Edukasi Kurang, Berujung Penolakan

Oleh: Siti Maftukhah, SE. (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Sebuah video dengan durasi 1,21 menit yang menunjukkan penghadangan mobil ambulance yang mengangkut jenazah pasien corona, beredar luas di Pasuruan. Dalam video terlihat puluhan warga berkumpul di tepi jalan di pintu tol Pasuruan.

Aksi penghadangan diduga karena pihak keluarga berencana mengambil jenazah untuk dimakamkan di TPU Mancilan karena dekat rumah jenazah. Pihak Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Pasuruan melalui juru bicaranya dr. Shierly Marlena mengatakan rencananya jenazah akan ditempatkan di TPU Pohjentrek karena sebelum meninggal , pasien sempat dirawat di RSSA Malang dan sempat menjalani tes swab. Dan hasil tes swab, pasien positif corona.

Pemilihan TPU juga dengan pertimbangan, yaitu memenuhi persyaratan pemakaman jenazah pasien Covid-19. Selain jaraknya 500 meter dari pemukiman juga tidak sesak.

Setelah ada penjelasan dari Gugus Tugas, barulah keluarga pasien menerima keputusan pihak terkait untuk memakamkan jenazah sesuai protokol penanganan Covid-19. (https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-5056384/heboh-pengadangan-ambulans-jenazah-positif-corona-di-kota-pasuruan?tag_from=wpm_nhl_15)

Mungkin itu bukan kali pertama penolakan masyarakat terkait penanganan pasien yang meninggal akibat corona. Semua terjadi karena edukasi yang kurang di tengah-tengah masyarakat.

Pemerintah sendiri sebenarnya kedodoran menghadapi wabah yang telah menghantam dunia dan telah menelan banyak korban ini. Pemerintah terlihat tidak siap untuk menghadapi wabah virus ini. Maka tak heran jika masyarakat pun juga banyak yang tidak paham dan tidak mengerti terkait ganasnya wabah ini.

Ditambah dengan kebijakan pemerintah yang bisa dibillang plinplan, semakin menambah bingung masyarakat dalam menghadapi wabah ini. Kebijakan larangan mudik, namun moda transportasi dibuka. Kebijakan penutupan tempat ibadah, tapi pasar dan mall malah dibuka. Dan masih ada beberapa kebijakan yang dibuat oleh penguasa yang saling berlawanan.

Itu semakin membuktikan bahwa penguasa yang mendasarkan cara menjalankan kepemimpinan dengan asas sekuler, tidak mampu mengatasi problem yang dihadapi dengan tuntas. Asas ini muncul dari kepandaian akal manusia. Maka tak heran dari asas ini muncul aturan atau tata kelola yang juga berasal dari kehendak manusia. Manusia dengan segala keterbatasannya, tak layak untuk membuat aturan terkait perikehidupan manusia.
Maka layak, kebijakan yang muncul dari model kepemimpinan sekuler kapitalis adalah kebijakan yang saling tidak bersesuaian, kebijakan yang plinplan. Karena didasarkan pada akal manusia semata.

Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang mendasarkannya dengan asas/akidah Islam. Sehingga kepemimpinannya dibangun dengan pemahaman bahwa ada pertanggungjawaban kelak di akhirat (kepemimpinan nuansa ukhrawi). Kepemimpinan yang sesuai dengan aturan Allah SWT. Karena pertanggungjawaban itu kepada Allah SWT.

Sehingga penguasa yang seperti ini, penguasa dengan model kepemimpinan nuansa ukhrawi, akan senantiasa membuat kebijakan yang benar, kebijakan yang sesuai dengan aturan Allah SWT.

Dalam Islam, penanganan wabah dilakukan dengan merujuk apa yang dulu pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, yaitu dengan melakukan karantina atau lockdown untuk mencegah wabah menular ke wilayah yang lain. Bahkan Rasulullah membangun tembok di sekitar wilayah wabah untuk memastikan perintah karantina itu dilaksanakan. Rasulullah SAW juga mengingatkan kepada umatnya untuk tidak mendekati wilayah yang sedang terkena wabah, dan sebaliknya jika berada di wilayah yang terkena wabah maka dilarang untuk keluar.
“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu” (HR. al-Bukhari).

Saat wilayah dikarantina, penguasa memberikan pelayanan kepada umat yang dikarantina, dengan mencukupi kebutuhan selama masa karantina, terutama kebutuhan pangan.

Penguasa juga memilah-milah mana warga yang sakit dan tidak. Untuk yang sakit diobati dengan layanan kesehatan yang memadai. Sedangkan yang sehat dibiarkan beraktivitas sehingga ekonomi pun tidak lumpuh.
Selain melakukan karantina, penguasa saat ini juga harus mengkampanyekan pentingnya keimanan, ilmu dan taubat dalam kondisi wabah ini. Selain juga memberi edukasi dan informasi terkait wabah Covid-19.

Penguasa juga harus memiliki kemampuan dan kendali terhadap arus informasi yang beredar di tengah masyarakat. Penguasa harus benar-benar menjaga agar rakyat terlayani dengan benar saat wabah (pun di saat normal). Wallahu a’lam[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *