gambar-gambar yang diambil dari bukti-bukti peninggalan sejarah, seperti bangunan-bangunan kuno, kitab-kitab klasik dan yang lainnya sebagai bukti otentik bahwa film ini menjalani riset yg panjang sebelum tayang.

Bukti adanya Kekhilafahan Turki Utsmani dengan Kesultanan Demak melalui Kesultanan Aceh bersumber dari bukti dan saksi sejarawan yang juga diakui beberapa sejarawan barat. Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah yang sezaman dengan Kesultanan Demak dipimpin Sultan Muhammad Al-Fatih (1444-1446 & 1451-1481), Sultan Bayazid II (1481-1512), Khalifah Utsmani pertama: Yavuz Sultan Salim (1512-1520) dan Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M). Kesultanan Demak dipimpin oleh Sultan Fattah (1482-1518 M), Pati Unus (1518-1521), Sultan Trenggono (1521-1546) dan Sunan Prawoto (1546-1549). Setelah dibukanya Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih (20 Jumadil awwal 857 H/29 Mei 1453) dan didobraknya Roma Italia melalui Otranto (1480). Ferdinand-Isabella melakukan pemaksaan dan pembunuhan terhadap orang islam dan yahudi di Andalusia hingga runtuhnya Granada (1480). Paus Alexander VI merestui perjanjian Tordesillas (1494) yang membagi dunia menjadi 2 bagian, Katolik Spanyol diberi wewenang dunia barat sedangkan Katolik Portugal diberi wewenang dunia timur. Inilah awal kolonialisme-imperialisme Kristen barat terhadap banyak wilayah Islam (kesultanan) yang minta bantuan Kesultanan ataupun Khilafah Turki Utsmani (1517). Mendes Pinto yang menyebutkan keikutsertaan orang-orang Turki dalam pertempuran Aceh melawan Batak dan kerajaan Aru sekitar tahun 1540, menurutnya ahli-ahli meriam Turki dan Aceh juga membantu kekuatan Islam di Demak sewaktu kota Panarukan dikepung mereka pada tahun 1546, meriam Ki Amuk dan Ki Jimat foto dan wujudnya masih menjadi bukti dan berada di Banten sampai saat ini.

Diatas adalah sebagian bukti adanya hubungan antara Turki Utsmani dengan Kesultanan Demak melalui Kesultanan Aceh abad 9-10 H (15-16 M), masih banyak bukti lain yang diakui sejarawan barat terkait hal itu. Sejarah dengan berbagai bukti dan saksinya adalah kenyataan masa lalu yang tidak bisa di ingkari oleh hati yang suci dan akal yang sehat. Adanya upaya pengaburan dan penguburan sejarah Islam, mencampurkan yang hak dan bathil dengan menyembunyikan yang hak dan menampakkan yang bathil sudah menjadi sunatullah bagi musuh-musuh islam sejak masa lalu, sekarang maupun yang akan datang dengan tujuan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah yang lurus, agar tidak dapat meraih keselamatan dan kebaikan di dunia maupun di akhirat.

Sebagaimana firman Allah, “Apakah kamui tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yanmg telah diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ?

Mereka hendak berhakim kepada thagut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thagut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya,” (TQS An Nisa:60). “Apabila dikatakan kepada mereka :”Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (TQS An Nisa : 61).
Wallahualam Bishowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *