Evaluasi Ketaatan Pada Bulan Syawal

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional & Pemerhati Politik Asal NTT)

Ramadhan baru saja berlalu. Namun rindu Ramadhan tahun berikutnya semakin membuncah.

Sekarang Kaum Muslimin berada dalam bulan kemenangan, bulan Syawal. Berarti lagi 10 bulan insyaAllah akan bertemu dengan Ramadhan selanjutnya.

Namun, apakah Ramadhan sebelumnya telah membekas dari pemikiran, perasaan dan kepribadian setiap Muslim? Syawal lah yang menjadi tolak ukur kesuksesan amal ibadah selama puasa.

Apakah ketika masuk Syawal Shalat 5 waktu masih dijaga? Bacaan Al Qur’an masih diteruskan? Puasa Sunnah Senin Kamis, Puasa Ayyumul Bidh (pertengahan bulan) dan puasa Nabi Daud (sehari puasa sehari tidak) masih konsisten dijalankan?

Ataukah masih banyak Kaum Muslimin yang kembali meninggalkan itu semua ketika Ramadhan pergi. Sebagian kaum Muslimin yang telah terasuki sekularisme tentu senang kembali kepada new normal jahiliyah.

Kehidupan jahiliyah normal yang baru. Kehidupan dimana masih lebih banyak orang yang tidak shalat, puasa, ngaji dan sedekah. Dulu sebelum pandemi pun lebih banyak orang di tempat kerja daripada di Masjid ketika adzan berkumandang.

Begitu juga dengan Shalat Jum’at, memang banyak yang melaksanakan ibadah ini tetapi masih banyak juga yang tidak melaksanakannya. Padahal mereka KTP nya Muslim dan tingkah lakunya sekular.

Lalu bagaimana Allah SWT akan meridhoi negeri ini jika penduduknya masih jauh dari tuntunan agama? Bagaimana dengan para penguasanya?

Ketika bulan Ramadhan semuanya tampak Shaleh. Lengkap dengan pencitraan ibadahnya.

Namun setelah bulan Ramadhan, para penguasa semakin garang. Ibadah puasa seperti tak menyentuh jiwa mereka.

Para penguasa semakin otoriter dan mengkriminalisasi para Pejuang Islam. Padahal para pejuang ini bukan OPM. Bukan pula gerakan separatis.

Banyak penguasa yang antipati terhadap ajaran Islam, misalnya Khilafah. Namun lambat dalam merespon dugaan munculnya komunisme.

Banyak penguasa yang memuluskan berbagai proyek barat di dalam negeri seperti pengerukan SDA yang jauh dari tuntunan Syariah Islam. Mereka juga di duga mengambil keuntungan dengan menaikkan iuran asuransi kesehatan. Padahal masyarakat sudah sesak nafasnya karena pembengkakan tagihan listrik dan bertambahnya iuran kredit perumahan.

Padahal hakikat puasa harusnya dipahami oleh mereka. Bahwa kesusahan masyarakat adalah kesusahan para penguasa. Dan sebaliknya hancurnya penguasa berarti rapuhnya masyarakat. Baiknya penguasa berarti kokohnya masyarakat.
Ketika penguasa dan masyarakat dijauhkan dari Islam maka yang ada hanyalah kesempitan hidup karena konspirasi sistem kufur Barat. Semoga semuanya kembali kepada sistem Islam dimana keadilan dan kemakmuran itu selalu merata dari bulan ke bulan dalam naungan Syariah Islam. Sehingga tujuan puasa menjadi pribadi yang bertakwa bisa diraih Kaum Muslimin[]

Bumi Allah SWT, 12 Juni 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *