Eksisnya Ritual Kendi Nusantara Berbau Klenik

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Astri Ummu Taqiyuddin

 

Ritual kendi Nusantara, ritual yang tak pernah dibayangkan bisa terjadi. Entah dari mana arahan tersebut, apakah arahan dari makhluk gaib ataukah dari manusia. Pemberitaan ini tentu saja membuat kita terkejut. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja pemberitaan ini jadi ramai diperbincangkan dan menuai kontroversi. Ritual tersebut diadakan di titik nol Ibu Kota Negara, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Ritual Kendi Nusantara dilakukan dengan cara menyatukan tanah dan air yang dibawa oleh 34 gubernur dari daerah masing-masing yang kemudian disatukan dalam kendi Nusantara.

Dalam prosesi Kendi Nusantara di titik nol Ibu Kota Negara (IKN) dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo, dan diikuti oleh 34 kepala daerah yang bertujuan sebagai wujud persatuan kuat untuk pembangunan IKN.(Wartaekonomi.co.id, 14 maret 2022)

Salah satu gubernur yang mengikutinya yakni Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Ia ikut menyiapkan sesajen tanah dan air untuk ritual Kendi Nusantara tersebut. Bahkan menurut Ganjar Pranowo, ini kultural dalam kebudayaan, semua daerah pasti punya sendiri-sendiri, ada nilai-nilai luhur yang bisa dilakukan jika ada pembangunan apapun pasti ada ritual dan upacara. Ia mengatakan, seperti halnya orang Jawa akan membuat rumah maka diatasnya akan ada pisang, beras, bendera merah putih. Dan itu tradisi, soal kultural dalam bingkai persatuan.

Bukan hanya itu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga dikabarkan ikut serta dalam ritual Kendi tersebut, dengan membawa tanah dari daerah Akuarium, Jakarta Utara, untuk pembangunan IKN. Serta Anies Baswedan mempercayai jika tanah dari daerah Akuarium akan menjadi masa depan baru bagi kesejahteraan dan kemajuan untuk seluruh rakyat.

Bukti Negara Masih Mengadopsi Hal-Hal Berbau Klenik

Sangat miris, jika dalam pelaksanaan ritual Kendi Nusantara tersebut meyakini dan berharap pada tanah dan air yang akan membawa kebaikan. Dan tidak meyakini dan berharap pada Allah Swt. yang telah menciptakan tanah, air, manusia, tumbuh-tumbuhan serta seluruh isi alam semesta ini.

Sungguh ini salah satu kekufuran yang sangat nyata, suatu kemaksiatan yang menyesatkan bagi umat, sebuah pelaksanaan ritual negara yang tanpa ada dasar hukumnya. Atas dasar apa sehingga ritual Kendi Nusantara diadakan bahkan menggunakan fasilitas negara, yang menghadirkan kepala negara yakni presiden dan para gubernur pemerintah daerah? Suatu kekufuran yang dipertontonkan di tengah publik yang seharusnya jika ingin melaksanakannya maka laksanakan di ruang pribadi (privat) agar laknat Allah Swt. jatuh pada pihak privat saja bukan pada semua.

Berdalih tradisi luhur dan kebudayaan mengakibatkan penyesatan dan perusakan akidah umat. Kejadian ini adalah bentuk kekufuran serta kemusyrikan yang diselenggarakan oleh negara, di mana ritual-ritual yang bertentangan dengan syariat dianggap sebagai tradisi kearifan lokal hingga melestarikan beragam ritual-ritual tersebut. Padahal tidak semua harus dilakukan, apalagi dilestarikan jika tradisi tersebut sampai bertentangan dengan hukum syariat Islam.

Maka jika suatu tradisi yang dilaksanakan jauh dari ajaran Islam atau tidak ada dalam ajaran Islam, bahkan sampai menyediakan sesajen (Hidangan makanan atau hidangan bentuk lainya), serta pembacaan doa-doa yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sungguh ini sangat jelas tidak boleh dilaksanakan bahkan melestarikannya, karena tradisi seperti ini hanya akan membawa bencana serta laknat dari Allah, sebab tradisi tersebut berbau kemusyrikan (menyekutukan Allah) dan tidak membawa keberkahan. Oleh karena itu, hal-hal berbau klenik yang bertentangan dengan syariat tidak selayaknya dilestarikan atas nama kearifan lokal dan budaya.

Sebagai umat muslim, kita tidak boleh menyekutukan Allah Swt. dengan sesuatu apapun itu, dikarenakan Allah zat yang berhak disembah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. ” Apabila kamu memohon, maka memohonlah kepada Allah Swt.. Dan apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah,”.(HR Tirmidzi)

Oleh sebab itu, kita sebagai umat muslim selalu berhati hati melakukan kegiatan yang Berkaitan dengan perkara akidah, jangan sampai mengikuti jalur yang dapat membuat langkah kaki tergelincir meskipun itu hanya selangkah dikarenakan akidah Islam adalah kekuatan pondasi dasar keimanan yang harus dijaga kekokohannya.

Bahkan Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman dalam QS Az-zumar : 65 ” Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang orang sebelummu Sungguh, apabila kamu berbuat syirik pasti akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk kepada orang orang yang merugi”.

Seharunya pemerintah mampu menjaga akidah masyarakatnya. Di negeri ini yang masyarakatnya mayoritas muslim, tetapi ajaran Islam yang menyeluruh banyak yang tidak diterapkan. Padahal pemerintah berperan besar dalam mengurusi rakyatnya agar tidak mengadopsi tradisi-tradisi yang bertentangan dengan ajaran Islam, maka harusnya pemerintah mengatur kehidupan lingkungan bermasyarakat dalam bernegara di kehidupan sehari-hari dengan ajaran Islam. Agar pondasi akidah umat terjaga dan tidak mudah tergadaikan oleh hal-hal tradisi yang berbau klenik hingga menyesatkan.

Bobroknya Sistem Sekularisme Yang Diterapkan Saat Ini

Namun berharap terjaganya akidah umat saat ini hanyalah mimpi belaka, sebab sistem yang saat ini diterapkan yakni sistem yang beraqidah sekularisme (pemisahan agama dalam kehidupan) yang bobrok akan semua peraturan dan kebijakannya. Di sistem saat ini yang diterapkan bukannya menjaga dan melindungi umat justru semakin terlihat menyesatkan umat dan menyengsarakan rakyat, apalagi rakyat kecil yang semakin ditindas dengan berbagai aturan yang mencekik ekonomi dan kondisi masyarakat saat ini.

Sangat jelas faktanya, jika semakin hari semakin terlihat kebobrokan sistem yang diterapkan di negeri ini, hanya mementingkan pemilik jabatan dan kekuasaan. Sungguh miris sistem dalam negri ini jabatan dan kekuasaan disalah gunakan demi keuntungan pribadi tanpa memikirkan keadaan seluruh masyarakatnya, yang banyak hidup dalam ekonomi yang sulit serta hidup dalam kesengsaraan akibat penindasan secara halus melalui berbagai kebijakan yang tak punya hati nurani.

Sistem Islam Adalah Solusi Bagi Umat

Berbeda halnya dalam sistem Islam. Islam memandang perkara akidah harus dijaga sebab setiap umat wajib menaati syariat. Maka sepatutnya tradisi dan budaya yang ada harus dipilah pilih, mana yang sesuai syariat dan mana yang tidak. Jika ada yang bertentangan maka tidak boleh dilaksankan. Jikapun ingin disatukan maka, tradisi harus menyesuaikan dengan syariat, bukan syariat yang mengikuti tradisi. Dikarenakan menyatukan antara yang hak dan batil itu tidaklah bisa dan tidak boleh sama sekali disatukan.

Jika sistem Islam diterapkan dalam lingkungan kehidupan bernegara, maka akidah umat mampu terjaga dan dapat dirasakan secara nyata. Sebagaimana firman Allah Swt. yang mampu membuat kokoh aqidah umat, “Dan apabila dikatakan kepada mereka : ikutilah wahyu yang diturunkan Tuhan kepada kalian, mereka justru mengatakan : tidak, tetapi kami tetap mengikuti apa yang kami dapatkan dari nenek-nenek moyang kami, maka Allah katakan : Apakah mereka akan tetap mengikutinya meskipun nenek moyang mereka itu tidak memiliki pemahaman sedikitpun dan juga tidak mendapatkan hidayah?” (QS. Al Baqarah :170)

Bahkan dalam Islam negara wajib menjaga akidah umat serta mengurusi umat, dan negara akan menindak tegas para dukun yang membawa pemahaman serta pemikiran sesat yang dapat merusak akidah umat. Juga negara tidak akan membiarkan berbagai tradisi dan budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam dilestarikan. Inilah bukti jika sistem Islam diterapkan maka akidah umat akan terjaga dan tak mudah tergadaikan dari penyesatan serta kekufuran para penganut kesyirikan.

Maka saatnya kita sebagai umat Islam harus sadar untuk ikut memperjuangkan tegaknya sistem Islam dalam naungan khilafah agat dapat menjaga akidah serta mensejahterakan seluruh umat manusia.

Wallahu a’alam bishowab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.