Fenomena Transgender Cermin Kemunduran Moral

Oleh : Nurseha Dwi Putri

Tercipta menjadi laki-laki atau perempuan, adalah takdir Allah, yang setiap keputusanNya selalu didasari rahmat, ilmu dan hikmah. Karena diantara sifat-sifat Allah adalah Ar-Rohim (Maha Penyayang), Al ‘Alim (Maha Mengetahui), Al Hakim (Maha Bijaksana). Setiap perbuatan Allah, adalah wujud dari sifat-sifatNya yang Maha Mulia.

Allah tahu mana makhlukNya yang lebih baik menjadi laki-laki dan mana yang lebih baik menjadi wanita. Maka kita sebagai manusia, yang sangat terbatas nalar dan ilmunya, sangat patut berserah diri kepada Tuhan kita, ridho sepenuhnya terhadap takdirNya.

Seperti yang baru-baru ini terjadi. Seorang artis transgender sensasional ditangkap pihak kepolisian atas kasus kepemilikan narkoba, menimbulkan kebingungan pihak kepolisian akan penempatannya di sel tahanan laki-laki atau perempuan. Hal ini juga menguatkan bahwa di negara ini tidak ada tempat selain laki-laki atau perempuan.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَعَنَ الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاتِ مِنَ النِّسَاءِ

Artinya, “Sesungguhnya baginda Nabi SAW melaknat para lelaki yang mukhannits dan para wanita yang mutarajjilat,” (HR Al-Bukhari dan Abu Dawud).
Hadits ini secara tegas menyatakan bahwa baginda Nabi Muhammad SAW melaknat terhadap perilaku takhannus dan tarajjul yang memastikan bahwa perbuatan tersebut hukumnya haram. Di antara alasan dan hikmah larangan atas perbuatan seperti ini adalah menyalahi kodrat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT

Dalam Fatawa Islam, dijelaskan batasan mengubah ciptaan Allah yang dilarang. Yaitu saat perubahan itu bersifat permanen.

Pada pernyataan Qurtubi rahimahullah terdapat penjelasan batasan mengubah ciptaan Allah, yaitu perubahan yang sifatnya permanen. Seorang selakukan operasi kelamin, untuk mengubah gendernya, jelaslah itu adalah termasuk merubah ciptaan Allah yang dilarang. Dengan adanya kaum transgender juga mencerminkan kemunduran moralitas manusia yang mempunyai akal.

Menurut saya, kita sebagai manusia adalah makhluk yang banyak kekurangan. Seringkali nalar kita keliru dalam menilai sesuatu karena memang banyak sekali aturan-aturan tuhan yang tidak bisa kita cerna hanya dengan nalar . Kita pandang baik namun ternyata berbahaya untuk kita. Kita pandang menaikkan martabat, namun ternyata justru menghinakan kita. Oleh karenanya, kita perlu bimbingan Tuhan yang maha hikmah, maha tahu dan maha sayang kepada kita. Kita, layaknya anak kecil yang senang bermain api. Namun sang ayah yang sayang dan tahu bahaya api, akan menegur sang anak dengan penuh kelembutan.

Allah sudah menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna diantara mahkluk lain di bumi ini.. maka dari itu kita harus bersyukur dengan menjaga apa yang telah Allah berikan. Jangan sampai lalai apalagi tergoda dengan hal-hal yang dapat menjauhkan kita dari Sang Maha Pencipta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *